Oleh: Adi Prayitno
Oemar Bakri…Oemar Bakrie, pegawai negeri
Oemar Bakri, Oemar Bakri, 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri..Oemar Bakri..banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri..bikin otak orang seperti otak Habibie
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri.
Sepenggal lirik lagu yang diciptakan oleh musisi Iwan Fals begitu populer. Bukan hanya di zaman saat lagu tersebut diciptakan, namun hingga sekarang. Bahkan lagu berjudul Oemar Bakri itu begitu lekat menggambarkan perjuangan seorang guru yang begitu susah kala itu. Pun ketika ‘nasib guru’ mulai diperhatikan pemerintah dengan memberikan tunjangan, lagu itu masih saja tetap disematkan bahwa menjadi guru itu tidak mudah. Perjuangan menjadi pendidik tidak semata hanya saat di sekolah, namun juga di luar jam sekolah.
diharapkan mampu menjadi tauladan bagi siswa siswinya, bahkan harus mampu menjadi tauladan bagi masyarakat atau rakyat yang ada di Indonesia ini. Peringatan HGN yang diperingati setiap tanggal 25 November bukan hanya menjadi slogan, sekadar melakukan upacara dan berbagai kegiatan yang bernuansa euforia. Sosok Oemar Bakri memang memiliki tanggung jawab yang tidak ringan utamanya dalam hal pendidikan budi pekerti seperti berakhlak mulia memberi pembekalan, keahlian, ketrampilan atau dan yang lebih penting senantiasa menumbuhkan kecerdasan, siswanya. Namun demikian untuk keahlian dan kecerdasan bisa di sekolah di dalam kelas atau luar kelas. Tetapi terkait afektif atau berakhlak mulia ini mudah diucapkan, namun untuk melaksanakannya sangat berat.
Di berbagai tempat, kadang kala kita menemukan ada siswa yang sudah tidak memiliki ayah ibu atau mungkin famili. Mereka hidup liar menumpang pada saudara dekat hingga saudara jauh atau tetangganya. Itupun kadang ada yang peduli atau tidak sehingga menjadi liar menjadi anak-anak yang ‘kurang perhatian dan asuhan’. Kurangya asuhan membuat mereka seperti tidak memiliki arah masa depan yang jelas. Di sinilah peran guru sangat dirindukan atau didambakan. Kalau hanya menjajikan pelajaran di kelas, melaksanakan rutinitas tugas selanjutnya pulang, maka hal itu sepertinya jauh dari sosok Oemar Bakri sejati.
Oleh karenanya, di Bojonegoro dan Tuban yang menjadi wilayah kerja Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Bojonegoro dalam peringatan Hari Guru Nasional ini, seluruh guru, kepala sekolah hingga pengawas, unsur dari dinas pendidikan betul-betul akan mengamankan dan melaksanakan apa yang sudah digariskan oleh pemerintah pusat dan provinsi.
Sering kali kami Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mengingatkan kami agar kebijakan pendidikan agar dilaksanakan sebaik-baiknya. Kita diharpakan bisa melakukan kegiatan yang betul-betul istimewa dan berdampak langsung pada siswa. Artinya, para guru diajak untuk tidak sekadar menjadi orang tua di sekolah, tapi sekaligus menjadi orang tua yang lebih dekat dengan mereka. Dengan begitu, upaya menjadi orang tua asuh bisa tercapai sebagaimana tujuan yang diharapkan. Melalui pola asuh di luar sekolah, diharapkan bisa mendekatkan hubungan anak dengan guru sehingga mereka lebih bersemangat lagi dalam belajar maupun menggapai mimpi di masa depan. Memang Gerakan ini terasa berat jika kita melihat dari sisi untung dan rugi. Akan tetapi, jika hal itu dilandasi dari panggilan jiwa untuk menjadi Oemar Bakrie yang sejati, hal ini tentu akan memberikan dampak luar biasa untuk kemajuan Pendidikan. Apalagi dengan adanya kurikulum merdeka, setidaknya guru memiliki tanggung jawab untuk berperan mewujudkan generasi yang berfikir kritis, berkarakter Pancasila dan berakhlak mulia.
Dalam beberapa kali kesempatan termasuk rapat koordinasi, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur senantiasa mengingatkan bahkan menegaskan agar cabdin dan jajaran guru harus bisa menjadi pelopor Gerakan orang tua asuh di provinsi Jawa Timur selarasa yang ditegaskan dari gubernur.
Artinya di moment Hari Guru Nasional ini, Gerakan orang tua asuh bisa dimulai dari diri kita sebagai guru. Setidaknya moment ini bisa membangkitkan kepedulian kita terhadap mereka anak-anak yatim piatu atau yang kurang mampu di sekeliling kita. Sebagai ujung tombak pendidikan, sebagai guru perlu kiranya berjiwa besar untuk melaksanakan tugas mulia ini. Memang dampak langsung dari kegiatan Gerakan Guru Menjadi Orang Tua Asuh bagi mereka yang kurang mampu tidak bisa dilihat sekarang. Tapi jika mereka benar-benar kita asuh dengan baik hingga menjadi siswa berkharakter Pancasila dan berakhlak mulia, maka mereka akan menjadi aset untuk bangsa Ini. Kelak, Ketika mereka berhasil membawa Negeri ini menuju Indonesia Emas tahun 2045, semua itu tidak lepas dari pengorbanan para guru dan semua pihak yang mendukung program Gerakan orang tua asuh. “Selamat Hari Guru, Jadilah Oemar Bakri Sejati dan Bisa Memberi Manfaat untuk Masyarakat,” (penulis adalah Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Bojonegoro yang pernah menjadi seorang guru)
Editor : Hakam Alghivari