Tidakan anarikis ini jika dibiarkan berlarut-larut, tidak menutup kemungkinan akan semakin meluas dan merambah ke kalangan pelajar. Jajaran dinas pendidikan melalui sekolah-sekolah berupaya keras mencegah agar jangan sampai ada berita mengenai keterlibatan siswa dalam tidak kekerasan dilakukan gangster.
Di Pemerintah Provinsi JawaTimur melalui dinas pendidikan telah melakukan berbagai upaya pencegahan keterlibatan siswa dalam gangster. Upaya ini menjalin kerja sama berbagai pihak, salah satunya menggandeng pihak kepolisian. Selain sweeping HP siswa, upaya nyata dengan menggelar kegiatan “Deklarasi Anti Gengster” serentak di sekolah-sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Jawa Timur. Semua yang hadir sepakat menolak segala bentuk anarkisme dan radikalisme dengan mengucapkan ikrar dan dilajutkan menandatangani ikrar. Salah satu poinnya menolak dengan tegas segala bentuk kekerasan, tidak terlibat dan tidak melibatkan diri dalam kelompok-kelompok tertentu yang suka berbuat onar dan menggangu keamanan dan ketertiban serta merugikan orang lain.
Dokumen ini ditandatangani pihak kepolisian, sekolah dan perwakilan siswa-siswi. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah permasalahan kekerasan dan tindak kriminalitas terutama fenomena gangster akan hilang pasca pembacaan ikrar tersebut?
Upaya dilakukan meredam dan menghindarkan para remaja dari tindak kekerasan dan kriminalitas patut kita acungi jempol dan apresiasi agar semua tujuan isi deklarasi bisa terwujud. Tetapi, mewujudkan itu semua tidak semudah membalik telapak tangan. Satu sisi, para remaja (pelajar) memang akan selalu berusaha melaksanakan dan taat pada isi kesepakatan deklarasi tersebut ketika mereka ingat bahwa ada power yang mengikat dibalik isi kesepakatan tersebut.
Mereka takut akan mendapatkan sanksi dari sekolah maupun hukum dari kepolisian jika melanggar hukum berlaku). Jadi motivasi mereka untuk taat pada isi/poin dalam deklarsi tersebut motivasi eksternal akan efektif jika mereka ingat konsekuensi hukuman jika melanggar kesepakatan tersebut.
Berbeda jika para remaja atau siswa memiliki motivasi internal dari dalam diri mereka sendiri. Dengan sadar dan tanpa adanya paksaan atau melihat hukuman akan dapat memilih dan menentukan mana yang baik ataupun tidak. Lalu bagaimana cara membentuk motivasi internal para remaja? Ada peran yang sangat penting yang dimainkan oleh orang tua di rumah maupun guru di sekolah.
Pertama, kasih sayang. Banyak kalangan psikolog mensinyalir bahwa fenomena munculnya gengster ini berasal dari kurangnya kasih sayang, baik di sekolah maupun di rumah. Mereka merasa menjadi bagian termarjinalkan sehingga mereka berupaya untuk mencari jati diri dan mengekspresikan kekecewaan, salah satunya gabung kelompok gangster.
Kedua, adalah keteladanan. Orang tua di rumah harus memberikan keteladanan baik dengan berkata-kata baik, tidak pernah berucap kasar, dan tindakan kekerasan. Di sisi lain, guru sebagai orang tua kedua bagi murid juga harus mampu menjadi teladan baik di sekolah melakukan tindakan-tindakan dan memberikan contoh positif dihadapan peserta didik. Sehingga contoh keteladanan diperoleh anak baik dirumah maupun di sekolah akan turut membantu pembentukan karakter anak
Ketiga, adalah disiplin positif (sikap disiplin yang muncul dari dalam diri anak melalui pembiasaan-pembiasaan yang positif dan jauh dari kata hukuman). Misalnya, melatih dan menumbuhkan karakter disiplin pada anak mutlak diperlukan. Dan anak-anak seperti iniakan memiiki pondasi yang kuat dan bisa mengendalikan diri untuk tidak terjerumus bergabung dalam kelompok gangster.
Berbagai upaya preventif perlu dilakukan mencegah dan melindungi generasi muda dari berbagai tindak kekerasan maupun kriminalitas salah satunya adalah dengan pembacaan dan penandatanganan ikrar atau deklarasi anti gangster. Tetapi memberikan curahan kasih sayang, keteladanan, dan menanamkan disiplin positif dalam diri anak juga bisa menjadi win-win solution menghindarkan mereka dari berbagai aksi kekerasan maupun kriminalitas dikalangan remaja, karena melalui proses tersebut akan terwujud motivasi internal yang akan membuat mereka mampu mengontrol diri mereka sendiri agar terhindar dari segala bentuk tindak kekerasan yang dapat berujung pada tindakan kriminalitas.(*)
Hilal Nur Fuadi
Guru SMA Negeri 1 Gondang, Bojonegoro
Editor : M. Yusuf Purwanto