Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lapangan Banyu Urip Kembali Rajai Produksi Minyak

Dhani Wahyu Alfiansyah • Selasa, 30 September 2025 | 23:48 WIB
MIGAS: External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar, saat wawancara cegat pada Selasa (30/9).
MIGAS: External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar, saat wawancara cegat pada Selasa (30/9).

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) melonjak signifikan setelah adanya penambahan sumur melalui proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC).

Dari sebelumnya berkisar di angka 150 ribu barel per hari (BOPD), kini produksi berhasil menembus lebih dari 180 ribu BOPD. Capaian ini kembali menempatkan Blok Cepu sebagai tulang punggung utama produksi migas nasional.

Kenaikan produksi tersebut sekaligus menjawab tantangan pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir produksi minyak Indonesia cenderung menurun. Kehadiran sumur-sumur baru dari proyek BUIC memberi angin segar bahwa Lapangan Banyu Urip masih menyimpan potensi besar yang bisa terus dioptimalkan.

External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar, menyebut keberhasilan BUIC menjadi faktor kunci di balik kenaikan produksi. Menurutnya, tambahan sumur di zona klastik berhasil meningkatkan produksi minyak secara signifikan dalam waktu relatif singkat. “Lapangan Banyu Urip dikelola EMCL kembali jadi nomor satu,” ujarnya.

Tezhart menambahkan, BUIC yang terdiri dari tujuh sumur infill memang dirancang untuk mengoptimalkan cadangan minyak di dalam blok. Beberapa sumur sudah mulai berproduksi, termasuk sumur B-12 yang diproyeksikan mampu menyumbang hingga 13 ribu BOPD. “Betul, karena adanya BUIC,” ungkapnya menegaskan.

Ia menjelaskan, capaian ini menunjukkan pentingnya inovasi dan pengembangan berkelanjutan dalam industri hulu migas. “Kami akan terus mengukur multiplier effect (efek pengganda), setiap akhir tahun,” tandasnya.

Menurutnya, multiplier effect ini tidak hanya terlihat dari sisi produksi, tetapi juga dari dampak ekonomi yang mengalir ke masyarakat sekitar wilayah operasi, mulai dari lapangan pekerjaan, peningkatan keterampilan tenaga lokal, hingga program-program pemberdayaan masyarakat.

Diketahui, sejak pertengahan 2025, EMCL melakukan uji coba pada sumur-sumur BUIC. Radar Bojonegoro mencatat, produksi tambahan yang semula diperkirakan sekitar 30 ribu BOPD, ternyata mampu mencapai 35 ribu BOPD dalam pengujian Juli 2025.

Capaian ini sekaligus mengembalikan Blok Cepu sebagai penopang utama produksi migas nasional, dan kini berkontribusi sekitar 25 persen terhadap lifting minyak nasional. Sebelumnya, produksi Banyu Urip sempat stagnan di kisaran 150 ribu BOPD.

Kondisi tersebut dipengaruhi faktor teknis dan jadwal pemeliharaan fasilitas. Bahkan pada Agustus lalu, EMCL menghentikan produksi sementara selama delapan hari untuk pemeliharaan tahunan. Langkah itu bagian dari program kerja yang disetujui SKK Migas, dengan tujuan menjaga keandalan fasilitas dalam jangka panjang. (dan)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#buick #skk migas #sumur #banyu urip #Kedung Keris #Produksi #exxonmobil cepu limited #produksi migas #Banyu Urip Infill Clastic #produksi minyak #blok cepu #emcl #minyak #migas