Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Sambo, Ngono Ya Ngono Ning Aja Ngono

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 21 Agustus 2022 | 20:26 WIB
Ilustrasi (AINUR OHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OHIEM/RDR.BJN)
SAAT ini nama Ferdy Sambo (Irjen Polisi) begitu populer di media. Tidak hanya namanya populer. Juga wajahnya (fotonya). Bahkan, kasusnya yang melilitnya.

Umpama dilakukan survei terbuka, sangat mungkin popularitas Sambo di mata publik mengungguli popularitas beberapa bakal calon presiden (capres). Terutama bakal calon nonunggulan. Meski, Sambo tidak pasang baliho di berbagai sudut kota. Juga, tidak gencar melakukan pencitraan diri

Nama Sambo terkenal tidak terkait pencalonan dalam Pemilu Presiden 2024. Dia terkenal karena dikaitkan kasus terbunuhnya Brigadir Polisi Yosua Hutabarat (Brigadir J) pada 8 Juli lalu. Kasus ini sangat kontroversial. Puluhan anggota polisi diduga ikut terseret pusaran kasus ini.

Sambo dikaitkan keberadaan satgassus (satuan tugas khusus) sangat powerfull. Dia sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Brigadir J. Begitu pula istrinya: Putri Candrawathi yang cantik itu, juga sudah dinyatakan sebagai tersangka.

Kasihan institusi polisi saat ini. Di saat bangsa Indonesia bersuka cita merayakan Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, lembaga Polri sedang berduka mendalam gegara kasus Sambo. Saya tidak dapat membayangkan betapa sedih dan malunya para petinggi Polri saat ini. Citra polisi kini anjlok di mata publik. Tugas berat Kapolri dan seluruh jajarannya mengangkat kembali citra institusinya.

Polri sedih karena kasus terkait Sambo ini bakal tidak mudah diselesaikan. Juga butuh waktu lama. Saking banyaknya anggota diduga terkait. Ruwet. Yang menyidik jenderal polisi. Yang disidik ya jenderal polisi. Jeruk makan jeruk.

Rasanya belum pernah terjadi di negeri ini, kasus seorang polisi menyeret sekian puluh anggota. Mulai dari pangkat perwira tinggi (jenderal) hingga lapisan bawah. Mulai anggota penghuni Mabes Polri hingga polda dan polres. Istilah orang Jawa, ngglandang carang teka pucuk. Menyeret batang bambu dari ujungnya. Di awal kecil.

Kasus Ferdy Sambo saat ini boleh dianggap musibah besar institusi Polri. Tetapi, di balik itu, sejatinya ada hikmah besar bagi mereka menjadikannya sebagai pelajaran. Tidak hanya lembaga Polri, tetapi lembaga negara lainnya.

Ada sebuah pitutur Jawa (Jowo). Sepertinya sederhana. Tetapi sarat makna.

Pitutur ini layak dijadikan paweling (pengingat) setiap orang. Baik bagi seseorang pejabat, penguasa, atau rakyat biasa. Pitutur Jawa itu: Ngono Ya Ngono Ning Aja Ngono. Terjemahannya: Begitu ya begitulah tapi jangan begitu. Artinya, jika seseorang mau begitu, ya silakan begitu. Tetapi ya jangan begitu. Jangan berlebihan. Agak mbulet ya, hehehe…

Intinya, bolehlah seseorang ingin berkuasa. Silakan berusaha, atau meningkatkan kekuasaannya. Tetapi janganlah berlebihan. Jangan sampai gelap mata. Jangan menghalalkan segala cara.

Silakan seseorang ingin kaya raya. Tetapi janganlah berlebihan menghalalkan segala cara. Jangan sampai tidak memedulikan uangnya dikumpulkan dari mana dan dari siapa.

Dalam pitutur Jawa ngono ya ngono ning aja ngono, sedikitnya ada dua macam ajaran. Pertama, ajaran bahwa seseorang itu jangan melakukan kesalahan. Sekecil apapun. Karena, kesalahan sekecil apapun ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.

Ajaran kedua, tentang toleransi jika ada kesalahan kecil yang dilakukan seseorang. Ngono ya ngono ning aja ngono mengajarkan bahwa pada hakikatnya manusia itu, siapapun orangnya, pasti punya kekurangan. Punya potensi akan melakukan kesalahan, kecurangan, dan sebagainya. Tetapi, hendaknya tidak berlebihan. Juga tidak boleh terus menerus.

Misalnya, dalam perilaku korupsi oknum pejabat. Mungkin, jika korupsinya hanya kisaran 1 – 2 persen dari anggaran, mungkin agak dapat ditoleransi. Hukumannya agak ringan. Tetapi jika korupsi itu hingga 20 persen, atau bahkan di atas 30 persen dari anggaran, tentu itu sudah sangat berlebihan. Apalagi, dilakukan terus menerus.

Uraian tersebut tidak berarti kita membolehkan ada korupsi 1 – 2 persen dari anggaran. Apalagi mempersilahkannya. Bukan itu maksudnya. Tetapi uraian itu hanya dimaksudkan bahwa kita ini sebagai manusia harus realistis. Bahwa hampir mustahil ada manusia tanpa suatu kesalahan. Ibarat seseorang yang setiap hari memegang oli, rasanya mustahil tidak terkena oli.

Tetapi, harus ada kesadaran bahwa itu kesalahan. Walau kecil. Kemudian ada keinginan untuk berhenti atau menguranginya. Juga ada keinginan untuk bertobat. Janganlah malah sebaliknya. Ingin terus memperbesar kesalahannya, tanpa ada perasaan bersalah.

Manusia memang didesain oleh Tuhan dilengkapi dengan nafsu rakus. Tamak. Duit sudah ratusan juta pingin punya miliaran. Sudah punya miliaran pingin ratusan miliar. Ada berita terkait Ferdy Sambo, di bunker rumahnya ditemukan duit Rp 900 miliar oleh tim yang menggeledahnya. Wow…. Gak bisa dibayangkan seperti apa tumpukan uang Rp 900 miliar di dalam bunker rumah.

Hari-hari ini juga ada berita korupsi mencengangkan. Seorang pengusaha ditahan Kejaksaan Agung terkait kasus dugaan korupsi Rp 78 triliun. (Jawa Pos, 16 Agustus 2022). Uang triliunan tapi tinggal di tahanan. Ngono ya ngono ning aja ngono. Umpama uang Rp 78 triliun itu terdiri dari pecahan Rp 10.000 an, kayak apa tumpukan dan sebaran uang tersebut.

Kasus Ferdy Sambo mudah mudahan membuka mata hati kita. Bahwa manusia boleh saja punya ambisi-ambisi. Tetapi cara pemenuhannya haruslah tetap sesuai aturan yang sah. Manusia mungkin dapat merekayasa untuk menutupi kejahatan-kejahatannya. Tetapi sadarlah bahwa Tuhan itu maha ahli untuk mematahkan rekayasa batil/jahat manusia.

 

 

MUNDZAR FAHMAN
Dosen Unugiri Bojonegoro
Editor : M. Yusuf Purwanto
#bharada e #brigadir j #kejahatan #ferdy sambo #kekuasaan #Pembunuhan #hati