RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menghadapi anak yang sering membantah, menolak perintah, atau bahkan melawan perkataan orang tua tentu bisa menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini terkadang membuat orang tua merasa kesal dan bingung menentukan cara yang tepat untuk menghadapinya.
Namun, perilaku anak yang sering melawan tidak selalu berarti anak nakal atau sengaja membuat masalah. Dalam banyak kasus, sikap tersebut dapat menjadi bagian dari proses perkembangan anak dalam mengenali emosi, menguji batasan, serta belajar menjadi lebih mandiri.
Penyebab Anak Sering Melawan
Ada beberapa hal yang dapat membuat anak lebih sering menunjukkan perilaku membantah atau menolak aturan.
1. Ingin menunjukkan kemandirian
Seiring bertambahnya usia, anak mulai memiliki keinginan untuk menentukan pilihan sendiri. Keinginan tersebut terkadang ditunjukkan dengan menolak perintah orang tua.
Baca Juga: Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum, Orang Tua Bisa Lakukan 7 Cara Ini
Misalnya, anak tidak mau segera mandi, membereskan mainan, atau berhenti bermain ketika diminta.
2. Kesulitan mengelola emosi
Anak belum selalu mampu mengungkapkan rasa marah, kecewa, takut, atau lelah dengan kata-kata. Akibatnya, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk membantah, berteriak, menangis, atau menolak.
3. Mencari perhatian
Pada beberapa kondisi, perilaku melawan dapat menjadi cara anak mendapatkan perhatian. Terlebih jika anak merasa lebih sering diperhatikan ketika melakukan sesuatu yang membuat orang tua bereaksi.
4. Aturan yang tidak konsisten
Anak bisa menjadi bingung ketika aturan di rumah berubah-ubah. Misalnya, suatu hari diperbolehkan bermain gawai sebelum tidur, tetapi keesokan harinya dilarang tanpa penjelasan yang jelas.
5. Meniru lingkungan sekitar
Anak belajar banyak hal dari orang-orang di sekitarnya. Cara berbicara, menyelesaikan konflik, hingga kebiasaan membantah dapat ditiru dari orang tua, saudara, teman, maupun tontonan yang mereka konsumsi.
Cara Menghadapi Anak yang Sering Melawan
Daripada langsung membalas dengan kemarahan, orang tua dapat mencoba beberapa pendekatan yang lebih tenang.
1. Tetap tenang
Ketika anak membantah, orang tua sebaiknya menghindari membalas dengan teriakan. Sikap tenang dapat membantu suasana menjadi lebih terkendali sehingga anak lebih mudah diajak berbicara.
Baca Juga: Penting! Ini 5 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan Saat Mengasuh Anak Balita
2. Dengarkan alasan anak
Sebelum memberikan hukuman atau teguran, cobalah mencari tahu alasan di balik perilakunya. Tanyakan dengan sederhana mengapa anak tidak mau mengikuti aturan.
3. Berikan pilihan sederhana
Memberikan pilihan dapat membantu anak merasa memiliki kendali tanpa menghilangkan batasan. Contohnya, “Mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” Dengan begitu, anak tetap memiliki pilihan tetapi masih berada dalam aturan yang ditetapkan.
4. Buat aturan yang jelas dan konsisten
Orang tua perlu membuat aturan yang mudah dipahami dan menerapkannya secara konsisten. Jelaskan pula alasan di balik aturan tersebut agar anak tidak merasa hanya diperintah.
5. Berikan apresiasi
Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak melakukan kesalahan. Ketika anak mampu mengikuti aturan, mengendalikan emosi, atau menyelesaikan sesuatu dengan baik, berikan pujian yang spesifik.
6. Hindari memberi label negatif
Sebutan seperti “anak nakal”, “keras kepala”, atau “susah diatur” dapat membuat anak merasa dirinya memang seperti itu. Sebaiknya, fokuskan teguran pada perilakunya, bukan memberikan label terhadap kepribadiannya.
Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?
Perilaku membantah sesekali dapat menjadi bagian dari perkembangan anak. Namun, orang tua perlu lebih memperhatikan apabila perilaku tersebut berlangsung terus-menerus, sangat intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan dengan keluarga atau teman, maupun disertai perilaku agresif yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
Dalam kondisi seperti itu, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional yang kompeten untuk mendapatkan penilaian dan saran yang sesuai.
Pada akhirnya, menghadapi anak yang sering melawan membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Orang tua tidak hanya perlu menetapkan batasan, tetapi juga membantu anak memahami emosi, konsekuensi, serta cara berkomunikasi yang lebih baik. Dengan pendekatan yang tepat, perilaku melawan dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengelola emosi dan berkembang menjadi pribadi yang lebih mandiri. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko