Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Tantangan NU Bojonegoro di Era Post Truth

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 3 Agustus 2025 | 20:38 WIB
Fauzan Fuadi, Ketua DPC PKB Bojonegoro (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
Fauzan Fuadi, Ketua DPC PKB Bojonegoro (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
FAUZAN FUADI
Ketua DPC PKB Bojonegoro, Anggota DPRD Jatim Dapil Bojonegoro Tuban

 

NU Bojonegoro punya gawe seremonial cukup besar. Ya, apalagi kalau bukan Pelantikan Serentak pada tanggal 03 Agustus 2025 ini. Kepengurusan di level kabupaten mulai dari Syuriyah dan Tanfidiyah PCNU, PC Ansor, PC Fatayat, hingga PC IPNU dan IPPNU akan mengikuti semacam pengukuhan kepengurusan secara bersama-sama.

Informasinya, Ketua Umum dan Sekjend PBNU dijadwalkan hadir langsung. Bahkan sejumlah pejabat kementerian kabarnya juga akan hadir ke bumi malawapati.

Namun dibalik gemerlap dan kemeriahan seremonial dimaksud, tersirat berbagai pertanyaan, diantaranya menyangkut bagaimana kedepan para petinggi NU dan badan-badan otonomnya ini mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki guna menghadapi tantangan zaman di masa ini?

Kebenaran Baru

Sesuai dengan cita-cita ideologisnya, NU tentu concern terhadap tugas-tugas menegakkan syiar Islam ala Ahlussunnah Waljama’ah yang implementasinya bisa merambah pelbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai ormas, NU dikenal mempunyai kiprah di dunia kesehatan, pendidikan, keagamaan dan tentu saja sosial budaya. Kiprah-kiprah tersebut, hari ini mendapat tantangan serius seiring perkembangan teknologi informasi komunikasi yang semakin canggih.

Ambil contoh. Tiba-tiba beranda salah satu akun di platform sosial media yang saya punya, melintas sebuah video yang saya yakini 100 persen content tersebut hoaks. Digambarkan disitu kapal megah melaju gagah dibawah Jembatan Sosrodilogo dan tampak ratusan penumpang berteriak-teriak histeris bahagia.

Secara teknis, content tersebut tidak tampak seperti hoaks. Visualisasi yang begitu riil dan apik. Tapi secara faktual, kita semua tahu kapal itu tidak pernah melintas. Mungkin dampak negatif dari contoh yang saya sebut diatas bahkan sama sekali tidak ada, alih-alih malah seperti sebuah kreatifitas yang patut kita banggakan. Akan tetapi, point utama yang ingin saya tekankan pada contoh tersebut bukan pada dampak melainkan kekhawatiran akan fakta kebenaran baru yang tersaji dalam kenyataan objektif yang bertolak belakang dengan kenyataan berulang-ulang yang disuguhkan kepada kita secara virtual.

Baca Juga: Akankah Palestina Segera Merdeka?

Ya, inilah yang disebut dengan the illusory truth effect. Kebohongan yang disebarkan berulang-ulang, lambat laun ia akan dipercaya menjadi kebenaran. Mungkin kalau content-nya tidak terlalu berbahaya tidak terlalu merisaukan bagi kita. Tapi bagaimana kalau content yang tersebar berantai itu content yang berbahaya?

Era post truth tidak lagi menekankan kebenaran yang sesungguhnya, apakah itu sesuai dengan norma hidup bernegara, bermasyarakat, bahkan oleh kaidah agama sekalipun. Ia menerobos sekat-sekat apapun, dan berlindung dibalik rezim algoritma yang agamanya telah berganti menjadi kebutuhan untuk viral dan lalu monetisasi.

Maka jangan kaget, bila belakangan ini kita sering menjumpai FYP di akun kita content-content yang asal bisa viral maka posting saja langsung, soal resiko pikir nanti. Ada content seorang influencer makan daging babi sambil baca bismillah. Barusan ada juga content creator mempromosikan minuman keras di Kota Malang dengan caption yang provokatif dan jauh dari edukasi. Meskipun akhirnya content- content tersebut ditindak oleh penegak hukum, bukan berarti ancaman peristiwa sejenis tidak akan lagi terjadi.

