Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sesepuh di Desa Wonocolo, Masih Simpan Stempel Lawas Bersejarah

Bachtiar Febrianto • Sabtu, 17 Maret 2018 | 19:53 WIB
Sesepuh di Desa Wonocolo, Masih Simpan Stempel Lawas Bersejarah
Sesepuh di Desa Wonocolo, Masih Simpan Stempel Lawas Bersejarah

FEATURES - Tak banyak orang bisa cerita tentang sejarah di Desa Wonocolo tentang sejarah minyak. Harjo Nur Hadi masih bisa bercerita dan cukup runtut. Dia menyimpan perkakas berbentuk stempel. Mbah Nur beranjak dari kursi. Tangannya menekan kursi yang dudukinya, lantas berdiri. Dia berjalan ke arah belakang rumahnya. Mengambil kopiah hitam yang sudah lusuh. Dari kopiah itu, dikeluarkan sebuah potongan kertas. Potongan kertas itu ada dua. Kertasnya bergaris. Setelah dibuka lipatan kertas itu. Terlihat ada cap stempel yang melekat warnya biru.


Di stempel itu terlihat jelas tulisan dengan ejaan lama. Ada tiga macam tulisan. Yang melingkar di bagian atas bertuliskan Persatuan Rakjat Desa. Kemudian melingkar ke bawah bertuliskan Hargomuljo – Wonotjolo. Sedangkan, di tengah bertuliskan Sumber Redjeki. 


Menurut pria berusia 88 tahun itu. Stempel lawas ada sekitar tahun 1980-an. Cukup wajar, sebab usai penjajah Jepang pergi dan Indonesia merdeka. Dari stempel itulah dia dapat meyakinkan cerita tentang kepemilikan sumur di Wonocolo dan Hargomulyo itu dimiliki warga. 


Bahkan, bupati di era itu memberikan surat sebagai dasar sumur tersebut dikelola oleh rakyat. Bukan, apa-apa. Saat itu memang negeri baru saja merdeka. Aset yang dibawa Belanda sebagian masih tertinggal. Praktis, setelah Belanda pergi sumur tak ada yang merawat. Rakyatlah yang merawat. 


Mbah Nur mengaku stempelnya pun masih disimpan. Itu sebagai bukti sejarah bahwa masyarakat saat itu pernah memiliki kuasa atas sumur setelah Belanda pergi. Sebab, dalam stempel itu memiliki makna bahwa warga pernah membuat sebuah perkumpulan sebagai bentuk solidaritas untuk mengelola sumur minyak tersebut. 


Mbah Nur menambahkan, pada 1958 dirinya pernah mengetahui Bupati Bojonegoro menurunkan surat bahwa sumur minyak ini adalah milik warga. Hanya, dia tak bisa menunjukkan surat itu karena sudah diserahkan pada lurah.  “Suratnya diminta lurah,” terang dia. 


Sementara itu, Mbah Paring, 65, warga Desa Hargomulyo, masih tetap menambang. Dia mengaku mengambil minyak ini sudah turun temurun dari kakek buyutnya. Untuk mengetahui titik minyak di daerah Hargomulyo dan Woncolo itu membutuhkan peta. Nah, peta itu adalah warisan dari Belanda. Tanpa ada peta tersebut, sulit sekali untuk mengetahui di mana letak sumur minyak tua tersebut. 


“Sudah sedari kecil saya ikut menambang. Dan sampai sekarang,” kata dia. Di kawasan sumur minyak Wonocolo dan Hargomulyo ini tidak hanya sekadar produksi minyak. Namun, ada warga yang melakukan penyulingan hingga menjadi bahan bakar yang bisa digunakan. Prosesnya pun masih tetap sederhana.

Editor : Bachtiar Febrianto
#bojonegoro #minyak