DANDER - Karakteristik petani di Bojonegoro didominasi petani gurem. Yakni, petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare. Salah satu petani gurem asal Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Suparlan mengatakan, lahan sawah seluas 0,3 hektare itu sewa. Saat ini, dirinya persiapan tanam padi lagi. Hasil panennya pun langsung dijual ke tengkulak. “Tak pernah simpan hasil panen, pasti langsung dijual ke tengkulak sebelum dipanen,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Sekretaris Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro Bambang Sutopo mengatakan, kebiasaan petani sangat sulit menikmati nilai tambah gabah dari beras. Karena sebelum panen, pasti sudah dibeli tengkulak dari luar kota seperti Pati, Klaten, dan Lamongan. Memang perlu adanya peningkatan pengolahan pasca panen bagi petani di Bojonegoro. Salah satunya BUMDes di Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor, mampu mengolah pascapanen sehingga bisa menikmati nilai tambahnya. Pemkab juga mendirikan pengolahan di wilayah Dander.
“Tetapi kembali lagi pada mindset para petani agar bisa menikmati nilai tambah dengan cara mengelola pasca panen secara optimal,” ujarnya. Lahan panen selama Maret ditarget mencapai 46.671 hektare. Luasan tersebut didasarkan lahan tanam pada akhir 2017. Berdasarkan data tanam, pada Desember luas tanam padi mencapai 48.199 hektare. Dia pun menambahkan produktivitas tanaman padi saat ini sekitar 6,34 ton per hektare.
Editor : Muhammad Suaeb