Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Menyongsong Bonus Demografi

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 3 September 2023 | 18:39 WIB
Ilustrasi Job Fair (Ainur Ochiem/R.Bjn)
Ilustrasi Job Fair (Ainur Ochiem/R.Bjn)

 

DALAM banyak perbincangan terkait sumber daya manusia (SDM), mayoritas penduduk Indonesia saat ini didominasi usia anak muda. Ini dimaknai sebagai limpahan anugerah bonus demografi yang puncaknya akan terjadi pada 2045.

Banyaknya anak muda di umur antara dua puluh hingga empat puluh tahun sebagai usia yang amat produktif, energik, dan inovatif. Adalah rentangan usia yang sangat berpotensi besar dalam memajukan segala hal bagi kualitas peradaban manusia.

Bahkan menurut penelitian beberapa pakar, bahwa dunia saat ini setidaknya ada 1,8 milyar anak muda. Dengan jumlah sebesar itu, kaum muda benar-benar menjadi kekuatan dahsyat. Kekuatan sebagai pengungkit untuk memperluas cakupan pembangunan, transformasi sosial, dan peningkatan ekonomi.

Manakala mereka dibekali dengan ketrampilan (skill), pengetahuan, dan peluang nan sepadan. Dari fenomena tersebut, pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah bagaimana memanfaatkan kedatangan bonus demografi tersebut sehingga menjadi potensi besar untuk membangun kehidupan sosial nan lebih berkualitas?

Membangun peradaban manusia sehingga mampu meninggikan derajad eksistensi manusia, baik di jagat nyata maupun di jagat maya dengan segala dampak positif-negatifnya?

Salah satu cara nan dapat diikhtiarkan dalam menyambut kedangan peluang tersebut adalah dengan memfasilitasi anak muda agar memperoleh pendidikan terbaik dari semua kelas sosial yang ada.

Pendidikan bimakna, tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih sebagai penanaman (internalisasi) nilai-sikap, dan ketrampilan (skill). Dengan pendidikan kualitas mumpuni akan mengonfirmasi anak muda Indonesia mampu berkontribusi dalam menjaga keberagaman dan keharmonisan dalam  hidup berbangsa dan bernegara.

Berada di garda depan dalam mengkampanyekan kehidupan nan inklusif, bukan kehidupan eksklusif dalam ketidaknyamanan interaksi. Isu nyaring dan diskursus terkait bonus demografi tersebut akan terealisasikan manakala ada kehadiran negara untuk menciptakan prakondisi.

Agar bonus demografi ini tersemaikan secara dini. Yakni, ketika akses pendidikan berkualitas dapat dijangkau semua lapisan masyarakat terutama generasi muda. Mempersiapkan dan memberikan peran strategis dalam berbagai sektor.

Konkretnya, pemerintah di berbagai tingkatan dapat memfasilitasi distribusi anak muda ke sektor negara, sektor profesional, maupun swasta agar dapat melakukan penetrasi pada pekerjaan-pekerjaan strategis di bidang ekonomi, bisnis, riset, hingga profesional.

 Tantangan  besar yang dihadapi kaum muda saat ini adalah investasi SDM nan masih belum optimal, serta meningkaynya intoleransi di tengah masyarakat. Ini sebuah realita, di mana pemuda yang sejatinya memiliki peran sentral dan substansial. Namun sedang berjuang memastikan kualitas pendidikan universal dan mata pencaharian produktif.

Sedangkan ancaman global saat ini adalah kehadiran era disrupsi yang terus bertriwikrama. Kondisi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi dan berimplikasi di semua dimensi kehidupan. Oleh karenanya dinamika ini "memaksa" anak muda untuk mengambil langkah taktis cepat tanggap dan beradaptasi secara cerdas.

Respon cepat adalah keniscayaan untuk menyambut adanya bonus demografi. Memiliki hard skill (arsitek, kedokteran dll), serta soft skill ( komunikasi, sosialisasi dsb), adalah bekal agar generasi ini survive di tengah lompatan kemajuan teknologi pun berkompetisi sehat dalam interaksi global.

Kondisi nan tidak kalah penting menghadapi bonus demografi ini adalah apa yang pernah disampaikan group K-Pop di forum PBB pada juli 2022 lalu. Bahwa generasi saat ini adalah generasi metaverse sedang tinggal di dua realitas nan kontras. Dunia nyata dan dunia maya.

Di satu sisi hidup di dunia nyata dengan batasan norma, etika, dan moralitas. Pada dimensi lain hidup di realitas buatan sebagai representasi dari metaverse yang berinteraksi dalam satu dunia buatan.

Dua dunia yang sungguh tengah  membentuk karakter generasi milenial. Hal mencengangkan, ketika data.ai menyebutkan, Indonesia adalah negara yang warganya paling lama menggunakan ponsel terutama aplikasi WhatsApp.

Dari situ dapat disimpulkan bahwa kehidupan generasi muda kita masih kontraproduktif. Sebuah realita yang masih memprihatinkan dan butuh langkah strategis.

Wa bakdu, agar sukses meraih bonus demografi yang sudah ada di depan mata, kita harus mulai menyemai generasi ini agar tumbuh normal dan potensial dalam banyak hal.

Bertumbuh kembang, agar pada saatnya dapat menuai bonus tersebut sesuai harapan. Selanjutnya menentukan roadmap atau peta jalan digitalisasi sekaligus memastikan pembangunan ekosistem baru utuk generasi kini adalah sebuah keniscayaan.(*)

 

 

 

*Nono Warnono
Pegiat bahasa sastra dan sosial budaya di komunitas Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#sdm #indonesia #sumber daya manusia #Pendidikan #pengetahuan #pemuda #pemerintahan #Anak Muda #metaverse #bonus demografi #peradaban #manusia #skill