Karena itu, lahirlah Bale Parawangsa yang diinisiasi Rasa Rahman, Agus Sigro, dan Ekopeye. Sebuah ruang pamer yang bisa digunakan pameran tanpa dipungut biaya.
Rahman mengungkapkan, bahwa Bale Parawangsa merupakan rumah kontrakan yang dibayar pakai uang patungan para pegiat seni di Bojonegoro sejak 1 Juli lalu. Bale Parawangsa ingin merangkul komunitas-komunitas di Bojonegoro. “Kami tidak dari satu komunitas saja, tapi membuka untuk semua komunitas yang ingin pakai Bale Parawangsa untuk ragam kegiatan,” ucapnya.
Bahkan tak hanya untuk pameran. Tapi bisa dipakai untuk acara bedah film, bedah buku, bedah lukisan, diskusi, workshop, dan sebagainya. “Jadi semangatnya memberikan ruang untuk berkarya,” ujarnya.
Tentang keberlanjutan sewa kontrak rumah, menampung donasi dari para pengunjung.
Juga mengajak para seniman lain untuk ikut menghidupkan Bale Parawangsa yang berlokasi di Jalan Mliwis Putih turut Kelurahan Ngrowo itu. “Kata Bale kami pilih karena jarang digunakan, artinya rumah. Kalau gedung, graha, atau griya sudah terlalu biasa. Lalu para itu bermakna segenap dan wangsa bermakna kelompok,” terangnya.
Ekopeye menambahkan, bahwa daripada uang habis untuk sewa gedung pameran, lebih baik uangnya untuk berkarya. Seperti sekarang ini, Bale Parawangsa dipakai pameran duet Ekopeye bersama Kanang Hariyanto dengan tema sketsa. Sekitar 50 sketsa dipajang, dipamerkan, dan dijual bagi ada yang tertarik.
“Pameran dibuka selama dua minggu, pada 14-28 Juli. Selain pameran, ada acara demo sketsa dan bedah karya sketsa,” tambahnya.
Dia mengungkapkan, sudah tiga acara yang digelar di Bale Parawangsa. Di antaranya pameran fotografi, pameran puisi, dan pameran tunggal lukisan. Harapannya, makin banyak orang Bojonegoro yang tahu kalau ada ruang pamer gratis tersebut. (bgs/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto