Menurut Psikologi, Penyesalan Masa Lalu Ternyata Cara Otak Membohongi Diri Sendiri!

Bhagas Dani Purwoko • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 23:45 WIB
Stres Kerja.
Stres Kerja.

 3 Poin Inti Psikologi di Balik Penyesalan:

  • Jalan Pintas Emosional (Wish-Based Regret): Penyesalan sering menjadi "jalan pintas" yang menyederhanakan kenyataan; meratapi peluang yang hilang sebenarnya merupakan penyamaran dari keinginan emosional yang terabaikan di masa kini (seperti butuh kebebasan atau waktu pribadi).

  • Mekanisme Kendali Semu: Saat dihadapkan pada kenyataan pahit atau situasi kacau, otak merespons dengan memutar skenario "seandainya saja..." sebagai cara instan untuk mengambil alih kendali dan menghindari rasa takut, kesal, serta duka yang membakar di dalam batin.

  • Benih Pembelajaran (Post-Hoc Insight): Wawasan dan kebijaksanaan hidup hanya bisa didapatkan setelah peristiwa berlalu; penyesalan yang diproses melalui terapi dapat mengubah siklus penyiksaan diri menjadi pemahaman psikologis mendalam untuk melangkah ke masa depan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Penyesalan atas keputusan masa lalu, sebuah emosi kompleks campuran rasa malu, menyalahkan diri, dan kesedihan, sering kali bukan sekadar bentuk duka, melainkan mekanisme perlindungan otak untuk menyederhanakan masalah emosional yang jauh lebih rumit di masa kini.

Banyak orang terjebak memutar ulang skenario "masa lalu" di kepalanya seolah-olah mereka bisa mengubah kenyataan dengan kebijaksanaan yang baru mereka miliki hari ini.

Namun, ilmu psikoterapi mengungkapkan bahwa alih-alih meratapi apa yang sudah terjadi, menggali alasan di balik keputusan masa lalu dengan penuh empati justru menjadi kunci utama untuk memahami kebutuhan emosionalmu yang belum terpenuhi saat ini.

Ketika Otak Menyederhanakan Realitas Lewat Penyesalan

Sebagai seorang terapis, kalimat penyesalan seperti "Seandainya saja aku...", "Seharusnya aku tahu...", atau "Bagaimana mungkin aku..." adalah santapan sehari-hari.

Penyesalan adalah keadaan emosional yang sangat unik, campuran antara rasa malu, menyalahkan diri sendiri, dan kesedihan dengan sedikit sentuhan pemikiran magis.

Baca Juga: Orang yang Sering Tiba-Tiba Ingat Masa Lalu Ternyata sedang Mengatasi Masalah Ini, Menurut Psikologi

Dengan memutar ulang memori masa lalu, seseorang membayangkan skenario yang berbeda seolah-olah mereka memiliki kebijaksanaan hidup yang baru didapat belakangan.

Dalam beberapa situasi khusus, seperti program pemulihan Alcoholics Anonymous, mengakui penyesalan atas perilaku buruk di masa lalu memang diperlukan untuk memfasilitasi perubahan perilaku.

Namun, jika penyesalan itu berubah menjadi obsesi yang mendalam, intens, dan personal, hal tersebut dapat memicu stagnasi emosional yang menyiksa.

Penyesalan yang didasarkan pada keinginan (wish-based regret) kerap menjadi alat untuk menghindari diskusi yang lebih mendalam.

Contohnya, seorang jurnalis yang mendapat nilai D di mata kuliah kimia saat kuliah dulu bisa saja berseru:

"Seandainya dulu aku jadi dokter, aku tidak perlu pusing memikirkan masalah keuangan sekarang!"

Pernyataan ini adalah bentuk penyederhanaan. Pernyataan itu mengabaikan kenyataan penting: Apakah ia benar-benar menyukai ilmu sains sejak awal? Apakah ia sanggup mengorbankan bertahun-tahun hidupnya untuk studi yang tidak sesuai dengan kekuatan kognitifnya? Penyesalan jenis ini hanyalah jalan pintas yang menutup pembahasan tentang kecemasan keuangan yang dihadapinya saat ini.

Kasus Nyata: Mengenang Kebebasan atau Sekadar Butuh Istirahat?

