Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Widijono, Pembuat Lambang Kabupaten Bojonegoro Berpulang

Indra Gunawan • Sabtu, 16 Januari 2021 | 21:00 WIB
Widijono, Pembuat Lambang Kabupaten Bojonegoro Berpulang
Widijono, Pembuat Lambang Kabupaten Bojonegoro Berpulang

Almarhum Widijono layak menjadi sosok intelektual Bojonegoro. Mewariskan beragam karya aristektur untuk Bojonegoro. Mulai lambang Kabupaten Bojonegoro hingga bangunan dan hotel.


M. IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro


Wajah-wajah berduka masih terlihat dari keluarga di Kawasan Perumda itu kemarin (15/1). Mereka kehilangan sosok teladan. Yakni, Widijono. Bisa jadi kepulangan Widijono kehadapan Sang Pencipta menjadi duka masyarakat Bojonegoro.


Ternyata, sosok sederhana selama ini tinggal di Jalan Sawunggaling itu tak bisa lepas dari sejarah Bojonegoro. Widijono merupakan pencipta lambang Pemkab Bojonegoro. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya Rabu (13/1) lalu. Almarhum meninggal pada usia 70 tahun.


Jasanya tidak hanya lambang kebanggaan masyarakat Bojonegoro tersebut. Ternyata, almarhum lulusan arsitektur itu banyak mewariskan karya bagi Kota Ledre ini. Beberapa bangunan berdiri atas jasa bapak delapan anak tersebut.


Karena desain dan arsitektur merupakan hasil goresan tangannya. Lilik Satfopati adik almarhum Widijono menggambarkan almarhum sebagai sosok kakak menjadi panutan adik-adiknya. Mulai dari dunia seni hingga kepribadian. “Sering mendampingi dan bermain bersama,” ungkapnya dengan mata berkacakaca dan napas memberat.


Almarhum memiliki jiwa tegar. Ngemong. Suka memberikan motivasi adik dan putra-putranya. Menurut Lilik, kakaknya lulusan asitek ITN Malang. Setelah lulus sebagai sarjana muda bekerja di dinas pekerjaan umum. Saat itu sebagai pengamat wilayah. Dan membuat desain beberapa bangunan penting di Bojonegoro.


Beberapa warisan karya almarhum meliputi Terminal Rajekwesi lama, gedung DPRD lama, dan tribun di alun-alun. Namun semua sudah tak sesuai desain awal. Banyak mengalami renovasi. Hanya beberapa bangunan masih utuh sesuai gambar awal. Mulai patung pahlawan di Makam Pahlawan, Hotel Wina, hingga Hotel Sahabat.


“Yang masih beberapa bangunan milik swasta,” jelas pria tinggal di Kawasan Perumda itu. Dalam membuat lambang Bojonegoro yang disahkan pada 1977 itu, anak ketiga dari depalan bersaudara itu menggambar secara manual.


Almarhum pensiuanan PNS itu memikirkan komposisi lambang sesuai dengan kondisi Bojonegoro. Makna lambang juga sesuai gambaran Bojonegoro. Hampir 43 tahun, lambang kombinasi merah putih tertera gambar padi dan kapas itu masih utuh dan digunakan hingga saat ini. Lambang juga terdapat tulisan moto: Jer Karta Raharja Mawa Karya. Artinya, Jika Ingin Sejahtera Harus Bekerja.


Sayangnya dokumen terkait logo tersebut tak dimiliki pihak keluarga. Dokumen setebal buku itu diperkirakan rusak akibat banjir besar Desember 2007 lalu. “Masih ada dokumen yang disimpan pemerintah,” ungkap Lilik.


Almarhum Widijono memiliki kecintaan terhadap beragam seni. Mulai seni rupa hingga musik. Bahkan selepas purna di pemerintahan, rela menggunakan uang pensiunnya untuk membeli peralatan musik. Lalu, membuka studio musik. Studio tersebut diberi nama Saga. Kepanjangan dari Sawunggaling. Merujuk pada lokasi studio dan rumahnya di Jalan Sawunggaling.


“Dari delapan bersaudara semua bisa bemain musik. Tapi yang paling dominan Almarhum Widijono. Seakan-akan jiwanya sudah menyatu dengan seni,” jelas pria kelahiran Kabupaten Tuban itu.


Jiwa seni Almarhum Widijono menurun ke delapan anaknya. Semua anaknya diajari bermusik. Meski dengan alat musik berbeda-beda. “Bisa mengetahui alat musik cocok dengan anak-anaknya,” ujarnya.


Lilik masih ingat prinsip hidup kakaknya. Yaitu “Bahwa hidup itu bukan siapa yang terbaik, tapi hidup siapa yang berbuat baik”. Karena menjadi terbaik mudah, namun untuk berbuat baik itu harus diutamakan. “Mau jadi terbaik di suatu tinggal belajar, tapi percuma ketika tidak baik dengan sesama,” jelasnya.


Almarhum kelahiran Lamongan sempat memiliki rencana untuk membangun patung Gajahmada dan Angling Dharmo, kala itu sebagai ikon Bojonegoro. Namun, tak bisa terlaksana karena tidak ada investor. “Sudah digambar, rencananya ditem patkan di perempatan Jalan Sawung galing atau Polwil,” ungkapnya.


Lilik menyayangkan perhatian kurang dari pemerintah setempat. Padahal, jasa almarhum sangat besar untuk Kabupaten Bojonegoro. Lambang yang dibuat menjadi kebanggaan dan digunakan semua hal terkait pemerintah. Mulai ditempel dibaju kedinasan hingga menjadi kop surat. Penghargaan yang diberikan pemerintah hanya berupa piagam diberikan ketika upacara Hari Jadi ke 338 Bojonegoro, persisnya 2015 lalu. Selain itu tak lagi ada perhatian apapun. Baik untuk Almarhum Widijono maupun keturunannya.

Editor : Indra Gunawan
#bojonegoro