Batik karya Sri Artiningsing selain terkenal cantik dan eksklusif, juga diminati pelanggan dari luar negeri. Terbaru, menyabet Juara 1 Terinovatif Batik Tingkat Provinsi Jawa Timur (Jatim) Gaun 2025.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
DI ANTARA helai kain dan guratan malam. Nama Sri Artiningsing menjelma tenang, namun pasti. Perempuan akrab disapa Arva ini tidak sekadar merancang busana.
Ia menenun mimpi, menjahit harapan, dan mengangkat batik Bojonegoro untuk berani melangkah hingga panggung dunia.
Terbaru, Arva sukses menyabet Juara 1 Terinovatif Batik Tingkat Provinsi Jawa Timur (Jatim) Gaun 2025.
Perjalanannya dimulai jauh sebelum gemerlap panggung. Tepatnya, di 2022 menjadi titik awalnya. Ketika kebutuhan ekonomi memaksa perempuan 55 tahun tersebut bangkit, membantu di atas kakinya sendiri.
Sejak itu, tangannya mulai sibuk merangkai dekorasi, membuat pernak-pernik rumah, tas tenteng dari bahan blacu sulaman pita yang dihasilkan dari rumah.
Jahitan demi jahitan mengalir menjadi busana wanita. Aneka pameranpun ia sambangi, membawa ilmu dan harapan untuk berkarya lebih hebat lagi. "Memulai sejak 2002," ujar pemilik pemilik usaha yang kerap disapa Arva tersebut.
Waktu berjalan dan semesta seolah memberi arah. Dinas Perdagangan Provinsi Jatim melihat potensi karya Arva.
Busana rancangannya mulai diikutkan pameran, menyeberang pulau, melintasi batas daerah. Dunia desain pun kian memanggil. Arva memilih menjawabnya, meski jalannya tak selalu berupa panggung megah.
Ia mengaku, jarang mengikuti fashion show. Melainkan, lebih memilih jalur prestasi, lomba demi lomba, sebagai cara membangun nama.
Hasilnya bukan sekadar pujian. Dua gelar juara 1 tingkat provinsi untuk kategori gaun muslim dan kebaya berbasis batik lokal ia raih dari IPBI Jatim.
Prestasi itu berlanjut ke tingkat nasional, bekerja sama dengan Kemendikbud. Sejak saat itu, karirnya melesat.
Ia dipercaya mewakili duta batik Jatim, melenggang ke panggung internasional di Bangkok, Thailand, membawa batik dengan penuh kebanggaan.
Arva berhasil menuai hasil memuaskan. Setelah masuk kurasi dari Provinsi Jatim untuk mengikuti pameran tingkat Internasional di Jakarta. Ia sukses membawa batik Bojonegoro dilirik para turis mancanegara.
‘’Sempat membuka layanan design gratis untuk membantu mendesign batik. Ini yang dilirik pengunjung dan akhirnya terjadilah pemesanan khusus yang harus dikirim ke luar Jawa maupun luar negeri,’’ terangnya.
Rentetan penghargaan menghiasi jalan Arva selama berkarir. Mulai dari Juara 1 Tingkat Provinsi Jatim 2014 IPBI Lomba Kebaya Modifikasi Batik Lokal; Juara 1 Tingkat Provinsi Jatim 2014 IPBI Lomba Gaun Muslim.
Kemudian, Juara Harapan 1 Tingkat Nasional IPBI Lomba Kebaya Modifikasi Batik; Penghargaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai Designer Kabupaten Bojonegoro 2016.
Lalu, Penghargaan Bupati Bojonegoro sebagai Wirausahawati Muda Terbaik 2017; Penghargaan IKM sebagai Wirausahawan Terbaik 2017; Penghargaan Bupati sebagai Penggerak Wirausaha Wanita Bojonegoro Tahun 2017.
Selanjutnya, Penghargaan Bupati sebagai Pelopor Desain Busana Wanita Kabupaten Bojonegoro 2017.
Kemudian, Penghargaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai Designer Kabupaten Bojonegoro 2017; Penghargaan Bupati mempromosikan batik motif Thengul di KBRI Bangkok 2019; dan Juara 1 Terinovatif Batik Tingkat Provinsi Jatim Gaun 2025.
Karya Arva dikenal dengan satu ciri kuat, yakni baju cantik dan eksklusif. Detail menjadi napasnya. Setiap potongan menyimpan ketelitian.
Setiap desain memancarkan keanggunan. Siapa sangka, di balik keindahan itu, Arva adalah lulusan IKIP jurusan Matematika, perpaduan antara logika dan rasa yang menyatu dalam karya.
Berangkat dari UMKM, Arva tak pernah meninggalkan akarnya. Ia hadir di tengah pelaku usaha kecil, bersertifikasi BNSP sebagai fasilitator dan asesor.
‘’Arva ingin membawa batik Bojonegoro untuk Indonesia dan international, berupa batik maupun karya,’’ harapnya. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko