BLORA, Radar Bojonegoro- Dunia pendidikan di Jawa Tengah sepertinya minggu-minggu ini sedang berduka. Beberapa kejadian kekerasan di sekolah terjadi. Mulai pembacokan seorang guru oleh peserta didik. Lalu, kekerasan yang dilakukan peserta didik kepada sesama warga sekolah. Belum lagi dengan maraknya pemberitaan perundungan peserta didik.
Dalam Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Kemudian ditindaklanjuti dengan terbitnya Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah tentang Pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Kekerasan di Sekolah.
Hal ini guna mewujudkan lingkungan sekolah ramah, aman, nyaman bagi warga sekolah serta pencegahan dan penanganan kekerasan. Tindakan kekerasan oleh siapapun adalah bagian dari karakter negatif.
Negeri ini baru sadar betapa pentingnya pembangunan karakter bagi semua komponen anak bangsa, setelah maraknya perilaku negatif hampir semua lini kehidupan. Semacam maraknya korupsi, intoleransi, kekerasan sesama anak bangsa, dst.
Kita mungkin sedikit lupa dengan makna kutipan syair lagu kebangsaan yang begitu indah. Berupa kalimat ‘Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya’, di mana syair tersebut bermakna bangunlah jiwanya terlebih dahulu kemudian fisiknya.
Secara mudah dapat dicontohkan jika di tangan oknum jiwa negatif, maka hasil bangunan akan mudah ambrol. Dari contoh sedehana ini dapat disimpulkan betapa pentingnya pembangunan karakter, bagi semua elemen anak bangsa.
Sekolah sebagai salah satu tempat mencerdaskan anak-anak bangsa. Selain keluarga dan masyarakat, sekolah punya peran sangat strategis membangun karakter para peserta didik. Apalagi di saat lingkungan sekolah sudah tidak dapat diharapkan lagi peran sertanya dalam melahirkan generasi bangsa yang baik.
Juga keluarga yang sejatinya merupakan tempat pertama dan utama adanya pendidikan. Namun, keberadaan dan perannya tidak bisa diukur secara pasti. Sekolah dengan kurikulum merdeka saat ini dapat dikatakan muaranya adalah bagaimana sekolah mampu melahirkan anak-anak bangsa berkarakter Pancasila.
Pun dengan program yang sudah begitu memasyarakat dengan sebutan P-5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Berkarakter Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Yakni, enam ciri utama di antaranya beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Pembangunan karakter tidak semudah membalik tangan, juga tidak bisa hanya dengan gelar karya hasil P-5. Namun, karakter dibangun dengan pembiasaan positif. Sehingga penting bagi sekolah mengarahkan, melatih, dan membersamai peserta didik.
Pembiasaan yang dilakukan sekolah ini dapat diadministrasikan semisal dalam bentuk catatan harian perilaku positif setiap peserta didik pada diri sendiri. Serta, pada sesama, dan pada alam semesta. Kalimat postif tersebut semisal, hari ini saya melakukan ibadah dengan baik, hari ini saya membantu teman, hari ini saya menyiram bunga, atau hari ini saya memungut sampah di jalan.
Catatan harian peserta didik tersebut tiap minggu atau dalam dua mingguan di-monitoring masing-maisng wali kelas. Sehingga wali kelas dapat memantau bagaimana pembiasaan positif peserta didik dalam rutinitas sehari-hari.