Peran NU

Dari elaborasi diatas, maka dalam konteks inilah dituntut peran strategis NU berkolaborasi dengan negara untuk melakukan edukasi secara terus menerus. Setidaknya pada level daerah, PCNU Bojonegoro bisa memulai mengorkestrasi sumberdaya yang dimiliki untuk ambil bagian dalam menghadapi tantangan era post truth ini dengan aksiaksi konkret. Secara umum, NU Bojonegoro mempunyai banyak prospek untuk memainkan tugas ini di barisan paling depan.

Ditinjau dari aspek sosiologis, warga NU di Bojonegoro pastinya adalah mayoritas. Dari 28 kecamatan yang ada, hampir semuanya telah berdiri kantor-kantor MWC NU yang secara tidak langsung menandakan aktifitas keorganisasian dan keummatan yang berjalan dengan baik. Kantor PCNU bahkan berdiri diatas lahan yang sangat luas, disamping Rusunawa NU dan kampus kebanggaan bersama yakni Unugiri.

Di bidang pengembangan ekonomi dan bisnis, bahkan MWC NU Ngasem sukses membuat BMT NU yang hari ini namanya telah dikenal dimana-mana karena berbagai core bisnis yang sudah dirintisnya.

Selain aset-aset potensial diatas, tentunya masih terdapat aset lainnya yang membanggakan, baik yang perlu dilakukan revitalisasi atau bahkan yang sudah eksis berkiprah. Sebut saja di bidang pendidikan formal dalam naungan Ma’arif hingga di bidang kesehatan.

Dalam dunia dakwah, meskipun tidak secara langsung menjadi representasi struktural NU, keberadaan mubaligh-muballigh asal Bojonegoro juga membuat kota ini layak berbangga. Ketika dakwah dengan pemanfaatan media digital belum seramai saat ini, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilunnajah Simo Kanor Bojonegoro telah merajai kanal Youtube, dan bahkan masih sangat eksis hingga saat ini ketika teknologi kecerdasan buatan (artifisial intelegent) telah mengambil-alih sebagian besar tugas manusia. Belakangan, mulai viral juga KH. Safarun (Lek Run) asal Megaleh Kedungadem dengan gaya ceramahnya yang khas.

Pondok pesantren besar dengan jumlah santri ribuan juga terdapat di kabupaten dengan APBD tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Surabaya ini. Pondok Pesantren Attanwir Talun Sumberejo, Pondok Pesantren Abu Dzarrin, Pondok Pesantren Nurul Falah Sumbertlaseh Dander dan lain-lain.

Baca Juga: Opini: Anak Kita di Simpang Jalan

Berbagai potensi yang saya deskripsikan diatas, alangkah dahsyatnya ketika diorkestrasi menjadi sebuah gerakan kolektif yang saling mendukung potensi satu sama lain. Kolaborasi antar stakeholder yang mengelola aneka potensi yang ada itu,bukan tidak mungkin sekali melangkah akan menghasilkan banyak produktifitas sekaligus. Ibarat dalam satu tarikan nafas, banyak hal bisa dikerjakan langsung.

Menyelesaikan tantangan di era digitalisasi adalah awal langkah untuk menghadapi tantangan-tantangan lain yang muncul sebagai konsekuensi dari zaman yang terus berubah. Kunci lainnya tentu solid dan kompak. Momentum pelantikan bersama kali ini semoga tidak saja menjadi ajang pengukuhan kepengurusan, tetapi juga bisa mengakrabkan satu sama lain sesuai dengan perannya masing-masing untukbersama-sama memajukan NU Bojonegoro. Selamat Sang Dirijen, Dokter Kholid Ubed. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#PC IPNU #nahdlatul ulama #kenyataan #fauzan fuadi #sosial media #pcnu #fyp #pbnu #kebenaran baru #fakta #ippnu #bojonegoro #pc ansor #kebenaran #post truth #media sosial #tantangan zaman #nu #PC Fatayat NU