Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Modal Patungan, Andalkan Pendapatan dari Rental Studio

M. Yusuf Purwanto • Selasa, 2 November 2021 | 18:51 WIB
Modal Patungan, Andalkan Pendapatan dari Rental Studio
Modal Patungan, Andalkan Pendapatan dari Rental Studio

Pecel Lele Record ingin ekosistem musik di Lamongan bisa berjalan dengan baik. Label rekaman independen itu sudah memproduksi karya empat musisi lokal.



Tiga band dan satu solois Lamongan menggelar konser bertajuk Pler Fest Volume 1 pada sebuah kafe di Jalan Basuki Rahmat, Lamongan (16/10). Di balik penampilan musisi-musisi lokal tersebut, ada sebuah label indie yang mengorbitkannya. Yakni Pecel Lele Record.
‘’Kita adakan konser dengan konsep new normal. Modalnya patungan dan jual merchandise. Bikin 100 tiket, sold out H-3. Ternyata teman-teman di Lamongan banyak yang haus hiburan,’’ kata pendiri Pecel Lele Record, Okky Indraloka, kemarin (1/11).
Pecel Lele Record awalnya sebuah label rekaman fiktif. Awal 2018, band Woodplane hendak merilis album. Biasanya, dalam perilisan album harus disertai dengan taken label. Okky beserta empat rekannya, berinisiatif agar di album tersebut ditulis label rekamannya Pecel Lele Record.  
‘’Kenapa namanya Pecel Lele? Ya karena Woodplane itu dari Lamongan, ya sudah ditulis saja Pecel Lele Record. Terlebih isi-isi lagunya juga menceritakan tentang kondisi sosial Lamongan. Jadi nama labelnya cuma sebatas tulisan di sampul album,’’ tuturnya.
Setahun kemudian, ada band Lamongan lainnya, Deruh, ingin diproduseri oleh Pecel Lele Record. Okky, Sketsa Awan Merah, Embong Aji Pamungkas, Gawong Satya Pambudi, dan Fikra Zacky sepakat serius mengelola label rekaman tersebut.
‘’Deruh pingin rilis mini album. Kita yang urus dari A sampai Z. Seperti mendesain cover CD, distribusi ke digital music platform, bikinin video klip, bikini konser, dan lain-lain. Kebanyakan band di Lamongan kalau sudah punya lagu bingung mau di bawa ke mana. Nah, kita jembatani itu,’’ jelasnya.
Saat memroduseri Deruh, Okky dan empat founder Pecel Lele Record harus patungan pakai uang pribadi. Totalnya Rp 15 juta. Berselang lima bulan, label rekaman indie ini berhasil balik modal. Band Deruh berhasil dipasarkan dan ada sponsor yang tertarik.
‘’Saat itu kita nggak dapat untung sama sekali. Karena niatnya ingin bantu secara kolektif. Kalau band-nya dapat keuntungan exposure dan royalti dari lagu-lagu yang diputarkan di digital music platform,’’ ungkap pria 29 tahun itu.
Setelah balik modal, lima pemuda tersebut memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah di Desa Made, Kecamatan Lamongan sebagai kantor sekaligus studio rekaman. Sedangkan fasilitas-fasilitas lainnya, memanfaatkan barang milik pribadi.
‘’Siapa yang punya PC, ya dibawa ke kantor. Lalu yang punya gitar atau alat musik lain bisa taruh di sini. Jadi sekarang sudah bisa produksi lagu di kantor sendiri,’’ ujar Okky.
Hingga saat ini, Pecel Lele Record belum memutuskan untuk menjadi label rekaman komersil. Operasional kantor sehari-hari mengandalkan pendapatan dari rental studio rekaman.
‘’Kita mikir dari mana dapat uang untuk bayar wifi, listrik, air, dan lain-lain. Sedangkan timeline yang kita buat nggak bisa jalan karena pandemi. Akhirnya kita siasati dengan sewa studio untuk recording dan jual merchandise. Asal bisa bayar listrik,’’ katanya.
Selain Woodplane dan Deruh, Pecel Lele Record juga memproduseri band Flourish dan solois Tisan. Musisi-musisi Lamongan tersebut memiliki karakter musik yang berbeda-beda. Namun dari materi lagu yang diciptakan memiliki kesamaan. Woodplane pernah menjalani tur di 10 kota. Sedangkan Deruh pernah tampil di event Rock In Celebes di Makassar.
‘’Lirik lagunya mengangkat fenomena sosial dan kearifan lokal Lamongan. Orang-orang luar jadi tahu kalau Lamongan juga punya band bagus. Nggak cuma terkenal karena Persela,’’ tuturnya.
Menurut Okky, tujuan utama label rekaman indie tidak hanya sekedar mengorbitkan musisi-musisi lokal. Juga untuk menciptakan ekosistem musik di Kota Soto ini.
‘’Tiga tahun terakhir di Lamongan nggak ada rental studio musik. Bahkan toko-toko alat musik pun nggak ada. Kita mau beli senar gitar saja harus ke Surabaya atau beli online,’’ imbuhnya.
Untuk menjadi musisi yang dikenal publik, pemuda asal Sukodadi ini menganjurkan agar band atau penyanyi benar-benar mematangkan materi lagunya.
‘’Dari tatanan audio, foto, dan lain-lain harus bagus pokoknya. Band yang serius sama yang nggak, pasti akan kelihatan bedanya,’’ tuturnya.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#boks #musisi lokal #lamongan