RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Nama Jeffrey Epstein (1953–2019) menjadi salah satu figur paling kontroversial dalam sejarah kriminal modern Amerika Serikat. Ia bukan hanya dikenal sebagai pemodal kaya dengan jaringan elite internasional, melainkan sebagai sosok yang berada di pusat skandal besar yang mengguncang politik, hukum, dan tatanan sosial global.
Di balik citra miliarder dan filantropis, Epstein membangun pengaruh melalui relasi dengan tokoh-tokoh paling berkuasa di dunia—mulai dari politisi, bangsawan, pebisnis, hingga akademisi ternama. Kematian Epstein di penjara Manhattan pada 2019 tidak menutup kasusnya.
Sebaliknya, peristiwa itu memicu gelombang pertanyaan baru, terutama setelah pemerintah Amerika Serikat membuka secara luas apa yang dikenal sebagai “Berkas Epstein”.
Publikasi dokumen-dokumen tersebut pada periode pemerintahan kedua Presiden Donald Trump (2025–2026) kembali menyeret nama-nama besar ke ruang publik dan memperkuat satu kesimpulan: Jeffrey Epstein bukan sekadar individu bermasalah, melainkan simpul dari jaringan kekuasaan yang selama bertahun-tahun luput dari akuntabilitas hukum.
Latar Keluarga dan Masa Muda yang Penuh Kontradiksi
Jeffrey Epstein lahir di Brooklyn dari keluarga imigran Yahudi kelas menengah. Ayahnya bekerja sebagai penjaga taman, jauh dari lingkungan elite yang kelak mengelilingi hidup Epstein.
Sejak kecil, ia menunjukkan kecerdasan menonjol, terutama dalam matematika dan musik piano. Prestasi akademiknya membuat Epstein melompati dua tingkat kelas dan lulus SMA lebih cepat dari rekan seusianya. Sejak fase ini, pola kontradiksi mulai terlihat: latar sederhana berpadu dengan ambisi besar dan rasa percaya diri yang tidak lazim.
Menjadi Guru di Sekolah Paling Bergengsi Manhattan
Meski tidak menamatkan pendidikan formalnya di New York University (NYU), Epstein justru diterima mengajar fisika dan matematika di Dalton School pada 1974—salah satu sekolah swasta paling prestisius di Manhattan.
Ia mengajar anak-anak dari keluarga terkaya Amerika. Para siswa menggambarkannya sebagai guru karismatik dan cerdas, meski sering melanggar norma profesional. The New York Times mencatat bahwa Epstein pernah menghadiri pesta siswa yang melibatkan konsumsi minuman keras.
Lingkungan inilah yang mempertemukan Epstein dengan orang-orang berpengaruh, membuka jalan menuju dunia yang jauh lebih besar dari ruang kelas.
Gerbang Menuju Wall Street
Salah satu wali murid Epstein adalah Alan Greenberg, eksekutif senior Bear Stearns. Greenberg terkesan dengan kecerdasan Epstein dan merekrutnya ke Wall Street.
Epstein diberhentikan dari Dalton School pada 1976 karena performa mengajar yang dinilai buruk. Namun, kehilangan pekerjaan itu justru menjadi titik balik. Dunia keuangan membuka peluang yang tidak bisa ia dapatkan di dunia akademik.
Karier Finansial yang Cepat, Cerdas, dan Kontroversial
Di Bear Stearns, Epstein dikenal sebagai sosok berbakat tetapi bermasalah. Ia sempat diselidiki karena memalsukan resume dan menyalahgunakan biaya perusahaan, hingga akhirnya keluar pada 1981.
Meski demikian, reputasinya sebagai pengelola urusan keuangan bagi orang super-kaya tetap bertahan. Epstein dikenal sebagai pihak yang mampu melacak dan memulihkan aset klien yang hilang akibat penipuan atau penggelapan.
Pada 1988, ia mendirikan J. Epstein & Company, firma investasi eksklusif yang hanya melayani klien dengan kekayaan di atas US$1 miliar.
Leslie Wexner dan Lonjakan Kekayaan
Klien utama Epstein adalah Leslie H. Wexner, pendiri L Brands dan pemilik Victoria’s Secret. Hubungan ini menjadi fondasi kekayaannya.
