Memasuki dunia seni tari bagi Maryoto adalah sebuah pencarian atas kepuasan diri. Dengan tari, dia bisa berkeliling kota untuk mengenalkan budaya Blora. Motivasi itu juga yang diberikan ke siswa-siswinya. Mencari pengalaman sejauh mungkin. (RAHUL OSCARA, Blora)
Maryoto masih ingat penampilan perdananya sebagai pada 1999 silam. Dia tergabung dengan kelompok seni tari barong desa Gotputuk Kecamatan Ngawen. Penampilannya kala itu menarik perhatian para penonton. Kelompoknya pun berhasil meraih juara pertama.
‘’Setelah saya tampil itu saya ditelpon dan diajak gabung. Katanya tertarik dengan saya yang menampilkan salto-salto. cah lemu kok awake lincah,’’ ungkap pria yang akrab disapa Toteng itu.
Toteng kemudian aktif bergabung di Sanggar Guntur Seto. Aktivitasnya bersama Sanggar Guntur Seto yang seringkali mewakili Blora saat tampil di luar daerah. Itu memberikan pengalaman baru baginya.
Dia tak menyangka, seni tari bisa membawanya ke berbagai daerah di Nusantara. Meskipun sudah mulai melanglang buana di berbagai kota saat bersama Guntur Seto, ia masih bingung tentang cita-citanya.
Lulus SMA dia mendaftar di akademi keperawatan. Kemudian mengikuti pelatihan di balai latihan kerja (BLK) Rembang untuk belajar otomotif.
Toteng juga sempat kuliah teknik mesin di salah satu kampus di Solo selama sepekan. Namun semua itu ternyata tak membuatnya yakin dalam memutuskan pilihan-pilihan tersebut. Akhirnya kembali ke dunia tari.
‘’Puncaknya pada 2003 saya tertarik dan memutuskan untuk masuk di ISI Solo. Jurusan seni tari. Lulus 2008,’’ terang pria yang juga sebagai guru seni tari di SMK Muhammadiyah 1 Blora.
Berbagai ilmu dan pengalaman yang didapatkan saat kuliah tak dilahap sendiri. Saat kembali ke kampung halamannya, Toteng mulai melatih tari di beberapa sekolah. Beberapa jenis tari kreasi juga diciptakannya. Mulai dari ringkik gindrang yang menggambarkan prajurit berkuda dalam pertunjukan barongan Blora, tarian sawung tladung yang terinspirasi dari sabung ayam, hingga sang rimang yang menggambarkan kegagahan kuda tunggangan Arya Penangsang.
Racikan-racikan kreasi tari itu memberikan prestasi bagi siswa-siswinya. Berbagai kejuaraan telah didapatkan murid yang didampinginya. Diantaranya Tari Sawung Tladung mendapat juara favorit saat tampil di Magelang, Tari Noro Lodro jadi juara 1 tingkat Pakujembara pada 2021, serta berbagai prestasi lainnya dari tingkat lokal hingga nasional.
‘’Saya selalu berusaha agar bisa memberikan yang terbaik. Bocah-bocah itu punya pengalaman sampai sejauh mungkin. Kuncinya hanya tanggung jawab dan disiplin. Cuma itu saja,’’ tegasnya. (*/zim) Editor : M. Yusuf Purwanto