Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Wayang Thengul Rawan Mandul, Tersisa Tiga Perajin dan 13 Dalang

Indra Gunawan • Kamis, 29 Oktober 2020 | 16:00 WIB
Wayang Thengul Rawan Mandul, Tersisa Tiga Perajin dan 13 Dalang
Wayang Thengul Rawan Mandul, Tersisa Tiga Perajin dan 13 Dalang

Radar Bojonegoro - Wayang thengul adalah seni budaya asli Bojonegoro yang kini menusantara. Namun, di balik kesenian menjadi ikon Bojonegoro itu, ternyata ketir-ketir akan punah. Atau mandul, yakni tak ada penerus atau regenerasi. Saat ini, tersisa tiga perajin dan 13 dalang. Diperlukan langkah taktis regenerasi agar wayang thengul pada 2018 diakui sebagai salah satu warisan budaya tak benda nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tetap eksis sebagai khazanah budaya. 


Wayang-wayang itu berjejer di kursi tamu rumah sederhana di Dusun Kalangan, Desa/Kecamatan Padangan. Ada dua jenis wayang yang dipajang, yakni krucil dan thengul. Ornamen wayang menghiasai rumah milik Santoso. Lelaki berusia 75 tahun ini merupakan perajin wayang thengul.


Thengul adalah wayang asli Bojonegoro. Usianya diperkirakan sudah ratusan tahun. Santoso sudah menekuni pembuatan kerajinan wayang thengul sejak masih duduk di bangku sekolah rakyat (SR). Kini, disebut sekolah dasar (SD). Kala itu, kakek 75 tahun itu sering melihat pertunjukan wayang thengul di wilayah Kecamatan Padangan. Dari situ, Santoso berikhtiar menekuni wayang thengul ‘’Itu sekitar tahun 1950- an,’’ ujar Santoso ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin siang (28/10).


Selain Santoso, masih ada Muriyadi, 65, di Desa/ Kecamatan Purwosari. Juga, Suwarno, 58, perajin asal Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo. Tiga kakek inilah perajin wayang thengul yang masih terjaga. Tentu, mengkhawatirkan jika wayang yang sudah diakui dunia ini mendadak tak ada penerus. Perajin wayang thengul di Bojonegoro tidak banyak.


Dinas Kebudayaan dan Pariwisara (Disbudpar) Bojonegoro mencatat, hingga kini hanya ada tiga perajin wayang asli Bojonegoro itu. Mereka ada di Kecamatan Padangan, Margomulyo, dan Purwosari. Sedangkan dalangnya masih tersisa 13 orang. Jumlah perajin wayang thengul ini terus berkurang.


Sebelumnya ada lima perajin, namun dua pembudaya wayang thengul itu kapundut atau meninggal dunia. Sedangkan, dalang wayang thengul bukannya bertambah, tapi juga menipis. Dua bulan lalu, satu dalang meninggal dunia, sehingga kini menyisakan 13 dalang.


Diperlukan upaya regenerasi agar keberadaan mereka tidak punah. Sebab, tidak banyak renegerasi muda bersedia menekuninya. Sekaligus, butuh komitmen pemerintah agar wayang thengul ini menjadi punah karena tak ada yang meneruskan.


Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Susetyo mengatakan, regenerasi perajin wayang thengul memang sangat diperlukan. Sebab, jumlah mereka hanya tinggal tiga perajin. ‘’Kami sebenarnya sudah memikirkan itu. Namun, saat ini masih belum bisa direalisasikan,’’ ujarnya kemarin (28/10).


Disbudpar berencana menggelar pelatihan pembuatan wayang thengul. Sehingga, jumlah perajinnya semakin banyak. Namun, kendala dialami adalah pemberdayaan jangka panjang. Yakni, pemasaran produk mereka hasilkan. Ke depan arahnya tidak hanya sebagai perajin saja. Namun, diharapkan kerajinan wayang thengul yang mereka hasilnya bisa menjadi oleh-oleh khas Bojonegoro. ‘’Bisa kami tempatkan di tempat wisata. Namun, produknya ukurannya harus lebih kecil,’’ ujarnya.


‘’Kalau saat ini untuk suvenir tidak mungkin. Ukurannya terlalu besar dan harganya lebih mahal,’’ sambungnya. Dalangnya juga harus ditambah. Saat ini hanya tersisa 13 orang. Dua bulan lalu masih ada 14 orang. Namun, satu orang sudah meninggal. Sehingga, hanya sisa 13 orang itu.


Berdasar literature, kata thengul dalam penuturan masyarakat berasal dari kata “methentheng” dan “methungul”. Setidaknya, mengartikan wayang terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi, tentu dalang harus “methentheng” (tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar “methungul” (muncul dan terlihat penonton).


Selama ini para perajin sudah meregenerasi sendiri. Mereka menurunkan bakatnya ke anaknya. Itu selama ini terjadi. Seperti dilakukan Santoso perajin wayang thengul asal Desa/ Kecamatan Padangan itu. Santoso meneruskan kepiawaian membuat wayang thengul kepada lima anaknya.


Semuanya, bisa membuat wayang thengul. Namun, hanya satu anak menekuni seni ukir wayang thengul. ‘’Lainnya pilih bekerja di bidang lain,’’ tuturnya. Muriadi perajin wayang thengul lain mengatakan, anak-anaknya juga tidak ada yang mau meneruskan membuat wayang thengul. Mereka pilih bekerja di bidang masing-masing. Sebenarnya satu anak Muriadi ada yang berbakat. Namun, anaknya itu lebih memilih jadi tukang kayu. ‘’Tidak mau membuat thengul,’’ tuturnya. 

Editor : Indra Gunawan
#bojonegoro