Kecintaannya pada serial televisi Kamen Rider membawa Affan Akio menjadi seorang costume maker sekaligus costum player (cosplay). Kostum buatannya kerap menang kontes dan bisa dijadikan usaha sampingan mengisi sebuah event.
-------------------------------------------
BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro
-------------------------------------------
GENERASI 90-an pasti memiliki kenangan menonton serial televisi yang kerap dikenal Satria Baja Hitam. Sebuah tokoh pahlawan penyelamat bumi yang siap menghancurkan monster-monster yang mengganggu umat manusia.
Banyak sekali serial tersebut, sebab dari negeri asalnya Jepang, satria baja hitam merupakan salah satu jenis Kamen Rider atau masked rider.
Selama ini, banyak dari generasi 90-an yang masih menikmati serial televisi tersebut. Sehingga, tak heran, saking cintanya, mereka pun rela menghabiskan uang untuk membeli peralatan Kamen Rider atau bahkan membuat kostumnya sendiri.
Salah satu pemuda asal Bojonegoro, dengan keahliannya yang tekun, dia mampu membuat beberapa kostum Kamen Rider. Bermodalkan informasi dari internet dan berjejaring dengan kawan-kawan sehobi, pria muda itu sudah membuat empat kostum Kamen Rider.
Pertemuan dengan pemuda itu cukup beruntung. Sebab, dia sedang cuti selama dua minggu, sehingga bisa bertemu di rumahnya. Pemuda itu bernama Affan Akio, sosok yang kalem dan ramah.
Pria yang sedang berkarir di salah satu bank milik negara itu selalu menyempatkan pulang ke Bojonegoro apabila ada waktu senggang. Sebab, dia dinasnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Ketika mengunjungi rumahnya di wilayah Ngrowo, Bojonegoro, itu sedang ada beberapa tamu, yakni kawan dan saudaranya yang mungkin rindu dengannya. Namun, karena jam sudah menunjukkan pukul 21.00, para tamu pun pamit dan tak lama kemudian Affan mengambil kostum Kamen Rider-nya. Dia keluar dari kamarnya membawa satu buah kardus besar berisi kostum beserta atributnya.
Dia mengatakan bahwa kostum ini merupakan karakter Kamen Rider Diend. ’’Diend ini salah satu karakter di serial Kamen Rider Decade,” ujarnya. Ketika ditanya kenapa tidak membuat kostum karakter utamanya yang decade, dia menjawab proses kreatif membuat kostum tentu sangat dipengaruhi ketika saya menonton tuntas serial Kamen Rider Decade tersebut.
Affan, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa tak selamanya karakter utama yang menjadi pusat perhatian. Namun juga karakter pendukung lain yang justru memiliki daya tarik tersendiri bagi Affan. Sejujurnya, dia menyukai karakter-karakter antihero yang terlihat sangat unik ketika di dalam serial tersebut.
’’Kamen Rider Diend ini sangat sulit ditebak kepribadiannya. Kadang kala ia berada di pihak Tsukasa (Kamen Rider Decade), kadang kala ia berada di pihak musuh, atau justru tidak keduanya,” jelas pria kelahiran 1993 itu.
Kostum Kamen Rider Diend juga merupakan kostum yang pertama dia buat tiga tahun silam. Penggarapannya sangat rapi, walaupun kostum perdana. Bermodalkan bahan busa hati, kulit imitasi, lem vox, solasi kertas, gunting, dan cutter, dalam waktu lima bulan kostum pun jadi.
Pria yang juga salah satu pendiri komunitas Revolution of Bojonegoro Cosplayer (Rebeler) itu berbeda dengan pembuat kostum lain di Bojonegoro, dia tidak menggunakan cat semprot untuk pewarnaannya, melainkan kulit imitasi. ’’Lebih mahal sih kalau kulit imitasi.
Tetapi, dari segi keawetan jelas terjaga, warnanya pun lebih terlihat terang dan glossy,” katanya. Tetapi, sebelum membuat kostum, Affan sebelumnya membeli atribut Kamen Rider seperti DX Henshin Belt yang biasa digunakan untuk berubah di serialnya. ’’Pasti sebelum buat kostum, saya sudah punya belt-nya dulu,” ujarnya.
Dia juga menyebutkan, biaya membuat kostum sekitar Rp 700 ribu, lalu ditambah atribut yang harganya minimal Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Jadi, menurut dia, hobi membuat kostum tetap butuh modal yang banyak. ’’Hobi yang terlihat kekanak-kanakkan namun butuh modal banyak, tetapi mau bagaimana lagi sudah hobi,” jelasnya.
Setelah membuat kostum Kamen Rider Diend, dia membuat Kamen Rider Dark Kiva, Gokaiger warna merah, dan Kamen Rider 555. ’’Semua kostum itu saya buat ketika di Banjarmasin, tetapi saat akhir pekan saja,” ucapnya. Setelah membuat kostum, dia pun selalu terbesit pikiran untuk ikut lomba. ’’Rasanya rugi kalau bikin kostum susah-susah, tetapi tidak pernah ikut lomba atau kontes,” jelasnya.
Dia pun tiap tahunnya selalu membawa pulang trofi juara saat kontes di Banjarmasin. Sejak tahun lalu dan tahun ini, Affan memboyong juara 1 di Tabalong Natsu Matsuri berturut-turut. Di Banjarmasin, dia juga merupakan inisiator komunitas cosplay di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Dia mulai dengan cara sebar brosur di kampus-kampus, hingga pada akhirnya terbentuk dan terus regenerasi hingga sekarang. ’’Karena memang saat di Banjarmasin belum menemukan kawan sehobi, sehingga bikin komunitas sendiri,” jelasnya.
Sedangkan, bersama komunitasnya di Bojonegoro, Affan juga kerap mengisi event-event yang diadakan oleh komunitasnya. Sekaligus berbagi ilmu membuat kostum spesialis armor. ’’Berbagi ilmu dan informasi seputar kostum, terkadang juga meracuni dx belt, hehe,” katanya.
Adapun dia sekarang juga sedang menggarap kostum Gundam, dia memilih karakter Gundam Destiny yang juga merupakan karakter antihero.
Editor : Bachtiar Febrianto