RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa cuaca ekstrem yang masih terjadi di awal Juli 2025 dipicu oleh kombinasi anomali iklim, gangguan atmosfer regional, dan bibit siklon tropis.
Masyarakat diminta waspada terhadap hujan lebat, banjir, dan gelombang tinggi, terutama di wilayah perairan terbuka dan daerah rawan bencana.
Meski sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau, BMKG menyatakan bahwa kondisi atmosfer dan laut masih menunjukkan ketidakstabilan signifikan. Hal ini menyebabkan potensi cuaca ekstrem tetap tinggi di awal Juli, terutama di wilayah timur dan selatan Indonesia.
"Cuaca ekstrem juga masih berlangsung hingga awal Juli, seperti pada 2 Juli kemarin saat curah hujan ekstrem tercatat di Stasiun Geofisika Deli Serdang sebesar 142 mm, dan di Rendani, Papua Barat, sebesar 103 mm," ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam siaran pers yang dirilis Kamis (3/7).
Fenomena Global dan Regional Jadi Pemicu
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer yang kompleks menjadi faktor utama cuaca ekstrem saat ini. Beberapa pemicu yang teridentifikasi antara lain:
- Monsun Australia yang masih lemah,
- Gelombang ekuator aktif seperti Rossby dan Kelvin,
- Serta kelembapan udara tinggi di wilayah selatan Indonesia.
“Meski fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) sedang kurang aktif, udara lembap dan gelombang atmosfer ini tetap mendukung pembentukan awan hujan di wilayah yang seharusnya sudah kemarau secara klimatologis,” jelas Guswanto.
Bibit Siklon dan Sirkulasi Siklonik Perkuat Potensi Cuaca Ekstrem
BMKG juga mencatat keberadaan bibit siklon tropis 98W di sekitar Luzon, Filipina. Meski tidak berdampak langsung ke wilayah Indonesia, bibit ini menyebabkan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan, yang turut memicu gelombang tinggi di wilayah perairan Indonesia.
Selain itu, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera dan Samudera Pasifik utara Papua Nugini membentuk zona konvergensi dan konfluensi yang berpotensi memperparah cuaca ekstrem.
“Fenomena ini meningkatkan risiko gelombang tinggi dan hujan lebat, terutama di perairan seperti Laut Jawa, Laut Flores, dan wilayah Maluku bagian utara. Ini harus menjadi perhatian serius bagi pelayaran dan nelayan,” tegas Guswanto.
Prakiraan Cuaca 4–10 Juli: Siaga Hujan dan Angin Kencang
BMKG merilis prakiraan cuaca mingguan periode 4–10 Juli 2025, yang menunjukkan bahwa potensi hujan lebat dan angin kencang masih tinggi:
- Tanggal 4–6 Juli: Siaga hujan lebat di Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua Selatan.
- Angin kencang berpeluang terjadi di Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, serta beberapa wilayah di Sulawesi dan Papua.
- Tanggal 7–10 Juli: Papua Pegunungan diperkirakan mengalami hujan sangat lebat, sementara Maluku masih dalam kategori siaga.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, khususnya terhadap potensi banjir bandang, tanah longsor, dan gangguan aktivitas harian akibat cuaca buruk.
Baca Juga: Perkiraan Cuaca di Blora Hari Ini Berpotensi Terjadi Hujan Ringan Hingga Sedang
Akses Data Cuaca Jadi Kunci Pengambilan Keputusan
Menutup pernyataannya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menekankan bahwa seluruh pemangku kepentingan, dari sektor pemerintahan, kebencanaan, hingga logistik dan pariwisata, perlu menjadikan data cuaca sebagai landasan utama perencanaan.
“Cuaca saat ini tidak bisa hanya diandalkan dari kebiasaan. Kita harus berbasis data dan siap menghadapi iklim yang makin dinamis. Informasi lengkap bisa diakses lewat aplikasi infoBMKG dan kanal resmi @infoBMKG,” ujarnya. (kam)
Editor : Hakam Alghivari