RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Ada kalanya orang tua bingung melihat perubahan perilaku anak ketika mulai besar. Anak yang dulu mudah diarahkan kini sering membantah, takut mencoba sesuatu sendiri, gampang menyerah, atau justru sangat marah ketika keinginannya tidak dituruti.
Perilaku seperti itu kerap dianggap sebagai bagian dari fase tumbuh kembang atau sekadar sifat anak. Namun, ada hal lain yang juga layak diperhatikan, yakni cara anak dibesarkan sejak kecil.
Pola pengasuhan tidak selalu berhenti pada satu generasi. Cara orang tua memperlakukan anak sering kali dipengaruhi pengalaman ketika mereka dulu dibesarkan. Dalam keluarga yang melibatkan kakek dan nenek dalam pengasuhan, kebiasaan lama pun bisa ikut terbawa ke generasi berikutnya.
Baca Juga: 7 Pentingnya Waktu Bermain bagi Tumbuh Kembang Anak
UNICEF menempatkan orang tua dan pengasuh sebagai pihak yang sangat berpengaruh dalam membentuk pengalaman anak sejak awal kehidupan. Pengasuhan yang responsif juga tetap penting ketika anak tumbuh melewati masa kanak-kanak awal.
Artinya, bukan berarti setiap perilaku anak pasti disebabkan pola asuh. Namun, kebiasaan yang terus berulang di rumah dapat menjadi salah satu hal yang ikut membentuk cara anak menghadapi emosi, aturan, kegagalan, maupun orang lain.
Lantas, perilaku apa saja yang patut menjadi bahan refleksi orang tua?
1. Anak sulit melakukan sesuatu sendiri
Kalimat seperti menawarkan untuk mengambil alih pekerjaan anak, melarangnya mencoba karena khawatir melakukan kesalahan, atau meminta nenek mengerjakan sesuatu untuknya mungkin terdengar sebagai bentuk perhatian. Masalahnya muncul ketika bantuan diberikan bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya sudah mampu dilakukan anak.
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sebagai bentuk perhatian. Masalahnya muncul ketika bantuan diberikan bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya sudah mampu dilakukan anak.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Pola Asuh Anak yang Bisa Merusak Kepercayaan Diri, Orang Tua Perlu Waspada
Anak akhirnya terbiasa menunggu orang dewasa mengambil alih. Ketika berada di sekolah atau lingkungan lain yang menuntut kemandirian, ia bisa terlihat ragu, takut mencoba, atau selalu mencari orang yang bisa membantunya.
Anak memang membutuhkan pendampingan. Namun, seiring bertambahnya usia, ruang untuk mencoba dan mengambil keputusan juga perlu diberikan. Penelitian yang dirangkum American Psychological Association menunjukkan bahwa pengasuhan yang terlalu mengontrol dapat berdampak pada kemampuan anak mengelola emosi dan perilakunya.
2. Mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan
Anak yang terbiasa selalu dibantu bisa mengalami kesulitan ketika harus menghadapi sesuatu yang tidak langsung berhasil.
Pekerjaan rumah terasa sulit sedikit, menyerah. Permainan tidak sesuai keinginan, berhenti. Mendapat kesalahan dari guru, langsung merasa tidak mampu.
Orang tua terkadang tanpa sadar memperkuat pola tersebut dengan terlalu cepat turun tangan.
“Sudah sini, Mama yang kerjakan.”
“Kalau susah, tidak usah.”
Padahal, anak juga perlu mengalami proses mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Memberi bantuan tidak selalu berarti mengambil alih seluruh pekerjaan.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Anak di Bojonegoro Masih Bermunculan
3. Sangat takut melakukan kesalahan
Ada anak yang terlihat begitu takut ketika jawabannya salah. Ia enggan mencoba sesuatu yang baru karena khawatir dimarahi atau dianggap tidak mampu.
Pola seperti ini bisa muncul ketika kesalahan sejak kecil lebih sering mendapatkan hukuman atau celaan daripada kesempatan untuk belajar.
Dalam pendekatan disiplin positif, kesalahan anak seharusnya menjadi kesempatan untuk mengajarkan perilaku yang lebih baik. American Psychological Association menekankan bahwa disiplin bertujuan membantu anak belajar mengelola emosi, memecahkan masalah, dan memahami perilaku yang diharapkan, bukan sekadar membuat anak takut terhadap hukuman.
Karena itu, kalimat “Kok begitu saja tidak bisa?” mungkin perlu diganti dengan pertanyaan yang membantu anak memahami kesalahannya.
4. Sulit menerima kata “tidak”
Anak yang sejak kecil hampir selalu mendapatkan apa yang diinginkan bisa mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan batasan.
Ketika keinginannya ditolak, reaksinya bisa berupa menangis, berteriak, marah, atau terus menawar sampai orang dewasa menyerah.
Di sinilah konsistensi orang tua penting. Pola pengasuhan yang hangat tetap membutuhkan batas yang jelas. APA menjelaskan bahwa gaya pengasuhan yang responsif sekaligus memiliki batas tegas berkaitan dengan kemampuan anak seperti kemandirian dan pengendalian diri.
