Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Menjawab: Tudingan Monopoli, Perang Lawan Mafia, dan Kedaulatan Energi 2026

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 13 Januari 2026 | 16:15 WIB

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat berkunjung ke Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu (26/6).
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat berkunjung ke Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu (26/6).

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah isu panas mengenai penutupan beberapa gerai SPBU swasta dan desakan reshuffle di media sosial, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, akhirnya buka suara.

Dalam sebuah wawancara eksklusif di kanal YouTube Kasisolusi dengan Host Dery, ia membedah kondisi riil di balik layar regulasi energi Indonesia saat ini.

Bahlil menegaskan bahwa posisinya sebagai "pembantu Presiden" memiliki misi tunggal: mengembalikan kedaulatan energi ke tangan rakyat sesuai mandat konstitusi.

1. Klarifikasi Isu Monopoli BBM: "Negara Tidak Boleh Ditekan Pengusaha"

Belakangan ini muncul narasi bahwa pemerintah sengaja membatasi ruang gerak badan usaha swasta (seperti Shell, BP, atau Vivo) demi memenangkan Pertamina. Bahlil dengan tegas membantah tudingan monopoli tersebut.

Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Titip Potensi Sumur Tua Blora ke Bupati Arief

Menurutnya, kuota impor untuk swasta di tahun 2025 sebenarnya sudah dinaikkan sebesar 110% dibanding tahun sebelumnya. Masalah muncul ketika beberapa oknum swasta menghabiskan kuota tahunan mereka lebih cepat (misalnya habis di bulan Agustus).

"Kalau kuota impor mereka habis, saya minta mereka kolaborasi dengan Pertamina secara Business to Business (B2B). Jangan malah menekan pemerintah lewat media sosial agar keran impor ditambah lagi. Negara yang mengatur pengusaha, bukan sebaliknya," tegas Bahlil.

2. Perang Melawan Mafia LPG 3 Kg

Salah satu poin paling emosional dalam wawancara ini adalah mengenai harga LPG 3 kg yang melambung hingga Rp25.000 di tingkat pengecer, padahal harga di pangkalan seharusnya maksimal Rp18.000 - Rp19.000.

Bahlil mengakui adanya "permainan" dari oknum mafia penyalur. Sebagai seseorang yang tumbuh dari keluarga miskin dan pernah memikul beras subsidi, ia merasa memiliki beban moral untuk memberantas ketidakadilan ini.

3. Melampaui Target: Rekor Lifting Minyak dan PNBP

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Bahlil memaparkan data performa sektor ESDM yang menunjukkan tren positif:

4. Legalisasi Tambang Rakyat: Solusi Konkret Melawan Kriminalisasi

Selama puluhan tahun, masyarakat yang mengelola sumur minyak tua sering dianggap ilegal dan ditangkap. Melalui Permen ESDM Nomor 14, Bahlil melakukan terobosan dengan melegalkan tambang rakyat tersebut.

Baca Juga: Bahlil Klaim Potensi Sumur Masyarakat di Blora Bisa Percepat Pertumbuhan Ekonomi

Tujuannya agar rakyat memiliki payung hukum untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri secara resmi, asalkan tetap mematuhi standar keselamatan (K3S) dan lingkungan.

5. Dari Pinggiran untuk Ibu Pertiwi: Melawan Rasisme dan Sekat Kasta

Menutup obrolannya, Bahlil menyampaikan pesan kebangsaan yang mendalam. Ia menyoroti adanya sentimen rasisme dan pandangan sebelah mata karena asal-usulnya dari Papua.

"Apakah hanya anak orang kaya atau dari kasta tertentu yang boleh mengabdi pada bangsa ini? Nasionalisme sejati ada di pelosok-pelosok daerah. Kami anak-anak dari timur Indonesia juga punya hak dan hati yang tulus untuk memperbaiki Ibu Pertiwi."

Kesimpulan

Kepemimpinan Bahlil Lahadalia di sektor ESDM memang penuh kontroversi, namun data menunjukkan keberanian dalam mengambil keputusan radikal.

Baca Juga: Sambangi Sumur Tua Lapangan Ledok di Blora, Bahlil Pantau Pengambilan Lantung

Dari pemberantasan mafia subsidi hingga upaya kemandirian energi, Bahlil mengirimkan pesan jelas: Kedaulatan energi adalah harga mati. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#SPBU Swasta #bbm #menteri esdm #mafia LPG #bahlil lahadalia #monopoli #Kedaulatan Energi