Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pidato Dedi Mulyadi Viral: “Belanda Menjajah Indonesia 350 Tahun. Gunung utuh, samudra...” Jadi Sorotan Kritik soal Kemunduran Bangsa?

Hakam Alghivari • Jumat, 12 Desember 2025 | 02:07 WIB

 

 

Dedi Mulyadi menjadi sorotan publik, videonya viral menyinggung hutan gundul.
Dedi Mulyadi menjadi sorotan publik, videonya viral menyinggung hutan gundul.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pidato Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2025 yang ditayangkan melalui akun YouTube Humas Jawa Barat kembali menjadi pusat diskusi publik.

Pernyataan Dedi yang menyinggung perbandingan kondisi Indonesia pada masa kolonial dan masa kini dianggap sebagai kritik tajam terhadap kualitas pembangunan, lingkungan, dan sumber daya manusia Indonesia.

Dalam pidatonya, Dedi mengeluarkan pernyataan yang langsung memantik perhatian publik.

“Belanda menjajah Indonesia 350 tahun. Gunung utuh, samudra masih terbentang luas, sungai-sungai jernih…” ujarnya.

Ia melanjutkan bahwa penjajah justru meninggalkan jejak infrastruktur yang sampai hari ini masih berdiri, seperti perkebunan, bangunan pemerintahan, hingga jembatan kereta api yang kokoh.

Kontras itu, menurut Dedi, tidak sebanding dengan apa yang terjadi setelah 80 tahun Indonesia merdeka.

“Indonesia merdeka 80 tahun. Gunung gundul, sungai keruh, hutang menggunung… bangunan-bangunan hampir tidak ada yang berkualitas, jalan-jalan mudah rusak, jembatan mudah roboh,” katanya. Dari sini, ia mengeluarkan kalimat yang kemudian viral di berbagai platform: “Pertanyaannya adalah siapa yang penjajah itu?”

Pernyataan tersebut menjadi bagian paling banyak dibahas karena dipandang sebagai kritik terhadap perilaku, kebijakan, dan tata kelola bangsa sendiri yang dianggap justru merusak lingkungan dan kualitas pembangunan.

Dedi kemudian mengaitkan kritiknya dengan ketergantungan Indonesia terhadap negara lain dalam sektor pangan, kesehatan, dan teknologi. Ia menggambarkan bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia dapat diprediksi dan dikendalikan oleh pihak luar.

“Setelah itu negara lain mengintip kita, dia kemudian mengunci kita, otak kita, mengunci otak anak-anak kita. Standarnya sebegini… orang Indonesia umurnya segini.”

Ia menekankan bahwa dominasi negara lain bukan hanya pada produk, tetapi juga pada cara berpikir masyarakat. Dedi mencontohkan bagaimana negara lain memahami kualitas bahan pangan yang masuk ke Indonesia karena mereka yang menguasai rantai produksinya.

“Bahan baku tempenya dari saya, saya sudah tahu itu kualitasnya. Dagingnya dari saya… saya sudah tahu isinya apa. Kamu umurnya sekian, nanti ada penyakitnya ini.”

Menurutnya, ketika teknologi, alat kesehatan, dan keahlian medis juga berasal dari negara yang sama, maka posisi Indonesia menjadi semakin lemah. Pada ujung pidatonya, ia memberi peringatan keras: “Dan ketika penyakitnya ini ahlinya dari saya, alat kesehatannya dari saya, teknologinya dari saya, kamu akan jadi bangsa dungu…”

Pernyataan bernada keras itu dapat dibaca sebagai ajakan Dedi agar publik melakukan refleksi mendalam mengenai arah pembangunan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini.

 

Unggahan Humas Jawa Barat ini kini memicu diskusi luas, mulai dari evaluasi pembangunan nasional, ketergantungan impor, hingga tantangan besar dalam menyiapkan generasi muda yang lebih kritis dan mandiri. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#pernyataan #dedi mulyadi #Belanda menjajah indonesia #hutan gundul #viral