Radar Tuban - Setiap orang yang memutuskan untuk menjalani sebuah pernikahan, selalu berharap hubungannya akan langgeng hingga maut memisahkan. Setelah melangsungkan pernikahan, berharap menjalani kehidupan perkawinan yang bahagia dengan pasangan, memiliki ekonomi yang mapan, melahirkan anak-anak yang normal, sehat, dan berprestasi di sekolah. Sehingga, nantinya bisa mendapatkan pekerjaan layak dan mengantarkan anak-anaknya ke pernikahan. Hingga harapan menimang cucu dan menua bersama pasangan tercinta.
Namun demikian, apakah kenyataannya berjalan semulus dan semudah itu? Seiring berjalannya waktu, seringkali muncul permasalahan-permasalahan yang memicu stres perkawinan. Stres perkawinan adalah kondisi yang mengancam dan memunculkan masalah. Berasal dari segala sesuatu terkait kehidupan berumah tangga.
Berbeda dengan stres pada umumnya, stres perkawinan stresor dan proses pemaknaan bersifat diadik/melibatkan pasangan (Randall& Bodenmann, 2009; Story & Bradburry, 2004). Permasalahan-permasalahan yang muncul dalam perkawinan dan menyebabkan stres perkawinan bermacam-macam.
Ada yang bersumber dari relasi suami-istri seperti: berubahnya perasaan cinta, kehidupan percintaan menjadi hambar, perbedaan pendapat dan keyakinan, dan perselingkuhan. Pemicu lain rasa bosan terhadap pasangan, kebiasaan buruk pasangan yang mengubah mood dan lain-lain atau disebut stres internal.
Permasalahan lain yang berasal dari luar pasangan seperti masalah keuangan, masalah dengan mertua/ipar, lingkungan seputar tempat tinggal, permasalahan anak (stres eksternal). Beberapa permasalahan tersebut ada yang mampu diselesaikan. Namun, ada pula yang ber larut-larut hingga menyebabkan kerapuhan relasi yang mengancam keutuhan rumah tangga pasangan hingga berujung perceraian.
Apa yang harus dilakukan ketika muncul permasalahan yang menyebabkan stres perkawinan?
Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah melalui upaya pengendalian diri sendiri. Upaya pengendalian diri bisa dilakukan melalui beberapa langkah berikut: Mengenali respons stres diri dan pasangan ketika muncul permasalahan.
Bagaimana sih respons yang muncul ketika Anda dan pasangan stres? Apakah mengeluh sedih, gelisah dan gampang marah? Atau malas bertemu orang lain? Mudah lupa dan sulit konsentrasi? Atau muncul keluhan fisik seperti sakit mag, sakit kepala, kehilangan selera makan atau makan berlebih, kurang tidur atau tidur berlebih, dan lain-lain.
Mengenali respons pasangan membuat Anda mampu memahami, sehingga bisa memunculkan perilaku yang tepat. Menenangkan diri sendiri terlebih dulu sebelum membahas permasalahan dengan pasangan. Hal ini bisa dilakukan dengan relaksasi, melakukan yoga atau lainnya.
Selanjutnya, berusaha mengaktifkan akal sehat dengan berusaha berpikir positif. Lalu mencari hikmah dari permasalahan, mencari pembanding kondisi yang lebih buruk dari yang Anda alami, menerima peristiwa ini sebagai bagian dari hidup Anda dan menyusun rencana penyelesaian masalah.
Upaya ini harus dilakukan beberapa kali hingga Anda merasa bahwa ini adalah cara pandang dalam menghadapi permasalahan. Sehingga, Anda akan merasa tenang dan damai, bahkan dalam situasi konflik sekalipun.
Jadikan ini sebagai kebiasaan baru ketika menghadapi permasalahan dan kondisi stres. Dengan melakukan pengendalian diri, diharapkan Anda mampu merespons pasangan dan permasalahan yang dihadapi lebih baik.
Setelah Anda merasa tenang, upaya mengatasi permasalahan dan stres perkawinan bisa dilanjutkan dengan upaya pengendalian stres bersama pasangan di mana dalam tahap ini Anda bersama pasangan bersama-sama menghadapi situasi tersebut.
Bagaimana cara mengatasi persoalan rumah tangga?
Komunikasikan dengan jelas kepada pasangan situasi Anda. Cerita bagaimana perasaan Anda dan alasan Anda tertekan. Jika sumber stres adalah dari pasangan, maka bicarakan dengan tenang dan terbuka. Fokus pada solusi bukan “benar-salah”, “menang-kalah”. Karena suami istri bukan sebuah kompetisi, namun bagaimana menjalani bersama kehidupan rumah tangga.
Berpikir positif tentang pasangan. Jika muncul pikiran negatif maka ubah menjadi positif, fokus pada solusi, jangan berandai-andai (misalnya: jangan-jangan pasanganku....) Beri dukungan emosional kepada pasangan. Dengarkan ketika dia sedang mempunyai masalah, jangan menghakimi, dan berusahalah mengerti posisi pasangan.
Salah satu celah yang menyebabkan munculnya orang ketiga adalah perasaan tidak nyaman, tidak dimengerti, dan tidak didengarkan saat mengalami masalah, sementara kenyamanan ditemukan dari orang lain. Pada intinya adalah jangan pernah mengabaikan permasalahan yang muncul dalam kehidupan perkawinan, sekecil apa pun. Karena permasalahan jika tidak diselesaikan dengan baik akan menjadi permasalahan yang lebih besar dan mengancam keutuhan rumah tangga.
Fokus pada pengendalian diri yang dilanjutkan dengan pengendalian stres bersama pasangan menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah tanpa memunculkan permasalahan baru. Sesulit apa pun kondisi saat ini, ingatlah Anda pernah bahagia bersamanya. Memiliki tujuan untuk bersama selamanya. Berusahalah untuk tetap bertahan untuk mengarungi kehidupan pernikahan yang bahagia bersama pasangan tercinta.
Oleh:
Indartik, M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis)
S1 Psikologi Universitas Negeri Semarang | S2 Magister Profesi Psikologi Universitas Airlangga | Anggota Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) | Anggota Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) HIMPSI | Anggota Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI)
Layanan Psikologi INSPIRASI
Jalan Raya Kerek - Montong, RT 003 RW 002 Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, Tuban Telp. 081357907640
Editor : Indra Gunawan