Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sering Tantrum? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapi Emosi Anak Balita

Andhika Feriawan
Penulis: Andhika Feriawan❯
Cara mencegah anak jadi tantrum. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Cara mencegah anak jadi tantrum. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tantrum merupakan salah satu perilaku yang cukup umum terjadi pada anak usia balita. Kondisi ini biasanya ditandai dengan menangis, berteriak, marah, berguling-guling, hingga menolak melakukan sesuatu. Meski sering membuat orang tua kewalahan, tantrum pada dasarnya merupakan bagian dari proses perkembangan emosi dan kemampuan komunikasi anak.

Pada usia balita, kemampuan anak untuk mengenali, mengendalikan, dan mengungkapkan perasaan masih berkembang. Ketika keinginannya tidak terpenuhi atau ia kesulitan menyampaikan apa yang dirasakan, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk tantrum.

Mengapa Balita Sering Tantrum ?

Advertisement

Ada berbagai faktor yang dapat memicu tantrum. Salah satunya adalah rasa lelah atau mengantuk. Anak yang kurang tidur biasanya lebih mudah rewel dan sulit mengendalikan emosinya.

Rasa lapar juga dapat menjadi pemicu. Balita yang belum makan dalam waktu cukup lama bisa menjadi lebih sensitif terhadap keadaan di sekitarnya.

Advertisement

Selain itu, tantrum dapat muncul ketika anak mengalami frustrasi. Misalnya, anak ingin mengambil atau melakukan sesuatu tetapi belum mampu melakukannya sendiri. Keterbatasan kemampuan berbahasa juga dapat membuat anak kesulitan menjelaskan keinginannya.

Perubahan rutinitas, larangan dari orang tua, terlalu banyak stimulasi, atau keinginan untuk mendapatkan perhatian juga dapat memicu ledakan emosi.

Jangan Langsung Membentak Anak

Ketika anak tantrum, orang tua sebaiknya berusaha tetap tenang. Membentak atau memarahi anak ketika emosinya sedang memuncak justru dapat membuat situasi semakin sulit dikendalikan.

Orang tua dapat memastikan terlebih dahulu bahwa anak berada di tempat yang aman. Setelah itu, berikan ruang bagi anak untuk menenangkan diri tanpa meninggalkannya dalam kondisi yang berbahaya.

Jika anak mulai lebih tenang, orang tua dapat berbicara menggunakan kalimat sederhana. Misalnya, “Kamu marah karena tidak boleh mengambil mainan itu, ya?” Kalimat seperti ini membantu anak mengenali dan memberi nama pada emosinya.

Ajarkan Anak Mengenali Perasaannya

Salah satu cara menghadapi tantrum dalam jangka panjang adalah membantu anak mengenali berbagai emosi. Orang tua dapat mengajarkan kata-kata seperti marah, sedih, kecewa, takut, atau senang.

Advertisement
Editor : Bhagas Dani Purwoko
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kenapa Kita Suka Menunda Pekerjaan? Ini Pola Pikir di Baliknya

Kenapa Kita Suka Menunda Pekerjaan? Ini Pola Pikir di Baliknya

Menunda pekerjaan menjadi kebiasaan yang sering dialami banyak orang.

Gangguan Bipolar Bukan Sekadar Perubahan Suasana Hati

Gangguan Bipolar Bukan Sekadar Perubahan Suasana Hati

Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara episodik, mulai dari peningkatan energi dan aktivitas yang berlebihan hingga perasaan sedih mendalam, kehilangan minat, dan kelelahan.

Musik Bisa Berpengaruh pada Mood Seseorang, Ini Penjelasannya Menurut Psikologi

Musik Bisa Berpengaruh pada Mood Seseorang, Ini Penjelasannya Menurut Psikologi

Bukan tanpa alasan, musik ternyata dapat berkaitan dengan perubahan suasana hati atau mood seseorang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer