Oleh:
Nono Warnono
Pegiat bahasa sastra dan sosial budaya di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)
ERA digital memunculkan dinamika kehidupan semakin cepat berubah dalam banyak aspek masyarakat global. Lompatan teknologi semakin super canggih, banjir informasi menggenangi tata sosial kehidupan. Menjadikan peradaban manusia berubah total. Perubahan dalam makna yang positif maupun kontraproduktif.
Masyarakat yang merespon kemajuan teknologi dengan langkah cepat dan tepat akan bisa survive dalam interaksi berkehidupan global di tengah era disrupsi. Sebaliknya, kalangan yang ketinggalan dalam menyongsong perubahan berpotensi tergilas oleh jaman.
Diantara yang mengalami perubahan ekstrim dalam dunia digital adalah sektor perekonomian. Salah satu bidang yang mengalami perubahan super cepat, baik menyangkut perdagangan, hingga keuangan. Pasar, terutama pasar tradisional selama ini telah menjadi penyangga perekonomian yang sangat strategis. Rakyat kebanyakan (grassroots) banyak hidup dari mobilitas perdagangan di pasar tradisional. Baik penjual maupun pembeli berkelindan untuk berinteraksi di ranah ekonomi yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).
Namun datangnya era digital, menjadikan sebagian pelaku pasar tradisional terpental. Sedikit demi sedikit kalangan yang selama ini bergulat dengan kehidupan pasar tradisional mulai dihinggapi rasa gusar. Pedagang yang selama ini laris berjualan, lambat laun tereduksi semakin berkurang para pelanggannya. Komoditas jualannya terasa lesu tersebab semakin sepinya para pembeli. Perlahan namun pasti pasar tradisional serasa semakin sepi, meski momen lebaran semakin dekat seperti saat ini.
Kondisi menggusarkan tersebut ditengarai oleh khalayak umum sebagai akibat dari semakin ramainya kegiatan ekonomi di dunia maya. Pasar yang terjadi secara online semakin mendesak eksistensi pasar tradisional. Membanjirnya berbagai platform pasar digital menggiring orang untuk berbelanja secara online. Transaksi yang hanya dengan memanfaatkan gadget sudah bisa teratasi. Tidak butuh transportasi kesana kemari, tak usah berpeluh, menghemat tenaga, serta efisien waktu.
Efisiensi transaksi dalam dunia digital membawa perubahan perilaku peradaban yang begitu cepat di berbagai dimensi kehidupan. Perubahan secara signifikan, bahkan dapat dikatakan berkebalikan seratus delapan puluh derajat. Tak ayal pasar tradisional yang selama ini bertransaksi dan berinteraksi secara konvensional langsung terkena dampak semakin minimnya penghasilan yang didapatkan.
Di Bojonegoro kondisi tersebut sudah semakin dikeluhkan para pedagang di berbagai pasar tradisional. Beberapa bulan terakhir mayoritas pedagang begitu gusar. Gusar karena transaksi semakin sepi meski di hari pasaran. Penghasilan terus berkurang tersebab omzet penjualan terus menyusut. Sehingga ikhtiar yang dilakukan belum sebanding dengan mahalnya biaya sewa lokal.
Keresahan semakin menyeruak ketika pengelola pasar juga dituding tidak optimal dalam menciptakan kondisi lingkungan. Bangunan yang semakin tak terawat dan lingkungan yang semakin tak kondusif. Menambah kegelisahan dan kegusaran para pedagang pasar tradisional hampir di semua kawasan.
Dalam kondisi dilematis ini para pedagang di pasat tradisional harus juga berintrospeksi diri. Harus berdagang nut jaman kelakone. Sesuai dengan jamannya. Sehingga tetap bisa berkompetisi dalam berbagai situasi. Di era digital, memanfaatkan kemajuan teknologi dalam bertransakasi adalah sebuah keniscayaan. Sumber daya manusia (human resources) harus mendapatkan penguatan.Namun di sisi lain, pelaku pasar tradisional masih terkendala dengan kegagapan teknologi. Bahkan banyak yang belum melek teknologi. Mayoritas masih berdagang secara konvensional, meski hiruk pikuk pasar online sudah berada di depan mata.
Realita dilematis demikian sudah seharusnya diperlukan atensi dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder). Bersama mencari solusi agar pedagang di pasar tradisional tidak hanya menjadi komoditas politik, namun tak memperoleh sentuhan yang riil untuk mendapatkan terobosan jalan keluar.
Saatnya ada proses transformasi pasar tradisional yang lebih berkemajuan, agar tidak terpental di jagad digital. Tentu transformasi yang tetap membumikan nilai-nilai pasar tradisional. Tidak hanya urusan transaksi jual beli ansich. Bukan tetiba meminggirkan pelaku pasar tradisional hanya karena tidak melek teknologi. Pasar tradisional harus tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan, menjaga tradisi dan budaya sebagai warisan adi luhung. Pasar tradisional memiliki makna kearifan lokal (local genius), yang senantiasa harus tetap dilestarikan.
Dus, pasar tradisional adalah warisan para leluhur yang penting “dileluri” sebagai denyut nadi kehidupan. Eksistensinya terus dipelihara agar manusia tak tercerabut dari akar budayanya. Sekaligus dikelola sesuai jamannya, agar apa yang diramalkan oleh Sri Aji Jayabaya tidak terjadi. Ramalan tersebut adalah: bakal teka sawijining jaman, kali ilang kedhunge pasar ilang kumandhange. (Akan datang suatu jaman, sungai hilang lubuknya, pasar hilang kumandangnya). (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana