RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Ucapan terima kasih sering dianggap sebagai bentuk penghargaan paling sederhana atas bantuan, perhatian, atau kebaikan yang diterima. Meski hanya terdiri dari dua kata, ungkapan tersebut memiliki peran penting dalam membangun hubungan sosial, menumbuhkan rasa saling menghargai, serta memperkuat ikatan antarmanusia.
Namun, tidak semua orang terbiasa mengucapkan terima kasih. Ada individu yang jarang, bahkan hampir tidak pernah, mengungkapkan apresiasi secara verbal meskipun telah menerima bantuan dari orang lain. Perilaku ini kerap diartikan sebagai tanda kesombongan, sikap tidak tahu berterima kasih, atau kurang menghargai orang di sekitarnya.
Dalam kajian psikologi, penjelasannya tidak sesederhana itu. Cara seseorang mengekspresikan rasa syukur dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola asuh, pengalaman hidup, kepribadian, hingga kondisi psikologis yang sedang dialami. Artinya, perilaku tersebut tidak selalu muncul karena niat merendahkan atau mengabaikan orang lain.
Berikut tujuh alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa seseorang sulit mengucapkan terima kasih.
1. Terbiasa Menganggap Bantuan sebagai Sesuatu yang Sewajarnya
Salah satu konsep yang banyak dibahas dalam psikologi adalah psychological entitlement, yaitu kecenderungan merasa berhak memperoleh perlakuan, perhatian, atau bantuan dari orang lain.
Individu dengan tingkat entitlement yang tinggi lebih mudah menganggap bantuan sebagai sesuatu yang memang seharusnya diterima. Karena bantuan dipandang sebagai hal yang wajar, dorongan untuk mengungkapkan rasa terima kasih pun menjadi lebih kecil.
Baca Juga: Orang yang Sulit Membuang Barang Lama Biasanya Memiliki Karakter Ini, Psikologi Punya Penjelasannya
Berbagai penelitian menemukan bahwa tingkat entitlement yang tinggi berkaitan dengan rendahnya rasa syukur serta berkurangnya kecenderungan menghargai kontribusi orang lain. Meski demikian, tingkat entitlement berada pada spektrum yang luas dan tidak berarti setiap orang yang jarang berterima kasih memiliki karakteristik tersebut.
2. Kebiasaan Mengungkapkan Apresiasi Tidak Terbentuk Sejak Kecil
Ucapan terima kasih merupakan salah satu bentuk perilaku sosial yang dipelajari sejak masa kanak-kanak. Anak umumnya belajar melalui contoh yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga, maupun lingkungan sekitar.
Apabila kebiasaan mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih tidak menjadi bagian dari keseharian, kemampuan mengekspresikan apresiasi dapat berkembang lebih lambat. Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin tetap merasakan rasa syukur, tetapi tidak terbiasa mengungkapkannya secara verbal.
Psikolog Robert A. Emmons, yang banyak meneliti mengenai rasa syukur, menjelaskan bahwa kebiasaan mengungkapkan apresiasi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih sepanjang kehidupan.
3. Kurang Menyadari Besarnya Usaha Orang Lain
Mengucapkan terima kasih bukan hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi juga kemampuan mengenali bahwa seseorang telah meluangkan waktu, tenaga, atau sumber daya untuk membantu.
Dalam psikologi sosial, kemampuan ini berkaitan dengan empati dan perspective taking, yaitu kemampuan melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain. Ketika kemampuan tersebut kurang berkembang, seseorang mungkin tidak sepenuhnya menyadari nilai dari bantuan yang diterimanya.
Akibatnya, apresiasi yang seharusnya muncul secara spontan menjadi tidak terungkap, meskipun tidak selalu disertai niat untuk mengabaikan kebaikan orang lain.
