RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Upaya memperkuat Geopark Bojonegoro menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) terus dilakukan melalui penguatan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Pemandu Geosite Kedung Lantung yang diselenggarakan pada Kamis (4/6/2026) di Balai Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang dilaksanakan bekerja sama dengan LPPM Universitas Bojonegoro.
Program ini menjadi bentuk dukungan EMCL terhadap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam mengembangkan Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark. Dalam pelaksanaannya, program difokuskan pada dua aspek utama, yaitu penguatan infrastruktur geosite dan pemberdayaan masyarakat. Pada aspek pemberdayaan, EMCL bersama LPPM Universitas Bojonegoro merancang tujuh kali pelatihan untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai garda terdepan pengelolaan geosite.
Pelatihan perdana tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas kepemanduan wisata berbasis geowisata. Peserta memperoleh pemahaman mengenai keunikan geologi Kedung Lantung, mulai dari proses pembentukan geologi regional Pulau Jawa, terbentuknya struktur batuan dan rekahan geologi, hingga fenomena rembesan alami yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Materi disampaikan secara interaktif oleh Reza Fachruddin Zuhdi, geolog asal Bojonegoro yang aktif mendukung Tim Teknis Badan Pengelola Geopark Bojonegoro. Dengan pengalaman sebagai pendidik geologi sekaligus praktisi industri migas, Reza mengajak peserta memahami bahwa Kedung Lantung bukan sekadar destinasi wisata, melainkan situs yang menyimpan rekaman perjalanan bumi selama jutaan tahun.
Sebagai salah satu geosite unggulan Geopark Bojonegoro, Kedung Lantung memiliki nilai ilmiah penting karena memperlihatkan bukti proses geologi yang membentuk kawasan Jawa Timur. Keberadaan struktur batuan dan rembesan alami menjadikan lokasi ini sebagai laboratorium alam yang bernilai bagi pendidikan, penelitian, dan pengembangan geowisata. Bagi masyarakat lokal, geosite ini membuka peluang ekonomi baru berbasis wisata edukasi. Sementara dalam perspektif global, Kedung Lantung menjadi bagian dari upaya memahami dinamika geologi Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dunia.
Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, menegaskan bahwa pengembangan Geopark Bojonegoro merupakan salah satu bentuk kolaborasi perusahaan dalam mendukung pembangunan daerah.
"EMCL berkomitmen mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam pengembangan Geopark Bojonegoro. Kami percaya bahwa investasi terbaik tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada masyarakat yang akan menjadi penggerak dan penjaga warisan geologi tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Ketua LPPM Universitas Bojonegoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat sebagai bagian dari proses menuju UNESCO Global Geopark.
"Geopark tidak hanya dibangun dengan situs yang baik, tetapi juga dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi kunci keberhasilan Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark," ungkapnya.
Pelatihan berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Sebagian besar peserta merupakan generasi muda yang menunjukkan minat besar untuk terlibat dalam pengembangan geowisata daerahnya. Dari sepuluh anggota Pokdarwis yang mengikuti kegiatan, tiga di antaranya adalah perempuan yang aktif berpartisipasi dalam diskusi dan praktik lapangan. Selain menerima materi, peserta juga berlatih menjadi pemandu dengan mempresentasikan cerita geologi Kedung Lantung secara langsung, sehingga mampu menyampaikan informasi ilmiah kepada wisatawan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir pemandu-pemandu lokal yang mampu menjadi duta Geopark Bojonegoro, menghubungkan pengetahuan geologi dengan pengalaman wisata yang edukatif, sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan bumi yang dimiliki daerahnya. (edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana