RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Insiden kecelakaan terjadi di halaman SDN Kalibaru 01 Pagi, Clincing, Jakarta Utara pada Kamis pagi (11/12/2025).
Seorang sopir program Makan Bergizi Gratis (MBG) berinisial AI (Adi Irawan) menerobos pagar sekolah, lalu menabrak puluhan siswa yang sedang upacara di halaman sekolah. Akibatnya, ada puluhan siswa menjadi korban dan dilarikan ke rumah sakit. Dilaporkan tidak ada korban meninggal dunia.
“Korban berjumlah 20 orang: 19 siswa dan 1 guru. Lima orang dilarikan ke Rumah Sakit Koja, 14 orang di RSUD Cilincing, dan satu orang di Puskesmas Cilincing yang sudah pulang,” ungkap Kombes Pol Budi Hermanto, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, saat memberikan keterangan pers pada Kamis (11/12/2025).
Melansir dari akun Instagram @jakut24jam, sopir MBG bernama Adi Irawan mengaku tidak tahu kenapa, tiba-tiba mobil GranMax bernopol B 2093 UIU itu ngegas sendiri.
Sehingga, sopir berusia 33 tahun itu kehilangan kendali. Bahkan, dia juga mengaku tidak kepikiran untuk menarik tuas rem tangan.
Diketahui, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana membeberkan dugaan awal penyebab insiden mobil mobil MBG yang menabrak puluhan siswa SDN Kalibaru 01, Jakarta Utara terjadi akibat kepanikan sopir cadangan saat memindahkan gigi kendaraan di jalur yang menanjak.
Dilansir dari Detiknews, Dadan menjelaskan, selama hampir sembilan bulan operasional MBG di sekolah itu berlangsung tanpa masalah sejak dimulai pada 24 Maret 2025 lalu.
Namun, pada dua hari terakhir, sopir utama berhalangan karena sakit sehingga KSPPG menugaskan sopir cadangan.
“Setelah kami cek, alhamdulillah sopirnya memiliki SIM ya, mungkin hanya kurang pengalaman,” kata Dadan di RSUD Koja, Kamis (11/12/2025).
Ia menuturkan, bahwa berdasarkan pemeriksaan awal, insiden terjadi ketika mobil berada pada kondisi jalan menanjak dan sopir hendak memindahkan gigi.
“Memang jalannya agak menanjak dan kami perkirakan ada kepanikan ketika pindah gigi dari dua ke satu, sehingga salah menginjak pedal,” katanya.
Selain faktor teknis, Dadan menilai prosedur kerja di lapangan ikut berpengaruh. Dalam kondisi normal, kendaraan MBG tiba sebelum siswa masuk, lalu parkir di depan sekolah setelah pintu ditutup dan anak-anak berbaris.
“Seharusnya ketika pintu ditutup itu biasanya parkir di depan. Dan, biasanya juga mobil itu datang lebih awal dari anak-anak. Jadi ketika anak-anak sudah berbaris dan pintu ditutup, untuk yang biasa itu parkir di depan,” jelasnya.
Dadan menegaskan pihaknya masih mendalami seluruh rangkaian peristiwa, termasuk posisi kendaraan, rute, dan keputusan penggunaan sopir cadangan. Evaluasi menyeluruh terhadap SOP pengoperasian kendaraan juga akan dilakukan.
“Ini kelihatannya menjadi insight baru bagi Badan Gizi Nasional agar KSPPG secara cermat mengganti atau memilih sopir cadangan yang kualifikasinya sama,” ujarnya. (bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko