BOJONEGORO - Jalan menuju Kecamatan Gondang kebanyakan meliuk. Membelah hutan. Selepas jalur hutan terlihatlah beberapa perkampungan. Rumah penduduk berjajar di tepi jalan. Masuk di Desa Pajeng, suasana kembali berubah.
Udara terasa lebih sejuk meski sinar matahari cukup menyengat. Di rumah-rumah penduduk berada di tepi jalan itu telah tumbuh pohon kelengkeng. Nyaris setiap pekarangan di rumah tepi jalan itu dipenuhi pohon kelengkeng. Jika pekarangannya luas. Ada dua pohon. Jika sempit, hanya sepohon.
Hijaunya daun kelengkeng membuat mata lebih segar. Apalagi, pohon semakin merunduk karena terlalu berat menahan buah. Pohon yang berbuah itu ditutup karung untuk menjaga kualitas buah kelengkeng dari serangan hama. Ada pula pohon masih berbungga.
Jika dilihat sepintas, memang biasa saja saat masuk di Desa Pajeng. Tapi, jika kendaraan dipelankan suasana perkebunan kelengkeng begitu melekat. Seolah, kelengkeng telah menjadi bagian dari desa di kawasan selatan Bojonegoro itu. Satu rumah satu pohon kelengkeng.
Kemis Hermanto, salah satu warga Desa Pajeng mengatakan, memiliki lebih dari satu pohon. Ada tanah miliknya yang ditanami kelengkeng. Selain Kemis, Dedy Kristiawan juga memiliki kebun kelengkeng.
Dia menceritakan, awalnya kelengkeng mulai banyak ditanami oleh warga sekitar 2011. Yakni, ada bantuan dari sebuah bank lokal di Jawa Timur membagikan bibit kelengkeng. Dari bibit itu, akhirnya warga banyak menanam kelengkeng di depan rumah.
Kondisi suhu udara dan kontur tanah bersahabat membuat kelengkeng bisa tumbuh dengan baik. Meski begitu, warga merawatnya. Kurun waktu setahun, kelengkeng tengah berbunga.
Warga pun girang sebentar lagi kelengkeng berbuah. Bahkan, belum sampai masak, buah sudah tega dipetik. Mereka penasaran menikmati buah kelengkeng tanpa harus jauh-jauh ke pasar membelinya ketika musimnya.
Menurut Dedy, setelah banyak berbuah, pemerintah mulai memberi bantuan bibit kelengkeng lagi. Warga menanam di pekarangan rumah dan kebun. Bahkan, pohon kelengkeng ditanam pada 2015 sudah berbuah.
Bagi Dedy, menjual hasil panen kelengkeng kepada para pengguna jalan melintas. Sebab, Desa Pajeng dilalui kendaraan akan menuju ke Nganjuk maupun akan menuju ke Bojonegoro. “Satu pohon itu bisa sampai 15 kilogram,” kata dia.
Rasa kelengkeng Desa Pajeng ini mampu bersaing dengan kelengkeng di pasar atau toko buah. Manisnya begitu terasa. Selain itu, buahnya tebal. “Kalau masyarakat masih dikonsumsi sendiri,” ucap pria juga Kepala Desa Pajeng ini.
Dia menceritakan, rencananya pihak desa akan mengonsep sebagai wisata buah kelengkeng. Apalagi, kelengkeng ini berbuah dua sampai tiga kali dalam setahun. Misalkan tahun ini, pada Maret berbuah, saat ini sudah berbunga. Tentu, November nanti akan berbuah lagi.
Jadi, jika nanti ada jadwal yang baik akan membawa dampak pada ekonomi masyarakat setempat. “Nanti kita akan buat jadwal. Kapan itu akan berbuah. Nanti ada semacam panen raya atau apalah,” kata dia.
Dedy menuturkan, potensi buah di Desa Pajeng cukup baik. Meski, masyarakat masih ada yang bertani padi hingga menanam bawang merah. Komoditi itulah yang cukup membantu perekonomian warga. Sedangkan, adanya buah akan menambah penghasilan warga.
Editor : Bachtiar Febrianto