Menuruti anak sesekali bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika orang dewasa selalu mengalah karena tidak tahan melihat anak kecewa.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Membantu Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak
5. Mudah membentak ketika keinginannya tidak terpenuhi
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang ia lihat setiap hari.
Jika komunikasi di rumah sering menggunakan bentakan, ancaman, atau penghinaan ketika seseorang melakukan kesalahan, anak dapat menangkap cara tersebut sebagai pola komunikasi yang wajar.
Bukan berarti setiap anak yang pernah melihat orang dewasa marah akan otomatis menjadi pemarah. Namun, cara orang dewasa menghadapi konflik menjadi salah satu model yang dapat diamati dan ditiru anak.
Karena itu, mengajarkan anak mengendalikan emosi juga dimulai dari bagaimana orang dewasa menunjukkan cara mengendalikan emosinya sendiri. APA juga menyarankan orang tua memberi contoh dalam mengelola kemarahan dan menggunakan kata-kata, bukan kekerasan, ketika mendisiplinkan anak.
6. Selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain
Ada anak yang sangat takut jika hasil pekerjaannya tidak dipuji. Ia terus bertanya, “Bagus, kan?”, “Mama suka, kan?” atau merasa gagal hanya karena tidak menjadi yang terbaik.
Pujian tentu penting. Tetapi jika sejak kecil penghargaan hampir selalu diberikan berdasarkan prestasi atau kepatuhan, anak bisa terbiasa mengukur dirinya dari penilaian orang lain.
Orang tua dapat mulai memberi apresiasi pada proses, usaha, keberanian mencoba, dan kemampuan anak memperbaiki kesalahan. Dengan begitu, anak belajar bahwa nilai dirinya tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir.
7. Sulit menyampaikan perasaan dengan cara yang sehat
“Jangan cengeng.”
“Anak laki-laki tidak boleh menangis.”
“Sudah, tidak usah marah.”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin sudah sangat akrab dalam sebagian keluarga. Niatnya sering kali baik: orang dewasa ingin anak cepat tenang atau menjadi kuat.
Namun, ketika emosi terus-menerus ditekan tanpa dibantu untuk dipahami, anak bisa kesulitan mengenali apa yang sebenarnya ia rasakan.
Padahal, kemampuan mengelola emosi tidak sama dengan tidak boleh menunjukkan emosi. Anak perlu belajar membedakan marah, kecewa, takut, sedih, dan frustrasi, kemudian memahami bagaimana mengekspresikannya dengan cara yang tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Ketika pola asuh kakek dan nenek ikut masuk
Dalam banyak keluarga, kakek dan nenek memiliki peran besar dalam kehidupan anak. Mereka bisa menjadi sumber kasih sayang, bantuan, sekaligus tempat anak merasa aman.
Kehadiran mereka bukan masalah. Yang menjadi tantangan adalah ketika orang tua dan kakek-nenek menerapkan aturan yang sangat berbeda, atau ketika pola pengasuhan lama terus dipertahankan hanya karena dianggap sudah terbukti berhasil.
“Dulu anak-anak juga dididik begitu.”
“Kalau tidak dimarahi, nanti jadi manja.”
“Anak harus menurut.”
Nilai-nilai tersebut tidak selalu salah. Namun, setiap generasi menghadapi situasi yang berbeda. Cara mendisiplinkan anak juga perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan anak.
UNICEF menekankan bahwa pengasuhan berlangsung sepanjang perjalanan tumbuh kembang anak dan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan. Dukungan terhadap pengasuh juga penting karena orang tua tidak selalu menjalankan pengasuhan sendirian.
Bukan mencari siapa yang salah
Menyadari adanya pengaruh pola asuh bukan berarti orang tua harus menyalahkan diri sendiri, apalagi menyalahkan kakek dan nenek.
Sebagian besar orang dewasa sebenarnya hanya mengulang cara yang dahulu mereka kenal. Mereka meneruskan apa yang menurut pengalaman mereka berhasil.
Yang penting adalah berani bertanya, apakah cara tersebut masih sesuai dengan kebutuhan anak sekarang?
Jika anak mulai sulit mandiri, mudah menyerah, takut salah, sulit menerima batasan, atau kesulitan mengelola emosinya, orang tua bisa melihat lebih jauh daripada sekadar memberi label “nakal” atau “manja”.
Perilaku anak dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali suasana di rumah.
Sebab, pola asuh bukan sesuatu yang sekali terbentuk lalu tidak bisa diubah. Orang tua juga belajar bersama anak. Ketika pola lama ternyata tidak lagi membantu, keluarga dapat membangun cara baru yang lebih sehat secara perlahan.
Yang perlu diputus bukan hubungan dengan generasi sebelumnya, melainkan kebiasaan pengasuhan yang sudah tidak lagi membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengelola emosi, dan bertanggung jawab.
Editor : Hakam Alghivari