RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), Joao Angelo De Sousa Mota resmi mundur dari jabatannya pada Senin malam (11/8). Joao hanya enam bulan berada dalam kursi tertinggi perusahaan BUMN tersebut.
“Kami dengan sangat menyesal, memohon maaf kepada seluruh warga negara, khususnya kepada petani, kepada negara, dan Presiden (Prabowo Subianto) yang sudah menunjuk kami untuk mengemban jabatan ini,” ungkap Joao dalam konferensi pers kepada awak media nasional, sebagaimana dikutip dari Antara.
PT Agrinas Pangan Nusantara (APN) sendiri merupakan salah satu BUMN baru bentukan Presiden Prabowo yang bergerak di bidang pangan, sebelumnya bernama PT Yodya Karya yang bergerak di bidang konsultasi konstruksi. Secara hukum, PT APN dibentuk melalui Surat Menteri BUMN No. S-63/MBU/02/2025 pada Februari lalu.
Joao mengaku mundur dari jabatannya karena merasa tidak percaya diri, setelah menilai perusahaan belum dapat memberikan kontribusi kepada negara selama dipimpin olehnya. “Kami sampai hari ini belum dapat memberikan konstribusi yang nyata dan langsung kepada ekonomi negara, maupun konstribusi kami dalam mewujudkan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Sebaliknya, Joao juga mengeluhkan kurangnya dukungan finansial dari BPI Danantara selaku perusahaan holding dan pemegang saham terbesar PT APN. Tentu, tanpa pembiayaan, PT APN tidak dapat melaksanakan program apapun yang ditugaskan.
“Keseriusan Presiden dalam mendukung dan menggerakan segala upaya untuk mewujudkan kedaulatan pangan tidak didukung sepenuhnya oleh stakeholder atau orang-orang pembantu-pembantunya. Kami melihat pihak Danantara belum memahami atau tidak memberikan kesadaran bahwa keadaan pangan kita sedang tidak baik-baik saja,” beber Joao.
Di samping Danantara secara umum, Joao juga melempar cibiran terhadap jajaran eksekutif perusahaan tersebut yang dianggap lamban dan berbelit0belit dalam proses birokrasi antara PT APN dan Danantara. Secara spesifik, Joao dan PT APN tidak pernah mendapatkan umpan balik atas studi kelayakan mereka, padahal mereka sudah bekerja berulang kali untuk menghasilkan studi tersebut.
"Budaya ini ternyata sangat jauh daripada yang kami praktekan selama ini sehingga saya melihat semangat dan keseriusan Pak Prabowo yang luar biasa tidak didukung oleh pembantu-pembantunya. Termasuk teman-teman di Danantara masih terbelenggu dengan administrasi yang sangat panjang, bertumpang tindih, dan tidak pernah selesai," jelas Joao.
Sepeninggal Joao, operasional PT APN dikembalikan kepada Danantara selaku perusahaan holding. CEO Danantara, Rosan Roeslani menjamin proses transisi PT APN akan berjalan mulus dan tidak mengganggu kinerja kedua perusahaan.
“Keputusan ini kami hargai sebagai langkah profesional, dan akan diproses sesuai ketentuan serta tata kelola perusahaan yang berlaku. Proses transisi kepemimpinan akan dilakukan secara tertib, terukur, dan terencana untuk memastikan kelancaran program strategis serta kesinambungan arah dan tujuan perusahaan," ujar Rosan usai konferensi pers. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana