Majalah Newsweek Edisi Khusus terbitan tahun 2009 memuat salah satu artikel berjudul “Why the Election Mattered”. Paragraf awal dalam artikel yang ditulis oleh Gideon Rose, menegaskan apa yang sesungguhnya terjadi dalam kampanye-kampanye untuk pemilihan umum. Gideon Rose menjelaskan bahwa para kandidat dalam pemilu akan memberikan jawaban-jawaban yang lebih merupakan tindakan politik dibandingkan tindakan intelektual atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Hal ini tentu saja untuk mengaburkan perbedaan gagasan antara para kandidat dalam memperebutkan konstituen dalam momen-momen kunci.
Apa yang diungkapkan oleh Gideon Rose di atas merupakan wanti-wanti bagi kita, para calon pemilih. Dalam siklus kampanye pemilihan umum, kita dapat menitipkan harapan atas janji-janji dan ide para kandidat. Di sisi lain, kita dapat menaruh rasa ketidakpercayaan bahwa kampanye hanyalah sebuah retorika yang tidak berdampak bagi adanya kebijakan-kebijakan pasacapemilu. Jarak membentang antara retorika kampanye yang tidak berdampak dalam kebijakan pascapemilu, diwanti-wanti oleh Gideon Rose, sebagai siklus yang seringkali terjadi dalam proses pemilihan umum. Pemilihan umum, oleh karenanya, adalah instrumen untuk menitipkan harapan, sembari tetap harus memberikan ruang keraguan-raguan dan nalar kritis.
Generasi Z dan Pemilihan Umum
Data yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan bahwa 33,6% dari total DPT atau sebanyak 66.822.389 pemilih dalam pemilihan umum tahun 2024 adalah generasi milenial yang lahir antara tahun 1984 hingga 1994. Selain itu, sebanyak 46.800.161 atau setara 22,85% dari total DPT pemilih adalah generasi Z (Gen-Z) yang lahir tahun 1995 hingga 2000-an. Artinya mayoritas pemilih dalam pemilihan umum tahun 2024 adalah generasi milenial dan Gen-Z (Katadata, 2023). Banyak dari generasi ini yang akan mengikuti pemilihan umum pertama kali.
Data yang dirilis oleh KPU di atas menarik untuk disandingkan dengan data penelitian oleh Pusat Perubahan Iklim dan Transformasi Sosial (CAST) Cardif University. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa generasi milenial dan Gen-Z memiliki rasa bersalah, Tingkat ketakutan, dan kemarahan terhadap perubahan iklim dan dampaknya bagi kehidupan di masa mendatang dibandingkan generasi sebelumnya yang lebih tua. Paparan informasi dari berbagai platform informasi yang mudah mengenai kerusakan lingkungan, bencana alam, maraknya polusi membentuk pandangan generasi milenial dan Gen-Z tentang pentingnya langkah segera dan mendesak oleh pemerintah, organisasi swasta, dan seluruh pihak dalam menangani persoalan perubahan iklim perlu dilakukan.
Di Indonesia, secara khusus, Indoensia Gen Z Report tahun 2022 menunjukkan bahwa 79% dari generasi Z menilai perubahan iklim sebagai isu yang penting dan serius. Riset Indikator Politik Indonesia dan Yayasan Indonesia Cerah menunjukkan data sebesar 85% dari generasi Z dan 79% generasi milenial yang memiliki kesadaaran dan kepedulian atas perubahan iklim. Perubahan iklim, bagi kedua generasi ini, terjadi karena ulah manusia dan memiliki dampak serius bagi keberlangsungan hidup manusia dalam banyak aspek kehidupan.
Iklim Sebagai Agenda Kebijakan Politik
Data-data di atas menunjukkan bahwa di satu sisi, mayoritas pemilih dalam pemilihan umum 2024 adalah generasi milenial dan Gen Z. Di mana salah satu isu yang penting dan menjadi perhatian mereka adalah tentang perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Menarik melihat upaya para kandidat mengkampanyekan ide dan janji-janji program mereka terkait perubahan iklim. Dan tentu saja, bagi kita para pemilih, penting untuk menanyakan dan mendesak para kandidat untuk menyampaikan gagasannya dalam menangaani msalah perubahan iklim ini.
Oleh karena itu, di musim kampanye ini, penting bagi kita, terutama generasi milenial dan Gen Z untuk mencermati setiap kandidat yang berkontestasi, terutama berkaitan dengan gagasannya dalam menangani perubahan iklim dan permasalahan lingkungan. Perubahan iklim, menurut Emil Salim, adalah persoalan yang berjalan evolutif dan lambat. Perubahan iklim bukan hasil dari satu, dua, lima tahun, melainkan berjalan puluhan tahun. Perubahan iklim dan lingkungan adalah persoalan lintas demografi dan lintas geografi. Pemasalahan iklim jika tidak ditangani dengan serius akan makin berdampak besar dan menumpuk bagi generasi mendatang. Selain itu, persoalan iklim menjadi permasalahan lintas batas negara yang memerlukan komitemn bersama antara negara maju (developed country) dengan negara berkembang (developing country).
Pemilu dan kampanye para kandidat adalah wadah bagi kita calon pemilih untuk melihat rekam jejak dan gagasan para kandidat. Tentu, sebagaimana yang dikatakan oleh Gideon Rose di awal tulisan ini, menitipkan harapan dan suara kepada para kandidat harus dibarengi dengan keragu-raguan dan nalar kritis agar komitmen dan janji para kandidat tidak hanya berhenti di kampanye, tetapi berubah menjadi kebijakan publik yang ditunggu eksekusinya. (*)
*Ahmad Syauqi Fuady
Dosen di STIT Muhammadiyah Bojonegoro
Editor : Hakam Alghivari