Suratno Kondhodarmono mewarisi ilmu dalang dari bapaknya. Dia juga memegang teguh pantangan mendalang yang dipesankan orang tuanya sebelum meninggal.
M GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan,Lamongan
Lingkungan di Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung siang itu lengang. Cuaca panas membuat sebagian warga enggan keluar rumah. Di salah satu rumah di desa itu, seseorang sibuk membetulkan peti berukuran 2x 3 meter (m). Peti itu berisi peralatan wayang kulit milik dalang Suratno Kondhodarmono, 39.
‘’Ya begini Mas, satu tahun ini hanya merawat wayang ini saja, biar tidak rusak saat dimainkan nanti,’’ tuturnya. Pandemi Covid-19 membuat hiburan yang mengundang kerumunan dibatasi.
Bahkan, dilarang. Pertunjukan wayang merupakan hiburan yang mengundang massa. Menjadi dalang merupakan jalan hidup Suratno. Dia sudah suka gamelan dan nembang Jawa sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Orang tuanya juga mengarahkan Suratno untuk mencintai kesenian tradisio nal tersebut. Karena di rumahnya banyak wayang kulit, maka setiap hari dia bergelut dengan benda yang dibentuk dengan wajah sejumlah tokoh itu.
Setelah kelas 5 SD, Suratno semakin sering berlatih dengan bapaknya. Selain belajar ndalang, dia juga ingin menguasai cara memainkan gamelan. ‘’Saya sempat berpikir, kalau saya dalang, siapa yang ngendang nanti,’’ tuturnya.
Saat duduk di bangku kelas XI SMK, Suratno memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Dia ingin menambah ilmu ndalang dan menyalurkan bakatnya. Suratno belajar ke sejumlah dalang di Tuban, Rembang, Pemalang, Trenggalek, Tulungagung, hingga Lumajang. ‘’Sampai saat ini pengalaman yang tak pernah saya lupakan, saat menggantikan orang tua sakit menjadi dalang,’’ kenang bapak dua anak ini.
Saat itu pada 2011, orang tuanya mendapat job dalang di wilayah Desa Tiwet, Kecamatan Turi. Saat hendak manggung, orang tua Suratno sakit. Sejumlah dalang dihubungi untuk mengisi acara tersebut. Namun, tidak ada yang bersedia. Suratno akhirnya memberanikan diri menggantikan peran bapaknya. Namun, sang bapak tetap hadir di lokasi untuk memantau penampilannya. Sebab, dikhawatirkan dirinya tak bisa menuntaskan pertunjukan.
‘’Pada saat meliaht saya main, orang tua menangis karena menganggap saya sudah mahir menjalankan wayang dengan judul Bima Suci,’’ kenangnya lagi.
Dua tahun kemudian, orang tuanya kembali sakit. Beberapa undangan pentas empat bulan sebelum acara ditolak. Namun, ada empat tempat yang sudah kesepakatan awal untuk manggung. Jadwal itu tak bisa dibatalkan. Suratno mengenang dua dari empat lokasi itu berada di Kecamatan Sukodadi. Sisanya di Kembangbahu dan desanya sendiri. ‘’Saat pentas di desa sendiri, ditunggui di lokasi meskipun orang tua posisi sakit,’’ kenangnya lagi.
Bahkan, saat pulang waktu itu, orang tuanya harus dipanggul banyak orang karena tak bisa jalan dan lemas. Sebelum meninggal, orang tuanya memberikan pesan khusus kepada Suratno. ‘’Silakan dalang, tapi jangan sampai besok saat dalang mayangi dan ruwat kolo sebelum mantu,’’ katanya mengingat pesan almarhum bapaknya.
Editor : Indra Gunawan