Radar Bojonegoro - Ledre menjadi jajanan yang menerobos zaman. Dari zaman kehadiran warga Tionghoa di Kecamatan Padangan, Bojonegoro, hingga sampai saat ini. Sejarah panjang ledre membuat produsen yakin jika camilan ini akan abadi.
Perkampungan di barat Jembatan Padangan-Kasiman banyak terpasang plang bertuliskan ledre. Menunjukkan bahwa pemilik rumah dengan plang tersebut adalah pembuat ledre. Kawasan berdekatan Sungai Bengawan Solo itu masih banyak bangunan lama peninggalan zaman penjajahan.
Wilayah tersebut banyak yang menyebut sebagai kawasan Pecinan karena dihuni warga keturunan Tionghoa. Di permukiman padat tersebut, terdapat salah satu rumah keturunan Tionghoa sekaligus produsen ledre.
Rumahnya tidak berada di pinggir jalan. Harus melalui gang sempit hanya bisa dilalui pejalan kaki atau kendaraan roda dua. Cukup mencolok dengan bangunan lama masih terawat. Di depan rumah terdapat plang bertuliskan ledre NY. Alim Yuwono.
Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro sampai di rumah tersebut, Endang Sulastri penghuni rumah tersebut terlihat santai duduk di kursi. Gusar wajahnya menunjukkan ekspresi bingung, namun sikapnya tetap ramah mempersilakan masuk.
Perempuan asal Desa/Kecamatan Padangan itu merupakan generasi keempat pembuat ledre keturunan Tionghoa. Neneknya sudah membuat ledre jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Sedangkan ibunya Alim Yuwono membuat ledre sebelum masa perang.
Endang masih ingat ketika nenek dan ibunya membuat ledre di dalam rumah. Sedangkan, dia masih duduk di bangku SMP membantu mengantikan ibunya ketika beristirahat. “Membuat ledre tidak bisa ditinggal, eman jika tidak lanjutkan sehingga menggantikan ibu ketika istirahat makan,” tuturnya memulai cerita.
Perempuan berambut bob pendek itu mengatakan ledre mulai dipasarkan sekitar 1960. Hanya dibungkus plastik ukuran kecil. Tanpa kardus seperti sekarang ini. Berdasar literatur, ledre sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Website bojonegorokab.go.id, memastikan ledre kali pertama dibuat ketika masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Jepang pada 1943.
Langkanya bahan makanan membuat masyarakat kelaparan. Selanjutnya masyarakat mengolah bahan yang ada untuk makanan. Salah satunya Mak Min Tjie, keturunan Tionghoa mengolah adonan tepung beras yang dicampur dengan gaplek. Kemudian di cetak menggunakan wajan besar. Nama ledre diambil dari cara memasaknya dengan di edre-edre.
Ending meneruskan, semakin lama usaha keluarganya berjualan ledre makin berkembang. Banyak tetangga belajar membuat jajanan menyerupai gapit itu. Setelah bisa memproduksi ledre, para tetangga itu menjadi penyuplai ledre untuk usaha ibunya. Endang tetap meneruskan jejak turun-temurun ledre itu. Hanya saat itu, hanya menerima suplai ledre dari tetangganya.
“Sayang jika tidak ada yang meneruskan usaha turun-temurun ini,” terangnya. Baru sekitar 1990-an, ketika anak-anaknya sudah cukup besar, Endang mulai membuat ledre sendiri. Dengan peralatan sederhana, berupa tungku disusun dari bata. Serta wajan baja telah digunakan turun-temurun.
“Banyak dulu wajan baja, namun diberikan ke tatangga yang membuat ledre,” jelasnya. Gegara pandemi korona, Endang berhenti membuat ledre dan mengandalkan suplai dari tetangganya. Sekitar tujuh orang bekerja sama dengannya.
Zaman terus bergerak, pembuatan ledre terus menjalar. Hingga masyarakat Kecamatan Purwosari juga memproduksi kudapan khas Bojonegoro ini. Rumiyati pembuat ledre di Desa/Kecamatan Purwosari mulai membuat ledre sejak 2014. Menjadi generasi ketiga pembuat ledre. Meneruskan jejak kakeknya yang memproduksi ledre sejak 2007 silam.
Kakek Rumiyati mulai membuat ledre dan mengemasnya sendiri. Merasa prihatin dengan banyaknya warga desanya yang membuat ledre justru menjualnya secara curah ke Kecamatan Padangan. “Kakek membeli ledre warga desa dengan harga lebih tinggi,” terangnya.
Rumiyati meneruskan usaha kakeknya karena disayangkan jika warga desa kembali menjual hasil ledre ke Padangan. Dan pembeli tidak tahu bahwa penyuplai ledre berasal dari luar Padangan. Terlebih dengan membuat ledre, warga sekitar mampu mandapat penghasilan tambahan. Sekitar Rp 200 ribu dalam tiga hari. Namun tetap bisa bekerja di sawah.
Kini, Rumiyati mengembangkan ledre dipasarkan ke luar daerah. Bahkan masuk ke mal dengan label halal. Juga membuat ledre kudapan khas melon dan cokelat. “Namun rasa original paling diminati,” jelasnya. (irv)
Editor : Indra Gunawan