LAMONGAN, Radar Lamongan – Jamaah calon (JCH) Lamongan sudah menjalankan puncak ibadah haji di Arafah. Yakni melakukan wukuf pada Sabtu (10/8) hingga tenggelam matahari. Dilanjutkan mabit dan mengambil kerikil ke Muzdalifah. “Alhamdulillah, kondisi jamaah (lamongan) semuanya sehat, meski cuaca cukup panas, mencapai 45 derajat,’’ kata Plt Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Lamongan, Khoirul Anam kemarin (11/8).
Menurut dia, meski cuaca sangat panas, seluruh jamaah haji Lamongan bisa bergerak menuju mina dan persiapan menuju Jumarot untuk lempar Jumrah Aqobah. Dilanjutkan 11 Dzulhijjah lempar jumrah ke ula, wustho, aqobah (bagi yang mengambil nafar awal). Jika mengambil nafar tsani, 13 Dzulhijjah kembali lembar jumrah ula, wustho, dan aqobah. Setelah melakukan lontar jumroh. ‘’Calon jamaah haji melanjutkan tawaf ifadhloh dan sa’I, diteruskan tahalul tsani,’’ terangnya. Jika seluruh kegiatan tersebut berhasil dilakukan, tambah dia, mereka tinggal menyelesaikan ibadah sunnah saja.
Anam berharap, seluruh jamaah menjaga kondisi tubuhnya. Karena dalam empat hari ke depan kegiatan cukup padat. Sementara cuaca cukup panas. “Memang kita pantau terus lewat petugas kesehatan, karena sekitar 1.068 jamaah kita risti (resiko tinggi),” ungkapnya.
Data terakhir, menurut dia, hanya satu jamaah haji asal Lamongan yang gagal berangkat karena anemia (kekurangan darah merah). Saat pemeriksaan jelang keberangkatan di kantor kesehatan pelabuhan (KKP), sebenarnya ada dua jama’ah dinyatakan tidak layak terbang karena anemia. Namun satu jamaah dinyatakan layak setelah mendapatkan perawatan. Tapi saat di perjalanan, ada satu jamaah yang meninggal dunia. “Jadi total ada dua batal berangkat, satu sakit dan satunya anemia,” katanya.
Secara administrasi, Anam mengklaim sudah diurus keluarganya di rumah. Sehingga keputusannya tergantung masing-masing keluarga. Para tamu Allah dijadwalkan datang pada 13 September untuk kloter 79. Sedangkan kloter 80, 81, dan 82 datang hari berikutnya. Anam menambahkan, untuk calon jama’ah haji yang mendaftar tahun ini akan menunggu antrean 26 tahun.
Editor : M. Yusuf Purwanto