DUA puluh delapan tahun lagi Blora akan berusia lebih matang karena genap 300 tahun. Tahun ini usia 272 sebenarnya juga termasuk usia sudah lebih dari matang. Karena jika manusia itu sudah hidup generasi ketiga. Menuju usia tiga abad itu Blora setiap tahun selalu menunjukkan progres selalu baik, termasuk tahun ini.
Sekarang gambaran tentang Blora ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer di salah satu bukunya berjudul Cerita dari Blora sudah semakin memudar. Karena selama ini setiap di Blora membahas kemiskinan dan nikah dini saya selalu teringat dengan sosok Inem anak gadis usia delapan tahun yang dinikahkan itu.
Namun, berangsur-angsur kondisi di Blora lebih baik di sektor perekonomian, infrastruktur, dan kemiskinan. Sosok Inem ini juga semakin hilang dari bayang-bayang. Saya selalu berdoa sosok Inem ini tak akan pernah ada lagi di Blora.
Menjelang tiga abad ini juga mulai tampaknya secercah harapan. Seperti adanya Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo. Selanjutnya, Bendungan Randugunting juga akan dibangun lagi bendungan di sisi selatan Blora yakni Bendungan Karangnongko. Proyek-proyek berskala besar banyak ditempatkan di Blora.
Sekilas jika melihat pembangunan skala nasional itu warga akan ada rasa bangga ada bendungan. Ada bandara. Tapi saya sempat berdiskusi dengan salah satu teman analisanya cukup unik. Menurutnya ke depan, bakal disiapkan hal besar untuk Blora. Salah satunya adanya dua bendungan besar di sisi barat dan selatan Blora.
Yang mana itu nanti menjadi penyuplai air setelah selama ini Blora dikenal daerah cukup sulit air. Nantinya Bandara Ngloram berada di sisi timur akan menjadi akses kendaraan. Blora bakal menarik banyak perusahaan besar untuk beroperasi. Ini pemikiran yang menarik.
Analisa itu kemudian saya sambung dengan Perda Rencana Tat Ruang Wilayah (RTRW) yang baru saja disahkan tahun ini. Setidaknya, kawasan peruntukan industri (KPI) disiapkan seluas 1.200 hektare dengan 14 titik wilayah tersebar di beberapa kecamatan.
Hanya, atas adanya KPI ini belum ada perusahaan besar benar-benar ingin berinvestasi. Penyebabnya harga tanah di lokasi ditetapkan KPI dikuasai makelar tanah. Sehingga harga tanah sudah tinggi. Banyak investor putar balik arah, seperti pada 2020 lalu ada dua investor gagal mendirikan pabrik di Blora karena harga tanah mahal.
Padahal, perusahaan-perusahaan itu bisa membuat ribuan lowongan kerja di Blora. Itu memang menjadi kendala. Tapi, itu saya kira hanya sedikit dinamika tentu pemkab akan bisa mengatasi sehingga bisa membuat iklim investasi di Blora kondusif. Tapi jika tidak, perusahaan-perusaan besar akan memilih pergi dan mendirikan di kabupaten tetangga. Sehingga kejadian Exxonmobile Cepu Limited akan terulang lagi.
Pada usia 272 ini Kecamatan Cepu berangsur-ansur masa kejayaannya akan kembali. Jika dulu Cepu merupakan kota penting karena merupakan pusat industri migas dan kayu jati. Belanda kemudian mendirikan dua stasiun dan perusahaan listrik sendiri di Cepu. Kini kejayaan itu berangsung kembali dengan adanya Bandara Ngloram, bahkan kini Cepu akan menjadi pusat pendidikan migas.
Terbaru hubungan antara Blora dan kabupaten sekitar juga semakin erat. Dari pemerintah pusat ada gagasan pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) migas di Kabupaten Blora, Bojonegoro, Tuban, dan Ngawi. Sehingga dengan begitu banyak investor masuk.
Dari sisi sumber daya alam lain, Blora memiliki wilayah lebih 50 persen berupa hutan jati. Ini bisa dimanfaatkan dengan lebih baik. Saat ini kayu jati Blora banyak diolah dengan baik dengan berbagai kerajinan. Belum lagi bakal dikelolanya wilayah hutan di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) di Kecamatan Kradenan dikelola UGM.
Di perbatasan Blora-Ngawi di Desa Megeri akan menjadi kota baru. Karena nanti akan menjadi kampus baru UGM. Jadi mahasiswa jurusan kehutanan akan kuliah di sana. Jadi bakal jadi kota baru, bahkan saya sudah melihat master plan nantinya akan dibentuk integrated forest farming system (IFFS) atau sistem pertanian dan kehutanan secara terintegrasi melibatkan masyarakat desa di wilayah hutan. Dibangun gedung-gedung besar bahkan gapura masuk wilayah ini sangat besar. Jika benar terrealisasi itu merupakan kota baru.
Lalu populasi sapi terbesar di Jawa Tengah, jika rencana pengelolaan sapi terintregasi. Nanti cita-cita Blora menjadi pusat sapi akan terwujutkan.
Dari sumber daya manusia (SDM) Blora mendapatkan bonus demografi. Sehingga menguntungkan. Tinggal bagaimana penguatan SDM di Blora agar lebih baik dari segi pendidikan dan kesehatan bisa menghadapi berbagai tantangan.
Semua ini jika memang berjalan dengan baik, maka 28 tahun ke depannya Blora bisa menjadi sangat luar biasa di usia 300 tahun nanti. Ini yang diharapkan agar bisa menuju Blora emas. Amiin.
*) Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro
Editor : M. Yusuf Purwanto