Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Moh. Burhanudin: Kampanyekan Seni dan Budaya Lokal

Y
SOSOK: Moh. Burhanudin: Kampanyekan Seni dan Budaya Lokal
SOSOK: Moh. Burhanudin: Kampanyekan Seni dan Budaya Lokal

Advertisement

BERLATAR belakang sebagai guru seni budaya sekaligus seniman, Moh. Burhanudin akrab dengan kearifan lokal dan budaya sekitar. Dari seni dan budaya, ia mengaku, jadi lebih memahami nilai-nilai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. ‘’Karena itu saya lebih suka dan aktif di berbagai kegiatan seni, sastra, dan kebudayaan, khususnya di Bojonegoro,” ucap pria yang kini menjabat Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Margomulyo itu.

Menurut dia, banyak budaya yang harus dijaga. Salah satunya ajaran Samin Surosentiko. Bagi dia, bertugas di wilayah barat lokasi Kampung Samin berada merupakan anugerah tersendiri. Dari situ, kata ia, jadi lebih dekat dalam mempelajari dan mengetahui Samin lebih dekat. Bahkan, pria yang sebelumnya aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini membangun kedekatan ke tokoh adat Samin.

Advertisement

Ia kerap ndodok lawang atau bertandang ke rumah masyarakat Samin untuk belajar dan mengenal. Ia ingin menggaungkan dan kampanye seni dan budaya lokal. Patut dijaga dan dilestarikan. ‘’Apalagi di sekolah ini harus maju, tapi jangan sampai kehilangan akar budayanya,” tutur pria yang sebelumnya menjara di SMKN 5 Bojonegoro itu. (yna/msu)

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Nanin Meipuspa Ranie: Menjaga Ilmu Bahasa Jepang

Nanin Meipuspa Ranie: Menjaga Ilmu Bahasa Jepang

KESIBUKAN sebagai kepala sekolah tidak membuat Nanin Meipuspa Ranie meninggalkan dunia yang pernah digelutinya.

Abdul Jalil: Cinta Sastra

Abdul Jalil: Cinta Sastra

Dunia sastra dan teater menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup Abdul Jalil. Pria bergelar Magister itu mengemban amanah sebagai Kepala UPT SMAN 1 Sugihwaras Bojonegoro

Tuwuh Handayani Mendapat Gelar Doktor di Usia 52 Tahun

Tuwuh Handayani Mendapat Gelar Doktor di Usia 52 Tahun

USIA bukan penghalang untuk terus belajar. Di usia 52 tahun, Tuwuh Handayani berhasil menuntaskan pendidikan doktor (S-3) Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan IPK 4,00, predikat cumlaude.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer