Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dokter Anto Sering Layani Pasien Lintas Kabupaten  - Propinsi 

Bachtiar Febrianto • Selasa, 13 Februari 2018 | 01:22 WIB
Dokter Anto Sering Layani Pasien Lintas Kabupaten  - Propinsi 
Dokter Anto Sering Layani Pasien Lintas Kabupaten  - Propinsi 


ADVERTORIAL - Menjadi dokter adalah impian kebanyakan orang dan menjadi dokter spesialis adalah impian kebanyakan dokter. Tapi sayangnya masih jarang yang mengimpikan menjadi dokter spesialis bedah saraf. Sebuah dokter spesialis yang masih langka di Indonesia. Menjadi seorang dokter merupakan cita-cita dari semua anak kecil.  Menolong ketika orang lain dalam kesusahan  ialah pelajaran pertama dari orang tua. Semua itu  menginspirasi dr Suhariyanto, SpBS yang biasa dipanggil dr Anto untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter spesialis bedah saraf.  


Matahari mulai menyingsing dari ufuk barat. Jam menunjukkan pukul 17.50. Saat itu,  tengah terjadi kecelakaan cukup hebat. Seorang pengendara terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena tidak sadar¸ sehingga harus segera mendapatkan penanganan intensif. 


Manajemen cepat dan tepat di IGD, pemeriksaan CT Scan, laboratorium, rontgen, dan lain – lain harus segera dilaksanakan. Ketika ditemukan perdarahan otak, maka itu suatu emergensi yang harus segera dilakukan operasi otak. Sehingga operasi menjadi pilihan agar pasien tersebut tetap bisa melihat dunia esok hari.  


‘’Cepat,  kita lakukan operasi sekarang,’’ pinta dr  Anto kepada timnya.  


Operasi kecelakaan lalu lintas (KLL)  berlangsung cukup lama.  Lepas pukul 22.45 operasi berhasil dilakukan. Dokter keluar ruangan dengan napas lega.  Keluarga di luar ruangan menyambut dengan tangis haru. 


Otak adalah suatu organ di tubuh manusia yang sangat vital. Di sanalah pusat dari seluruh koordinasi tubuh. Yang menggerakkn tangan, kaki, napas, lidah, mata, dan lain-lain. Maha karya Allah ini memang luar biasa. The brain n spine are amazing.Ada sekitar 100 milar sel otak manusia (neuron), dan sekitar 1 triliun sel pendukung (glia), dengan berat sekitar 1,4 kg di dalam tempurung tulang kepala/tengkorak.


Satu titik kecil di dalam otak mengendalikan bagian tubuh tertentu. Titik lain mengendalikan bagian tubuh yang lain. Dan titik-titik itu ada ribuan di dalam otak. Misalnya,  titik kecil dalam otak dimanipulasi bisa berakibat tangan orang menjadi gerak atau tidak gerak,  orang sehat menjadi gila atau sebaliknya. 


Begitu besar pengaruh otak,  sehingga pelaksanaan bedah otak membutuhkan ketelitian dan keuletan serta waktu yang lama dibanding bedah yang lain, serta yang terpenting adalah bakat dan berkah dari Allah SWT. Tanpa adanya keberkahan dari Allah SWT, maka semua usaha menjadi sia-sia.


Itulah sebabnya tidak jarang dr Anto disebut oleh pasien - pasiennya sebagai malaikat tanpa sayap, gifted hand (tangan berbakat). Sejak menjalani profesinya sebagai dokter spesialis bedah saraf (SpBS), sudah banyak pasien yang dikira mati oleh keluarganya bisa pulang dari rumah sakit dengan berjalan.


Pasien buta bisa membaca lagi, pasien tidak bisa berjalan pulang dengan berjalan, pasien tidak sadar pulang bisa sadar, dan lain sebagainya.


Sayangnya, profesi ini masih sangat jarang di Indonesia. Masih ada beberapa kabupaten di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur ini yang belum ada dokter spesialis bedah sarafnya. Misalnya, Probolinggo, Bondowoso, dan Pacitan. Bahkan ada propinsi yang tidak ada sama sekali. Misalnya  Papua dan Maluku. 


Saat ini di Indonesai hanya sekitar 310 dokter spesialis bedah saraf. Jumlah ini masih jauh/langka bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini yang sekitar 262 juta jiwa. Dan juga masih kalah banyak bila dibandingkan dengan jumlah dokter spesialis penyakit dalam di Indonesia yang saat ini sekitar 3.785 dokter.


Dan yang langka itu ternyata ada di sebuah kota kecil di utara Pulau Jawa, tepatnya di Lamongan. Maka tidak jarang dr Anto mendapatkan pasien dari wilayah-wilayah lain, lintas kabupaten dan propinsi.


Dokter Anto menceritakan,  menjadi seorang dokter bagi anak petani bukanlah perkara mudah.  Pendidikannya dimulai dari tanah kelahirannya di desa terpencil di Kabupaten Banyuwangi, sebuah kabupaten yang saat ini disulap menjadi tujuan wisata.  Namun,  dia bukan terlahir di kawasan kota, melainkan desa terpencil dekat hutan Banyuwangi.  Bahkan,  desa tersebut belum memiliki listrik. 


Sehingga perjuangannya untuk belajar selalu ditemani lampu oblek buatannya,  lampu dari botol bekas diberikan sumbu kain kemudian dinyalakan dengan minyak tanah.  Tapi,  semua itu tidak pernah menghalanginya untuk meraih cita-cita menjadi dokter.  Setiap hari,  puluhan buku berhasil dilalapnya dengan bantuan penerangan lampu oblek. 


Terkadang,  dia membaca sampai ketiduran,  saat bangun sudah mendapati hidung dan wajahnya penuh dengan jelaga hitam.  "Ini lucu,  tapi menarik untuk dikenang," kenang dokter langka yang dikarunia 5 anak ini.


Perjuangan sekolah dokter memang cukup berat. Setiap hari dia berikhtiar dengan berpuasa agar perjuangannya meraih gelar dokter umum di FKUB Malang segera didapat.  Alhasil, selama enam tahun (1994-2000), gelar tersebut berhasil diraihnya.  Mimpinya tidak berhenti di situ.


Dokter  Anto ingin melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis bedah saraf. Penantiannya cukup lama  karena terkendala biaya.  Dia harus berjuang dan bersaing dengan mahasiswa lainnya untuk mendapatkan beasiswa.  Beruntung,  pada 2006 berhasil mendapatkan beasiswa dokter spesialis bedah saraf di FK Unair RSUD Dr Soetomo Surabaya.  


Menurut dr Anto, apapun bisa terjadi dalam dunia ini. Tidak ada penghalang untuk kita meraih sukses jika terus berusaha.  Dia mencontohkan karirnya,  pekerjaannya menjadi seorang dokter spesialis bedah saraf di dua rumah sakit swasta sekaligus bukan perkara mudah. 


Saat ini dia praktek di RS Muhammadiyah Lamongan dan RS Aisyiyah Bojonegoro.  Perjuangannya meraih gelar spesialis cukup menguras tenaga, waktu,  perasaan,  dan biaya. Dia harus terpisah dengan keluarganya untuk sementara waktu.


Ada cerita yang tidak akan bisa dilupakannya. Ketika  buah hatinya yang ke-3 (Royhan) lahir (2006), awal perjuangannya menuntut ilmu bedah saraf. Sejak Royhan lahir,  dia tidak pernah tahu kapan anaknya bisa miring,  tengkurap hingga jalan. ‘’Tiba - tiba sudah kelas 1 SD," ujar suami dari Diah Rosma Puspitosari ini.


Dr Anto menaruh apresiasi besar terhadap sang istri.  Karena kesabarannya merawat anak - anak sendiri selama ditinggal menuntut pendidikan.  Bahkan harus berpindah - pindah kontrakan karena ekonomi pas-pasan.  Tapi tetap bersyukur karena hidup adalah perjuangan.  Menjadi dokter spesialis bedah saraf merupakan cita - citanya sejak kecil  karena terbiasa menemani sang ibu mbeteti ayam di waktu kecil.


Saat ini,  dr Anto sudah mengenyam buah manis dari perjuangannya.  Dikaruniai lima orang anak,  dari istri yang hebat.  Sesekali mengenang perjuangannya dalam meraih gelar dokter spesialis bedah saraf memang menyenangkan, di kala saat ini sudah puluhan kasus berhasil ditanganinya.


Diantaranya, perdarahan otak akibat KLL/pukulan kepala, perdarahan otak akibat stroke/pecah spontan pembuluh darah otak, tumor otak, infeksi otak, nyeri punggung, tumor atau patah tulang belakang kelainan bawaan pada otak dan tulang belakang bayi, dan masih banyak lagi.  Pekerjaan ini sangat dinikmatinya  karena merupakan cita-citanya sejak kecil. 


Editor : Bachtiar Febrianto
#boks #advertorial