Niatnya yang tulus untuk mengabdi pada masyarakat menjadikannya meraih banyak prestasi. Sebagai sarjana peternakan, dia sehari-hari bergelut dengan sapi. Gara-gara sapi ini pula, dia pernah diundang belajar sampai ke Austaralia. Begitulah Wahyu Hari Abriyanti.
----------------------------
SRI WIYONO,Bojonegoro
----------------------------
Dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro ke- 340 beberapa hari lalu, Bupati Bojonegoro Suyoto memberikan penghargaan pada 100 lebih warga Bojonegoro yang dinilai berprestasi dan memberikan sumbangsih bagi masyarakat.
Salah satunya adalah Wahyu Hari Abriyanti. ’’Terima kasih atas penghargaan itu, sebenarnya apa yang saya lakukan ini belum apa-apa,’’ ujar Wahyu, sapaan akrabnya merendah.
Perempuan yang masih lajang ini mengaku capaiannya juga berkat dukungan masyarakat yang didampingi, dinas peternakan, dan banyak pihak.
Sebab, merekalah yang menurut dia mengajarinya harus berbuat banyak. ’’Saya masih muda, masih butuh banyak belajar lagi,’’ tutur perempuan jebolan Universitas Brawijaya (UB) Malang tahun 2013 ini.
Gadis asal Kecamatan Kedungadem ini kuliah di Fakultas Peternakan di UB. Sehingga, dia banyak mengerti mengenai dunia ternak.
Sejak lama dia berkeinginan untuk mengabdikan ilmunya dulu pada masyarakat Bojonegoro sebelum menikah.
Namun, setahun setelah dia lulus kuliah, harapan itu belum terkabul. ’’Karena setelah lulus kuliah saya justru bekerja di perusahaan di luar kota selama satu tahun,’’ ungkapnya.
Pada 2014, jalan pengabdian itu terbuka saat Dinas Peternakan Bojonegoro membuka lowongan pendamping sekolah peternakan rakyat (SPR).
Ada tiga lowongan yang dibuka. Karena, ada tiga SPR masing-masing di Kecamatan Kedungadem, Kasiman, dan Temayang yang butuh manajer.
Wahyu pun melamar, karena dia yakin jalan untuk mengabdi di daerah asalnya sudah terbuka. ’’Alhamdulillah, setelah seleksi saya lolos dan ditempatkan di Kasiman. Ini jawaban atas doa saya di masa lalu,’’ katanya.
Hidup di kecamatan membuatnya tahu bagaimana kondisi di daerah pinggiran. Fasilitas yang kurang dan banyak kondisi prihatin lainnya.
Meski begitu, dia tetap tercengang saat tiba di lokasi tugasnya. Yakni, di Dukuh Ngantru, Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman.
Sebuah desa yang terpelosok dan jauh dari keramaian. ’’Saya sempat kaget dan merasa wow. Kok ada ya daerah yang masih seperti ini,’’ ceritanya sambil tergelak.
Namun, niat dan tekad bulatnya menjadikan kondisi itu sebagai tantangan. Maka, jadilah dia harus berjibaku dan benar-benar berjuang.
Sebagai manajer di SPR, mestinya tugasnya hanya mencatat dan mengurus administrasi soal ternak sapi, populasi berapa, yang dijual berapa, dan sebagainya.
Namun, karena kondisi desa yang sangat terbatas, dia harus turun tangan untuk mengubah keadaan. Tingkat pendidikan masyarakatnya yang rata-rata rendah, menjadikan kesulitan tersendiri.
Komunikasi agak susah, terlebih diajari mengenai tata cara ternak dan mengelola sapi secara baik dan benar.
Para pemilik ternak juga masih hidup sendiri-sendiri, sehingga informasi mengenai ternak sulit disebarkan.
’’Jadi, saya harus mulai mengajari warga untuk berkelompok. Diskusi mengenai ternak dan lain sebagainya,’’ ungkap dia.
Itu tak mudah, karena peternak banyak yang tidak paham maksudnya. Bahkan, ada yang mencurigai, sehingga sulit didekati.
Namun, Wahyu tak patah arang. Maka, di bulan-bulan pertama dia tugas banyak mendatangi pemilik ternak satu persatu untuk diajak ngobrol soal sapi.
’’Agar kami dekat, setiap saya ke sana, selalu menginap di rumah warga pemilik ternak,’’ akunya.
Cara itu berhasil, karena lama-lama pemilik ternak mulai terbuka. Mau berkelompok dan saling tukar pengalaman.
Jika ada persoalan mengenai ternak juga sudah berani konsultasi. Meski belum semuanya, namun itu membuat SPR Mega Jaya Desa Sekaran mulai berkembang.
’’Di Sekaran ada sekitar 200 pemilik ternak dengan populasi 900-an ekor. Namun, yang gabung ke SPR baru 110-an peternak,’’ bebernya.
Para anggota inilah yang terus dia kelola dan dampingi. Hasilnya bisa dirasakan warga. Ternaknya tumbuh bagus.
Jika misalnya mau dijual, harga jualnya juga bagus, mau dikembangbiakkan juga menjanjikan.
Keberhasilan SPR binaan Wahyu ini ternyata juga dipantau Institut Pertanian Bogor (IPB).
Karena SPR ini juga binaan IPB. Selain di Jawa, SPR binaan IPB ada di Sumatera. SPR yang dipegang Wahyu menjadi yang terbaik.
’’Pada 18 Oktober lalu saya juga menerima penghargaan dari IPB di Jakarta,’’ jelasnya.
Bukan hanya di dalam negeri, karena luar negeri juga ikut memantau. Salah satunya adalah Australia yang dikenal dengan ternak sapinya.
Pada 2016 lalu, Wahyu menerima beasiswa dari Australia untuk memperdalam ilmu ternaknya di Negeri Kanguru tersebut.
’’Selama 1,5 bulan saya di Australia. Banyak pengalaman yang saya peroleh. Tentunya itu menjadi bekal saya semakin semangat memajukan Bojonegoro melalui bidang yang saya bisa.
Semoga, banyak pemuda lain yang mengikuti jejak saya untuk bersama membangun tempat kelahiran,’’ harapnya.
Editor : Bachtiar Febrianto