Radar Lamongan – Status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Lamongan telah turun menjadi level 3 hingga kemarin (5/9). Namun lokasi wisata masih belum boleh dibuka.
Akibatnya, selain pendapatan dari sektor wisata turun, juga membuat perekonomian di sekitar obyek wisata menjadi mati suri. Seperti terlihat di sekitar obyek wisata terbesar di Lamongan, Wisata Bahari Lamongan (WBL).
Pantauan wartawan koran ini, seluruh kios di dalam obyek wisata di kawasan pantura Jawa tersebut tutup total. Bahkan, sejumlah stan terlihat sudah tidak ada isinya. Juga seluruh warung di depan WBL ikut tutup. Pihak manajemen WBL belum mengetahui sampai kapan penutupan wisata tersebut.
‘’Sangat terimbas. Sampai sekarang kita masih tutup,’’ tutur Staf Marketing WBL, Abid kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (5/9).
Sebenarnya antusiasme masyarakat yang berkunjung cukup tinggi. Beberapa kali, terdapat rombongan dari luar daerah yang harus putar balik, karena mengira WBL sudah dibuka kembali. ‘’Kemarin ada rombongan bus dari Jogja, yang harus kembali karena masih tutup,’’ ujar Abid.
Ketika wartawan koran ini berada di pos jaga WBL, juga terdapat beberapa pengunjung yang datang. Namun, mereka harus putar balik karena wisata yang menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) terbesar bagi APBD Lamongan itu masih tutup. ‘’Setiap hari pasti ada pengunjung yang datang,’’ terang Abid.
Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Erdiana Renawati mengatakan, seluruh wisata masih tutup selama PPKM masih di level tiga. Pembukaan tempat wisata diperbolehkan ketika PPKM sudah turun ke level dua.
‘’Informasinya besok (hari ini) ada kepastian level tetap atau turun. Mudah-mudahan turun jadi level dua,’’ kata Dina, sapaan akrab Erdiana Renawati.
Menurut dia, sebenarnya Lamongan ada potensi untuk turun ke level dua, melihat dari pandemi yang mulai melandai. Namun, status PPKM Lamongan ikut regonal Surabaya. ‘’Semoga minggu ini sudah turun ke level dua, sehingga wisata sudah bisa buka,’’ ucap perempuan berjilbab tersebut.
Editor : Indra Gunawan