4. Merasa Tidak Nyaman karena Harus Mengakui Telah Dibantu
Bagi sebagian individu, menerima bantuan dapat memunculkan perasaan tidak nyaman. Ada yang menganggap bahwa mengakui pertolongan berarti menunjukkan kelemahan, kehilangan kemandirian, atau memiliki utang budi yang harus dibalas.
Pandangan seperti ini dapat membuat seseorang menghindari ungkapan yang mempertegas bahwa dirinya telah menerima bantuan, termasuk mengucapkan terima kasih.
Fenomena tersebut lebih berkaitan dengan keyakinan pribadi mengenai kemandirian dan relasi sosial daripada sekadar persoalan etika.
5. Terlalu Berfokus pada Diri Sendiri
Kesibukan, tekanan hidup, maupun fokus yang berlebihan terhadap tujuan pribadi dapat membuat perhatian terhadap lingkungan sekitar berkurang.
Psikologi mengenal istilah egocentric bias, yaitu kecenderungan melihat suatu situasi terutama dari perspektif diri sendiri. Bias ini tidak selalu menunjukkan sifat egois, tetapi dapat menyebabkan seseorang kurang menyadari kontribusi yang diberikan orang lain.
Dalam situasi seperti itu, ucapan terima kasih bisa saja terlewat karena perhatian lebih banyak tersita pada persoalan yang sedang dihadapi.
6. Memiliki Cara Berbeda dalam Menunjukkan Rasa Syukur
Tidak semua orang mengekspresikan apresiasi melalui kata-kata. Sebagian individu lebih nyaman menunjukkan rasa terima kasih melalui tindakan, seperti memberikan bantuan ketika dibutuhkan, menjaga hubungan baik, atau membalas kebaikan pada kesempatan lain.
Perbedaan cara mengekspresikan rasa syukur banyak dibahas dalam kajian psikologi hubungan interpersonal. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk apresiasi tidak selalu sama pada setiap orang.
Meskipun demikian, dalam konteks sosial, ucapan terima kasih tetap menjadi bentuk komunikasi yang paling mudah dipahami karena memberikan kepastian bahwa bantuan yang diterima benar-benar dihargai.
7. Sedang Mengalami Tekanan Emosional atau Kelelahan Mental
Stres berkepanjangan dapat memengaruhi perhatian, konsentrasi, serta kemampuan seseorang dalam merespons situasi sosial.
Ketika sebagian besar energi mental digunakan untuk menghadapi tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, atau masalah pribadi lainnya, perhatian terhadap hal-hal yang tampak sederhana, termasuk mengungkapkan rasa terima kasih, dapat berkurang.
Kondisi ini tentu bukan pembenaran untuk terus mengabaikan etika sosial. Namun, memahami bahwa tekanan psikologis dapat memengaruhi perilaku membantu melihat fenomena tersebut secara lebih proporsional.
Mengucapkan Terima Kasih Adalah Keterampilan Sosial yang Dapat Dilatih
Dalam bidang psikologi positif, rasa syukur dipandang sebagai salah satu emosi yang berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis dan kualitas hubungan sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang terbiasa mengungkapkan rasa terima kasih cenderung memiliki hubungan interpersonal yang lebih hangat, tingkat kepuasan hidup yang lebih baik, serta ikatan sosial yang lebih kuat.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut bukanlah sifat bawaan yang tidak dapat diubah. Mengucapkan terima kasih merupakan keterampilan sosial yang dapat dipelajari melalui pembiasaan, keteladanan, dan kesadaran untuk menghargai kontribusi orang lain.
Seseorang yang sulit mengucapkan terima kasih tidak selalu dapat disimpulkan sebagai pribadi yang sombong atau tidak memiliki rasa syukur. Di balik perilaku tersebut bisa terdapat berbagai faktor psikologis yang saling berkaitan.
Memahami kemungkinan penyebabnya bukan berarti membenarkan perilaku yang kurang menghargai orang lain, melainkan mengingatkan bahwa perilaku manusia sering kali dipengaruhi oleh proses psikologis yang lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.
Editor : Hakam Alghivari