Desa Sedangharjo, Kecamatan Brondong, merupakan desa di pantura Lamongan yang belum kemasukan industri. Virus bertani yang terus ditularkan Mat Iskan membuat warga lebih senang tetap memanfaatkan lahannya daripada dijual ke pemilik modal industri.
ditulis oleh : BACHTIAR FEBRIANTO, Lamongan
Pantura Lamongan dikenal sebagai kawasan yang gersang dan panas. Di tangan Mat Iskan, kawasan tersebut mampu diubah menjadi kawasan pertanian yang produktif.
Pria 53 tahun itu tampil beda dengan inovasinya. Saat petani lain sibuk menanam padi, dia memilih menanam melon.
Buah yang ditanam itu juga tidak sembarangan. Mat Iskan memilih melon jenis Apollo golden yang biasa dijual di supermarket dengan harga mahal.
Ketika petani di kawasan lain sambat merugi karena harga padi jeblok, Mat Iskan justru menikmati keuntungan melimpah.
Dia mengantongi uang Rp 76 juta untuk hasil panen per hektare dengan masa tanam hanya dua bulan. Keuntungan itu mencapai 50 persen.
Dalam satu hektare, populasinya ada sekitar 16 ribu tanaman dan produksinya 20 - 23 ton. Biaya tanamnya sekitar Rp 94 juta.
Namun, hasilnya sekitar Rp 170 juta. Itu dengan perhitungan harga jual melon Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogram (kg).
‘’Sejak 1970 petani sangat tergantung kepada pupuk kimia, yang dalam jangka pendek bisa menyuburkan tanaman, tapi dalam jangka panjang justru membuat tanah menjadi tidak subur,’’ tuturnya.
Mat Iskan memilih meningkatkan bahan organik tanah dengan memerbanyak kompos yang sudah matang serta mengurangi pupuk kimia dan pestisida kimia. Inovasi bapak tiga anak tersebut tidak berhenti di situ.
Kawasan pantura yang gersang, berhasil direkayasa menjadi lahan produktif dengan menciptakan irigasi sistem tetes.
Sistem irigasi itu cukup efektif dan efisien melakukan pembasahan tanaman dengan jumlah air yang minimalis. Penghematan airnya mencapai hingga 60 persen.
Sistem irigasi tersebut sangat ideal diterapkan di kawasan pantura yang panas dan minim air tawar.
Berbagai inovasi Mat Iskan tersebut menarik perhatian warga di desanya untuk mengikuti langkahnya. Sebagian warga setempat mantap bekerja sebagai petani di tengah banyaknya warga yang beralih ke pekerjaan lain.
Sukses tersebut juga menarik perhatian berbagai kalangan untuk melakukan studi banding ke tempatnya.
Mulai kalangan akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian. Sedangkan studi banding dari kalangan petani dari desa lain sudah tak terhitung.
Dia sangat terobsesi membuat petani menjadi mandiri. Semua kegiatannya ditentukan sendiri, sehingga petani memiliki daya tawar. ‘’Kalau petani mandiri, saya yakin kesejahteraannya akan meningkat,’’ tuturnya.
Mat Iskan menjadi petani sejak usia 23 tahun. Dia mengikuti jejak ayahnya yang seorang petani. Seperti petani pada umumnya, saat itu hasil dari bertani tak menentu.
Dia sempat merangkap sebagai sekretaris desa. Pada 2009, dia baru fokus bertani secara inovatif. Termasuk melakukan sinergi dengan ternak bebek.
Dia pernah terpilih sebagai anggota DPRD Lamongan. Selain itu, Mat Iskan juga tetap bisa aktif sebagai ketua ormas Muhammadiyah di desanya.
‘’Alhamdulillah sejak itu, hasil dari bertani cukup menguntungkan dan diikuti warga lain, termasuk adik-adik kalangan muda. Saat itu saya berhasil membuktikan kalau bertani masih layak secara ekonomi kalau dilakukan secara sinergi,’’ tandasnya.
Editor : Bachtiar Febrianto