Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Merawat Tembakau, Mengolah Kehidupan

Bachtiar Febrianto • Kamis, 30 November 2017 | 13:30 WIB
merawat-tembakau-mengolah-kehidupan
merawat-tembakau-mengolah-kehidupan


Panas cukup terik di lokasi pabrik kretek Oeloeng di Desa Gunungsari, Kecamatan Baureno.  Kretek klobot ditata di atas tampah (tempat berbentuk bundar dari anyaman bambu, Red). Lalu, diletakkan di atas penopang untuk dipanaskan di bawah terik matahari.


Sore menjelang, puluhan tampah yang berisi ratusan kretek klobot dimasukkan ke ruang oven. Ruangannya cukup lebar. 


Di ruang oven, ada kayu yang sudah dibentuk secara bertingkat. Tampah berisi klobot tersebut lalu diletakkan bertingkat.


Pintu ditutup. Proses oven pun dimulai. Cara ovennya tak menggunakan mesin. Tapi, menggunakan arang. 


’’Kita masih menggunakan cara tradisional untuk oven tembakau,’’kata mandor pabrik Oeloeng, Ismail Hariaji. 


Satu-satunya pabrik kretek yang masih setia dengan klobot adalah Oeloeng. Lokasinya di Desa Gunungsari, Kecamatan Baureno.


Usia Oeloeng hampir sama dengan usia Indonesia merdeka. 


Pendiri Oeleong adalah HM Sahlan Yunan. Seorang pedagang tembakau dari Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. 


Pada 1940-an, Sahlan mengirim tembakau dari Bojonegoro ke pabrik kretek di Kudus, Jawa Tengah.


Di Kudus, Sahlan bukan hanya mengirim tembakau. Namun, juga belajar membuat kretek. 


Lalu, berdiri pabrik kretek pertama di Bojonegoro pada 1945. Namanya pabrik rokok Republik Indonesia Merdeka (RIM). RIM berdiri di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. 


Pada 1951, pabrik rokok RIM mengubah namanya menjadi Oeloeng. Pada 1957, Oeloeng berkembang pesat.


Oeloeng membuat pabrik rokok klobot di Desa Gunungsari, Baureno. Ashadi ditunjuk menjadi pimpinan (mandor) pabrik Oeloeng di Gunungsari. 


Akhirnya, pada 1971, Oeloeng fokus mendirikan pabrik di Bojonegoro. Dua pabrik Oeloeng di Nganjuk dan Lamongan direlokasi ke Bojonegoro. 


Saat ini, sudah generasi ketiga dari Sahlan Yunan yang mengelola rokok Oeloeng. Pemilik Oeloeng saat ini adalah Ahmad Hubbala. 


Hingga kini, Oeloeng masih setia menggunakan tembakau lokal Bojonegoro. Ada dua jenis tembakau di Bojonegoro.


Yakni, tembakau tlatah dan tembakau perengan. Disebut tembakau tlatah karena ditanam di lahan pinggir Bengawan Solo.


Disebut tembakau perengan karena di tanam di lahan pinggir bukit di kawasan Bojonegoro bagian selatan. 


Tembakau ditanam kali pertama di Bojonegoro pada 1834. Sebelum tembakau ditanam di Bojonegoro, Belanda lebih dulu menanam di wilayah Kedu, Jawa Tengah pada 1832.


Namun, Belanda mengalami kegagalan panen tembakau di daerah Kedu. Kegagalan panen tembakau diakibatkan letusan Gunung Merapi. 


Di Bojonegoro, Belanda mulai mencoba menanam tembakau. Belanda memilih Bojonegoro ditanami tembakau karena Bojonegoro masuk dalam wilayah Karasidenan Rembang.


Saat itu, era tanam paksa hampir semua wilayah Karasidenan Rembang dipaksa menanam tembakau.


Belanda membutuhkan biaya perang. Karena itu, rakyat Indonesia dipaksa menanam tanaman produktif. Salah satunya adalah tembakau 


Pengamat kretek Bojonegoro, Zainuddin, menduga bahwa tembakau di Bojonegoro kali pertama ditanam di atas lahan pinggir Bengawan Solo.


Tepatnya di sekitar Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. Cangaan adalah desa di pinggiran Bengawan Solo. 


Pada awal abad 20-an,  jalur Bengawan Solo menjadi transportasi yang ramai.


Di Cangaan ada dermaga kecil untuk perahu dan kapal yang tak berukuran besar untuk berlabuh.


Perahu dan kapal dari dermaga ini membawa hasil perdagangan dari dan ke sejumlah wilayah di Jawa.


Termasuk membawa bibit tembakau ke Bojonegoro. Bahkan, diduga Islam masuk ke Bojonegoro juga bermula dari Cangaan. 


Menurut Zainuddin, pada saat itu, tanaman tembakau sudah ada di Bojonegoro, sebelum pabrik kretek berdiri di Cangaan dan Sarangan.


’’Belanda juga saat itu yang membawa tembakau ke Bojonegoro melalui pelabuhan kecil di Cangaan,’’ujar alumni Pondok Gontor ini. 


Sayang, tembakau yang ditanam di Bojonegoro tak bertahan lama. Petani tembakau terus merugi.


Penyebabnya, kemarau yang panjang. Kekeringan yang dahsyat mengakibatkan tanaman tembakau menjadi tak produktif.


Tanam tembakau di Bojonegoro pun akhirnya gagal. Rakyat Bojonegoro pun makin miskin.  (CLM Penders, Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty, 1984)


Pada awal abad ke-20 atau sekitar 1900, Belanda menerapkan politik Balas Budi. Belanda mengetahui posisi penting Bojonegoro, maka dibangunlah Waduk Pacal (1930).


Waduk Pacal mengaliri lebih dari tujuh kecamatan, mulai Bojonegoro bagian selatan hingga timur.


Terutama Bojonegoro bagian timur, merupakan wilayah penghasil tembakau. Maka, tumbuhlah tembakau tiap musim kemarau di Bojonegoro. 

Editor : Bachtiar Febrianto
#bojonegoro #tembakau