RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah isu panas mengenai penutupan beberapa gerai SPBU swasta dan desakan reshuffle di media sosial, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, akhirnya buka suara.
Dalam sebuah wawancara eksklusif di kanal YouTube Kasisolusi dengan Host Dery, ia membedah kondisi riil di balik layar regulasi energi Indonesia saat ini.
Bahlil menegaskan bahwa posisinya sebagai "pembantu Presiden" memiliki misi tunggal: mengembalikan kedaulatan energi ke tangan rakyat sesuai mandat konstitusi.
1. Klarifikasi Isu Monopoli BBM: "Negara Tidak Boleh Ditekan Pengusaha"
Belakangan ini muncul narasi bahwa pemerintah sengaja membatasi ruang gerak badan usaha swasta (seperti Shell, BP, atau Vivo) demi memenangkan Pertamina. Bahlil dengan tegas membantah tudingan monopoli tersebut.
Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Titip Potensi Sumur Tua Blora ke Bupati Arief
Menurutnya, kuota impor untuk swasta di tahun 2025 sebenarnya sudah dinaikkan sebesar 110% dibanding tahun sebelumnya. Masalah muncul ketika beberapa oknum swasta menghabiskan kuota tahunan mereka lebih cepat (misalnya habis di bulan Agustus).
"Kalau kuota impor mereka habis, saya minta mereka kolaborasi dengan Pertamina secara Business to Business (B2B). Jangan malah menekan pemerintah lewat media sosial agar keran impor ditambah lagi. Negara yang mengatur pengusaha, bukan sebaliknya," tegas Bahlil.
2. Perang Melawan Mafia LPG 3 Kg
Salah satu poin paling emosional dalam wawancara ini adalah mengenai harga LPG 3 kg yang melambung hingga Rp25.000 di tingkat pengecer, padahal harga di pangkalan seharusnya maksimal Rp18.000 - Rp19.000.
Bahlil mengakui adanya "permainan" dari oknum mafia penyalur. Sebagai seseorang yang tumbuh dari keluarga miskin dan pernah memikul beras subsidi, ia merasa memiliki beban moral untuk memberantas ketidakadilan ini.
-
Tindakan Nyata: Melakukan penataan sistem distribusi agar subsidi Rp87 triliun per tahun benar-benar sampai ke rakyat kecil.
-
Pesan untuk Mafia: "Jangan uji nyali saya. Untuk kedaulatan bangsa dan hak rakyat, saya tidak akan mundur sejengkal pun."
3. Melampaui Target: Rekor Lifting Minyak dan PNBP
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Bahlil memaparkan data performa sektor ESDM yang menunjukkan tren positif:
-
Lifting Minyak: Berhasil mencapai 605.300 barel per hari, melampaui target APBN 2025. Ini adalah pencapaian signifikan mengingat tren penurunan produksi minyak nasional selama satu dekade terakhir.
-
PNBP Minerba: Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menembus Rp138 triliun (108% dari target). Dana ini dialokasikan kembali untuk infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
-
Target Bebas Impor Solar: Dengan optimalisasi kilang dan program B40, Bahlil optimis pada 2026 Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar.
4. Legalisasi Tambang Rakyat: Solusi Konkret Melawan Kriminalisasi
Selama puluhan tahun, masyarakat yang mengelola sumur minyak tua sering dianggap ilegal dan ditangkap. Melalui Permen ESDM Nomor 14, Bahlil melakukan terobosan dengan melegalkan tambang rakyat tersebut.
Baca Juga: Bahlil Klaim Potensi Sumur Masyarakat di Blora Bisa Percepat Pertumbuhan Ekonomi
Tujuannya agar rakyat memiliki payung hukum untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri secara resmi, asalkan tetap mematuhi standar keselamatan (K3S) dan lingkungan.
5. Dari Pinggiran untuk Ibu Pertiwi: Melawan Rasisme dan Sekat Kasta
Menutup obrolannya, Bahlil menyampaikan pesan kebangsaan yang mendalam. Ia menyoroti adanya sentimen rasisme dan pandangan sebelah mata karena asal-usulnya dari Papua.
"Apakah hanya anak orang kaya atau dari kasta tertentu yang boleh mengabdi pada bangsa ini? Nasionalisme sejati ada di pelosok-pelosok daerah. Kami anak-anak dari timur Indonesia juga punya hak dan hati yang tulus untuk memperbaiki Ibu Pertiwi."
Kesimpulan
Kepemimpinan Bahlil Lahadalia di sektor ESDM memang penuh kontroversi, namun data menunjukkan keberanian dalam mengambil keputusan radikal.
Baca Juga: Sambangi Sumur Tua Lapangan Ledok di Blora, Bahlil Pantau Pengambilan Lantung
Dari pemberantasan mafia subsidi hingga upaya kemandirian energi, Bahlil mengirimkan pesan jelas: Kedaulatan energi adalah harga mati. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko