Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tradisi Jamasan Pusaka di Blora Masih Terjaga

A
Penulis: Achmad Syaeroyzi❯
KONSISTEN: Mbah Mulyono sudah 24 tahun membuka jasa penjamasan pusaka di Kabupaten Blora. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)
KONSISTEN: Mbah Mulyono sudah 24 tahun membuka jasa penjamasan pusaka di Kabupaten Blora. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tradisi menjamas pusaka saat bulan Suro masih terus dijaga oleh sebagian masyarakat. Di Kabupaten Blora, salah satu pelaku yang tetap konsisten melestarikan tradisi tersebut adalah Mulyono.

Warga asli Blora itu mengaku telah membuka jasa penjamasan pusaka selama 24 tahun. Setiap bulan Suro, ia membuka layanan penjamasan tersebut di kawasan eks Stasiun Blora.

‘’Sudah sejak 2002 saya membuka jasa penjamasan di Stasiun Blora,’’ ujar Mbah Mulyono, sapaan akrabnya.

Advertisement

Menurut dia, dahulu terdapat dua orang yang membuka jasa serupa di lokasi tersebut.

Namun  kini hanya dirinya yang masih bertahan. Tak hanya warga Blora, pelanggan yang datang juga berasal dari sejumlah daerah sekitar seperti Purwodadi, Rembang, Pati, hingga Bojonegoro.

Advertisement

Setiap bulan Suro, sedikitnya 40 orang untuk menjamaskan pusakanya. Untuk sekali penjamasan, Mbah Mulyono mematok biaya sekitar Rp 30 ribu. Tarif tersebut ditargetkan untuk menengah ke bawah.

‘’Saya memang menyasar masyarakat menengah ke bawah. Banyak petani yang punya pusaka. Sayang kalau tidak dirawat,’’ katanya.

Dalam proses penjamasan, Mbah Mulyono menggunakan sejumlah bahan tradisional, diantaranya air jeruk dan air warangan. Warangan merupakan material menyerupai batu yang akan larut ketika dicampur air.

Menurutnya, perubahan warna air warangan saat proses penjamasan dapat menunjukkan kondisi pamor pada pusaka. Semakin hitam warna air yang muncul, maka semakin terlihat karakter pamor pusaka tersebut.

Sebelum membuka jasa penjamasan, Mbah Mulyono mengaku menjalani tirakat terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian karena pusaka  itu tajam.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Seniman Reog Ponorogo Restui Barongan Blora ke UNESCO

Seniman Reog Ponorogo Restui Barongan Blora ke UNESCO

Barongan Blora selangkah lebih dekat menuju panggung budaya dunia. Bukan dengan meninggalkan akar tradisinya, melainkan dengan merangkul saudara serumpun yang lebih dulu mendapat pengakuan UNESCO, Reog Ponorogo.

Mengenal Suku Kalang, Kelompok Masyarakat Jawa yang Disebut Memiliki Postur Tubuh Lebih Besar

Mengenal Suku Kalang, Kelompok Masyarakat Jawa yang Disebut Memiliki Postur Tubuh Lebih Besar

Suku Kalang kerap menjadi perhatian karena cerita masyarakat yang menyebut sebagian keturunannya memiliki postur tubuh tinggi, tegap, dan berukuran lebih besar dibandingkan orang Jawa pada umumnya.

Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Nono Warnono

Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Nono Warnono

Aku bicara dengan diriku sendiri tentang janji janji berbuih samudera untuk menuai rembulan bermega menguntai matahari dan hari-hari merenda bintang biru langit lazuardi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer