Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Lailatul Qadar di Era Digital

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 24 Maret 2025 | 00:00 WIB
(Dok. Getty Images)
(Dok. Getty Images)

 

Oleh:
Muhammad Ali Murtadlo
Dosen IAIN Ponorogo dan Alumni MTsAI At-Tanwir Bojonegoro

 

LAILATUL Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, selalu menjadi misteri yang menggugah keimanan umat Islam. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dengan mayoritas kecenderungan pada malam-malam ganjil, terutama malam ke-27.

Pandangan ini didasarkan pada berbagai hadis, salah satunya dari Imam Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah pada sepuluh malam terakhir dengan harapan mendapatkan keberkahan malam tersebut.

Beberapa ulama memiliki pandangan berbeda. Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa Lailatul Qadar bisa bergeser setiap tahunnya dan tidak selalu berada pada tanggal yang sama.

Imam Al-Ghazali bahkan mencoba mengaitkan kemunculan Lailatul Qadar dengan metode perhitungan tertentu, menyebut bahwa jika Ramadan dimulai pada hari tertentu, maka kemungkinan besar Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke sekian.

Sementara itu, Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menegaskan bahwa hikmah dari ketidaktahuan umat Islam mengenai waktu pasti Lailatul Qadar adalah agar mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang bulan Ramadan, bukan hanya pada malam tertentu saja.

Tantangan di Era Digital

Di era digital saat ini, tantangan dalam meraih keberkahan Lailatul Qadar semakin kompleks. Jika dahulu masyarakat lebih mudah mengisolasi diri dalam ibadah tanpa gangguan dunia luar, kini era digital menghadirkan distraksi yang begitu besar. Media sosial, aplikasi hiburan, dan tuntutan komunikasi digital sering kali menyita waktu dan perhatian, sehingga potensi untuk meraih malam yang penuh keberkahan ini menjadi semakin sulit.

Bahkan, ada fenomena sebagian orang lebih sibuk mengunggah ibadah mereka di media sosial daripada benar-benar merasakan kedalaman spiritual yang sejati. Ironisnya, sebagian dari mereka justru menghabiskan waktu di sepuluh malam terakhir dengan mengikuti tren online seperti diskusi panjang tentang tanda-tanda Lailatul Qadar tanpa benar-benar melaksanakan ibadah dengan khusyuk.

Pada sisi lain, era digital juga memberikan peluang besar bagi umat Islam untuk lebih optimal dalam mencari Lailatul Qadar. Akses terhadap berbagai kajian keislaman menjadi lebih mudah, memungkinkan seseorang untuk memahami keutamaan malam tersebut dengan lebih mendalam. Aplikasi pengingat ibadah, jadwal tahajud, serta forum diskusi keagamaan dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kualitas ibadah di sepuluh malam terakhir. Dengan pemanfaatan teknologi yang bijak, seseorang bisa memperbanyak amal shaleh dengan berdonasi secara online, mengikuti kajian daring, atau bahkan berbagi ilmu melalui media sosial secara bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukanlah penghalang, melainkan sarana yang dapat dioptimalkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Mengatur Penggunaan Gadget

Salah satu tantangan terbesar umat Islam dalam meraih Lailatul Qadar di era digital adalah mengendalikan diri dari berbagai bentuk distraksi yang datang dari layar gawai.

Sikap wara’ (menjaga diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat) dan mujahadah (bersungguh-sungguh dalam ibadah) menjadi sangat relevan untuk diterapkan dalam konteks ini. Seseorang dapat menetapkan aturan bagi dirinya sendiri, seperti membatasi penggunaan media sosial setelah waktu Isya atau bahkan melakukan detoks digital untuk benar-benar merasakan kekhusyukan ibadah. Jika Rasulullah saw. melakukan i’tikaf sebagai bentuk pengasingan spiritual untuk meraih Lailatul Qadar, maka umat Islam di era digital dapat meniru konsep ini dengan mengisolasi diri dari dunia maya selama sepuluh malam terakhir Ramadan.

Sebagian ulama kontemporer juga menyoroti bahwa Lailatul Qadar bukan hanya tentang malam yang penuh keberkahan dalam arti literal, tetapi juga tentang makna transendental di mana seseorang menemukan momen pencerahan spiritual.

Dalam tafsir modern, Lailatul Qadar sering dikaitkan dengan momentum perubahan hidup seseorang, yakni ketika seseorang mendapatkan hidayah yang mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Dalam konteks ini, Lailatul Qadar bisa diartikan sebagai malam di mana seseorang benar-benar mengalami kesadaran spiritual mendalam yang mendorongnya untuk berubah secara total. Hal ini sejalan dengan konsep Al-Qadr sebagai ketetapan, di mana Allah menetapkan takdir seseorang berdasarkan amal perbuatannya di malam tersebut.

Pada akhirnya, meraih Lailatul Qadar bukan hanya soal menemukan tanggal yang tepat, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya secara spiritual dan mental untuk menyambut malam tersebut. Para ulama klasik dan kontemporer sepakat bahwa ibadah yang ikhlas dan berkelanjutan jauh lebih penting daripada sekadar mencari tanda-tanda fisik Lailatul Qadar.

Di era digital, di mana kebisingan informasi dan distraksi semakin menguasai kehidupan manusia, tantangan utama adalah bagaimana seseorang bisa tetap fokus pada tujuan ibadahnya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bahwa meraih keberkahan Lailatul Qadar bukan hanya soal menunggu datangnya malam itu, tetapi juga soal bagaimana seseorang menata hidupnya agar selalu berada dalam jalur spiritual yang benar. Dengan demikian, keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya dirasakan dalam satu malam, tetapi menjadi titik awal transformasi spiritual yang membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#malam #ramadan #lailatul qadar #daring #hadis #bojonegoro #era digital #Online #ibadah #media sosial #Hiburan