Penyederhanaan situasi masa lalu sering kali menyembunyikan kebutuhan emosional diri yang sedang "teriak" di masa kini.

Mari ambil contoh seorang analis pemasaran berusia akhir 30-an dengan dua anak yang masih kecil.

Saat membaca majalah perjalanan, ia mendadak merasa sangat menyesal karena tidak lebih banyak bepergian keliling dunia di usia 20-an ketika ia masih memiliki banyak kebebasan.

Baca Juga: Kepribadian Seseorang Konon Tercermin dari Gaya Tulisan Tangan Menurut Psikologi, Benarkah?

Ia menyalahkan dirinya sendiri karena melewatkan kesempatan melihat pemandangan alam di Eropa atau Afrika.

Padahal, penyesalan tersebut menyembunyikan dua fakta kompleks:

  1. Terputus dari Realitas Masa Muda: Di tengah kelelahan mengasuh anak, sang ibu lupa bahwa di usia 20-an ia memang tidak memiliki cukup uang atau libur untuk jalan-jalan. Ia juga lupa bahwa investasinya di masa muda pada pekerjaan dan komunitas itulah yang membawanya bertemu pasangan yang penuh kasih saat ini.

  2. Kebutuhan akan Kemandirian: Keinginan bepergian itu sejatinya adalah jeritan batin seorang ibu yang kehilangan waktu pribadi untuk dirinya sendiri (me time).

Daripada terobsesi pada liburan eksotis yang belum terjangkau, solusi psikologisnya adalah memenuhi kebutuhan masa kini secara realistis.

Ia tidak perlu mendaki Pegunungan Alpen besok pagi; cukup dengan menyewa pengasuh anak selama beberapa jam agar ia dan pasangannya bisa menikmati makan malam bersama di restoran terdekat, atau sekadar berjalan-jalan sore tanpa diganggu anak-anak.

Menghadapi Penyesalan Mendalam: Dari Penyelamat Diri Jadi Pelajaran Hidup

Penyesalan yang paling berat biasanya berkaitan dengan keputusan fatal di masa lalu, seperti:

"Dia selingkuh saat kami masih berpacaran, dan aku baru tahu dia sudah berselingkuh selama setahun, mengapa aku menikahinya sejak awal?"

atau,

"Mengapa aku mengabaikan fakta bahwa berat badanku menurun dan menghindari dokter selama beberapa bulan terakhir? Sekarang aku harus menjalani pemeriksaan kanker."

Mengulangi pertanyaan "Mengapa aku bodoh sekali..." secara berulang-ulang sebenarnya adalah reaksi spontan otak untuk menegaskan kendali di tengah situasi yang kacau.

Lebih mudah bagi otak untuk memutar skenario alternatif masa lalu daripada harus langsung menghadapi perasaan takut, kesal, dan duka atas ketidakadilan yang sedang dialami.

Namun, jika kamu terus terjebak dalam lingkaran setan itu, kamu hanya sedang menyiksa dirimu sendiri.

Bagaimana Cara Keluar dari Lingkaran Penyesalan?

Di tengah rasa sakit tersebut, ada kesempatan emas untuk mempelajari sesuatu yang penting tentang dirimu. Melalui proses refleksi yang penuh empati, beberapa kebenaran emosional yang terpendam bisa diungkap:

Baca Juga: Bukan Selalu Sombong, Ini 7 Alasan Psikologis Mengapa Seseorang Sulit Mengucapkan Terima Kasih

(Untuk memahami bagaimana cara kerja emosi penyesalan dan regulasi emosi dalam menjaga kesehatan mental, kamu dapat membaca kajian ilmiah psikologi terverifikasi melalui publikasi American Psychological Association (APA)).

Dalam perjalanan hidup, tidak ada seorang pun yang bisa melihat masa depan. Wawasan dan kebijaksanaan hanya datang setelah semuanya terjadi (post-hoc insight).

Jika penyesalan menghampirimu, itu adalah sinyal bahwa ada hal penting yang tidak sempat kamu hargai pada saat itu. Jadikan penyesalan tersebut sebagai sarana belajar untuk membuat keputusan yang lebih bijak di masa depan! (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
enosional psikologi otak penyesalan masa lalu