Melalui relasi tersebut, Epstein memperoleh kendali finansial besar yang memungkinkannya membeli properti mewah di New York, Paris, New Mexico, hingga pulau pribadi Little St. James di Kepulauan Virgin Amerika Serikat—lokasi yang kemudian menjadi pusat banyak tuduhan kriminal terhadapnya.
Lingkar Kekuasaan Global
Kekayaan Epstein membuka akses ke lingkaran elite internasional. Ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh besar seperti Bill Gates, Michael Jackson, dan Noam Chomsky.
Dua nama yang paling disorot publik adalah Bill Clinton dan Donald Trump.
-
Bill Clinton
Catatan penerbangan menunjukkan Clinton beberapa kali menggunakan pesawat pribadi Epstein yang dijuluki Lolita Express. Foto-foto yang dirilis pada akhir 2025 kembali menegaskan kedekatan tersebut. -
Donald Trump
“Dia mencuri orang-orang yang bekerja untuk saya. Saya memperingatkannya. Dia mengulanginya. Saya mengusirnya—persona non grata,” ujar Trump pada 2025.
Hubungan Trump dan Epstein memburuk pada pertengahan 2000-an. Meski Trump pada 2002 pernah memuji Epstein sebagai “pria hebat yang menyukai wanita muda”, ia kemudian mengusir Epstein dari Mar-a-Lago.
Skandal Epstein juga berdampak langsung pada Pangeran Andrew (Andrew Mountbatten-Windsor). Pada 2025, seluruh gelar kerajaannya dicabut setelah bukti baru memperkuat keterlibatannya dalam pelecehan terhadap pihak di bawah umur.
Kematian di Penjara dan Rentetan Kejanggalan
Epstein ditangkap pada Juli 2019 atas dakwaan perdagangan manusia tingkat federal. Namun, ia tidak pernah diadili. Pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas gantung diri di selnya di penjara Manhattan.
Sejumlah kejanggalan langsung memicu kecurigaan publik:
-
Baru saja dilepas dari pengawasan bunuh diri
-
Rekan satu sel dipindahkan tanpa pengganti
-
Penjaga lalai memeriksa sel selama tiga jam
-
Kamera pengawas di sekitar sel tidak berfungsi
Meski otopsi resmi dan laporan Inspektur Jenderal (OIG) 2023 menyimpulkan kematiannya sebagai bunuh diri, teori bahwa Epstein “dibungkam” terus berkembang, terutama di kalangan pendukung MAGA dan penganut teori Pizzagate.
Pembukaan “Berkas Epstein” pada 2025–2026
Tekanan publik terhadap transparansi memuncak pada pemerintahan kedua Trump. Setelah undang-undang keterbukaan disahkan pada November 2025, jutaan halaman dokumen Epstein dirilis hingga Januari 2026.
Beberapa temuan utama meliputi:
-
Andrew Mountbatten-Windsor
Foto baru memicu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendesaknya bersaksi di Kongres AS. -
Donald Trump
Email kejaksaan mencatat Trump bepergian dengan pesawat Epstein lebih sering dari yang dilaporkan sebelumnya, meski sebagian klaim belum terverifikasi. -
Tokoh Bisnis dan Teknologi
Nama Sergey Brin, Steven Tisch, dan Kevin Warsh muncul dalam korespondensi atau daftar tamu Epstein. -
Kathryn Ruemmler
Mantan penasihat Presiden Obama tercatat berterima kasih kepada “Paman Jeffrey” atas hadiah tas mewah.
Kekecewaan Para Penyintas
Alih-alih menutup luka, pembukaan sekitar 3 juta halaman dokumen pada Januari 2026 justru menimbulkan kekecewaan mendalam. Identitas para korban kembali terekspos, sementara banyak pelaku utama dinilai tetap berada di balik perlindungan hukum.
“Nama dan informasi kami kembali dibuka, sementara para pria yang melakukan kekerasan terhadap kami tetap tersembunyi dan terlindungi,” tulis pernyataan bersama 18 penyintas.
Kasus Jeffrey Epstein hingga kini tetap menjadi contoh ekstrem bagaimana kekayaan, koneksi, dan kekuasaan dapat menunda keadilan, bahkan dalam sistem hukum negara demokrasi paling berpengaruh di dunia.
Editor : Hakam Alghivari