Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Religiusitas dan Residu Pascalebaran

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 13 April 2025 | 23:00 WIB
Photo
Photo

 

Oleh:
Nono Warnono
Pegiat pendidikan, sastra, dan sosial budaya di Sanggar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)

 

SEBAGAI sebuah tradisi nan berkelindan dengan interaksi nuansa religius, betapa tradisi lebaran bermakna strategis dalam berbagai dimensi peradaban manusia. Berawal dari kewajiban ibadah puasa di bulan Ramadhan sebagai komunikasi vertikal antara hamba dengan Rabbnya, berkembang menjadi komunikasi multi interaksi. Tidak hanya sebatas penghambaan secara transenden (hablum minallah), namun juga interaksi horisontal antar sesama makhluk (hablum minannas).

Idul fitri yang semula bernuansa religi, nan menandai kefitrahan manusia bermetamorfosis menjadi sebuah tradisi atau budaya yang disebut sebagai lebaran. Sebuah momentum yang tidak hanya bernuansa kegiatan keagamaan ansich, tapi juga momentum memobilisasi segala sumberdaya di berbagai bidang kehidupan.

Bimakna religiusitas keagamaan karena lebaran yang dikemas dalam “unjung-unjung” sebagai manifestasi silatrahmi yang memang dikedepankan oleh perintah agama dan bernilai saling memuliakan sesama hamba (humanism). Bernilai melestarikan budaya dan menggerakkan sumber daya karena integrasi tradisi budaya tersebut melibatkan mobilitas sumberdaya manusia (human resources) dan sumber daya lainnya terutama  ekonomi.

Keniscayaan ritus mudik yang memobilisasi manusia beserta tradisi dan berbagai dimensi sosial ekonomi sebagai bukti konkrit yang sudah membudaya selama ini. Manusia kembali kehabitatnya, bersilaturahmi, dan saling berbagi sebagai sebuah kesadaran yang sublim untuk hidup bersama dalam sebuah ekosistem yang saling memaknai eksistensinya.

Sungguh bukan kebetulan jikalau buah dari puasa adalah tumbuhnya rasa saling berbagi, karena puasa tidak hanya berlapar dahaga, tapi mengandung makna merasakan bagaimana orang orang miskin menjalani beratnya hidup. Proses puasa yang dapat menghasilkan kecerdasan sosial (social quotian) tercermin dalam penunaian zakat fitrah nan terefleksi dalam ritus lebaran.

Idul fitri yang oleh waliullah diterjemahkan sebagai ritus lebaran tak sekedar momentum religius tapi sekali lagi juga bermakna dan berimplikasi multidimensi. Diawali dengan fenonena ritus mudik hingga arus balik yang menggerakkan berbagai dimensi kehidupan.

Saking istemewanya momen arus mudik dan arus balik lebaran, hingga pemerintah harus memastikan tradisi tahunan tersebut berlangsung lancar. Mulai perbaikan berbagai infrastruktur, penyiapan moda transportasi hingga rekayasa lalu lintas, semua bertujuan ritus mudik-balik lebaran berlangsung sesuai harapan.

Selebihnya, betapa mudik dianggap begitu berjasa menggerakkan ekonomi, mendistribusikan kue ekonomi dari ibu kota ke kampung-kampung sehingga berdampak di berbagai sektor dan mendongkrak pendapatan masyarakat lokal. Mulai dari wahana kuliner, tempat wisata hingga jasa transportasi.

Di tengah mlempemnya transaksi ekonomi karena dampak kebijakan efisiensi belanja pemerintah, tidak mengurangi secara signifikan antusiasme masyarakat untuk merayakan lebaran dengan berduyun mudik ke kampung halaman yang sudah dianggap ritual suci. Sungkem kepada orang tua, berjabat tangan dengan handai taulan hingga ziarah kubur ke para leluhur.

Selain dampak positif, tradisi dan budaya lebaran yang dapat menggerakkan denyut nadi ekonomi dari metropolitan hingga pedesaan. Tak dapat dipungkiri riuh rendah ritual lebaran juga membawa dampak negatif yang menyertai pra, ketika, hingga pascalebaran.

Munculnya arus urbanisasi dari desa ke kota berpotensi memunculkan berbagai masalah baru. Mudik sekaligus menimbulkan benturan budaya urban dan rural budaya lokal yang dibawa serta. Sehingga muncul apa yang disebut oleh Homi Bhabha (1994) sebagai hybridity, yakni negosiasi bercampuran antar budaya. Representasi romantis hegemoni budaya lokal dengan nilai nilai tradisional yang identik dengan identitas kolektif ideal menjadi terkontaminasi. Sehingga arus balik bertranspormasi menjadi medan pertarungan antara kekuatan ekonomi dan budaya.

Lebaran membentuk komunitas transnasional, nilai lokal beradaptasi dengan dinamika global. Kehidupan konsumtif menjadi fenomena mencolok. Flexing dengan berbagai simbul kemewahan menjadi "budaya" baru, pulang dari kota ke desa tempat kelahirannya memamerkan kepada warga kampungnya bahwa mereka telah "sukses" hidup mengembara di kota.Ini adalah fenomena teranyar peradaban dengan identitas baru sebagai manusia postmodern.

Meski harus merogoh kocek dalam-dalam, flexing dengan menyewa di rental iphone teknologi terkini berharga puluhan juta seperti sebuah keniscayaan. Tak mampu membeli pakaian bermerek pun dapat menyewa di rental baju premium. Tak heran jika saat lebaran rental persewaan baju peak season.

Trend di atas menandai bergesernya makna lebaran yang sarat nilai-nilai agung religiusitas mudik lebaran ke kampung halaman dengan sejatinya rasa kebahagiaan, menjadi momentum flexing pamer “kebahagiaan dan kesuksesan palsu” yang sejatinya menjadi beban masalah finansial saat pascalebaran.

Mereduksi residu pascalebaran seperti di atas menjadi sebuah keniscayaan, untuk memulangkan kembani makna lebaran dan idul fitri pada khitah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial (homo socius). (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Sosial #komunitas #Budaya #religius #Lebaran #interaksi #komunikasi #keagamaan #idul fitri #kampung halaman #ramadhan #mudik #peradaban manusia #Tradisi