‘’Waktu tinggal lima bulan. Saya ingin memberi yang terbaik untuk rakyat,’’
Kata-kata itu diucapkan Bupati Wahono kepada semua jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Bojonegoro yang diunggah di akun Instagramnya.
Wahono resah karena serapan anggaran di OPD masih rendah. Padahal, waktu penyerapan sudah mepet. Hanya tersisa lima bulan lagi. Maka, sebagai orang nomor satu di Pemkab Bojonegoro dia memaksa OPD agar segera melakukan serapan. Yakni, dengan menjalankan program yang sudah disusun di APBD 2025.
Memang selama 2025 ini belum ada pembangunan sama sekali. Masyarakat sangat di riuh di media sosial. Menanyakan kepada pemerintah kapan jalan mereka akan dibangun. Kapan gedung sekolah diperbaiki. Sebab, sudah banyak yang rusak.
Tidak berselang lama, laman LPSE Bojonegoro pun muncul sejumlah paket lelang proyek fisik. Tidak tanggug-tanggung jumlahnya ada 24 paket dengan nilai anggaran yang cukup fantastis.
Kini banyak mata tertuju ke laman LPSE Bojonegoro tempat di mana proyek-proyek itu dilelangkan (tender). Sebab, nilai proyek yang cukup fantastis membuat banyak pengusaha baik lokal maupun luar daerah ingin mengikutinya.
Sejak enam tahun terakhir tender proyek di Bojonegoro banyak diikuti oleh pengusaha luar daerah. Tidak sedikit dari mereka yang berhasil menang tender dengan nilai belasan hingga puluhan miliar rupiah.
Tender memang bisa diikuti oleh semua perusahaan darimana saja di Indonesia. Selama syaratnya memenuhi. Hal itu sudah berlangsung sejak lama.
Namun, banyaknya pengusaha luar daerah yang menang tender dengan nilai fantastis membuat pengusaha lokal tidak tenang. Sebab, merasa ketinggalan menikmati kue pembangunan di daerahnya sendiri.
Sebagai orang lokal mereka ingin diutamakan. Setelah itu, baru orang luar daerah.
Namun, tender tidak bisa demikian. Siapa menang dia yang dapat. Yang kalah harus legawa.
Namun, kenapa kontraktor luar daerah sangat tertarik ikut tender proyek di Bojonegoro? Padahal, semua daerah di Indonesia memiliki proyek kontruksi. Misalnya di Tuban, Lamongan, Blora, Ngawi dan semua ada proyeknya.
Tapi Bojonegoro tetap menjadi magnet tersendiri bagi para pengusaha konstruksi itu?
Tidak lain tak bukan karena persaingan tender di Bojonegoro lebih sengit dibanding daerah lain. Jika mencermati laman LPSE Bojonegoro, persaingan tender fisik di Bojonegoro sangat sengit.
Misalnya, paket rehabilitasi Puskesmas Bojonegoro dengan nilai pagu Rp 976.220.000. Jumlaah perusahaan yang mengikuti lelang paket itu mencapai 148 perusahaan. Dari jumlah itu yang ikut melakukan penawaran sebanyak 25 perusahaan.
Penawaran harganya diturunkan secara ugal-ugalan. Posisi tertinggi menawar dengan sangat rendah, dari pagu anggaran turun hingga 23,5 persen. Meskipun tidak menang, pemenangnya juga turun tidak jauh dari nilai itu, 20 persen dari pagu.
Bandingkan dengan lelang di Tuban. Misalnya, paket peningkatan saluran drainase dan trotoar Jl Raya Pakah-Ponco Segmen III dengan nilai pagu Rp 1.624.750.000. Lelang itu diikuti 14 perusahaan dengan hanya 2 penawar. Penawaran harganya pun sangat minim, turun di kisaran 1 persen.
Begitu juga di Blora. Paket Rehebilitasi Jembatan Temuwoh Ruas Jalan Trembulrejo-Rowobungkul Kecamatan Ngawen dengan nilai Rp 9.536.290.141.
Tender paket itu diikuti 30 perusahaan dengan hanya 1 penawar. Perusahaan itu menawar dengan penurunan harga yang sangat minim, 2 persen dari nilai pagu.
Persaingan tender yang sengit di Bojonegoro itu memancing minat para kontrakor luar daerah untuk ikut bertarung. Mereka siap menurunkan harga semurah-murahnya agar bisa menang tender. Meskipun tidak semua penawaran dengan harga terendah menang.
Harga proyek yang terlalu rendah dari pagu anggaran cukup berisiko bagi OPD yang menangani. Risikonya adalah proyek yang dikerjakan rawan tidak selesai. Hal-hal seperti itu sudah sering terjadi.
Harga rendah itu tentu menggerus profit yang akan diperoleh kontraktor. Bahkan, sering kali terjadi kontraktor mengalami kerugian. Akibatnya, mereka pilih meninggalkan proyek yang tengah dikerjakan daripada boncos.
Tapi apapun itu, tender proyek fisik di Bojonegoro sangat menarik diikuti. Sebab, Bojonegoro memiliki APBD yang sangat besar. Tentu, proyek pembangunannya juga sangat banyak. (Nurkozim)
Editor : M. Nurkhozim