Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

7 Pola Asuh yang Dapat Membuat Anak Takut Gagal dan Ragu Mencoba Saat Dewasa

Hakam Alghivari • Kamis, 18 Juni 2026 | 13:27 WIB
Ilustrasi anak kebingungan dan ragu. (MAGNIFIC)
Ilustrasi anak kebingungan dan ragu. (MAGNIFIC)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak semua ketakutan muncul begitu saja ketika seseorang beranjak dewasa. Sebagian di antaranya terbentuk perlahan sejak masa kanak-kanak melalui pengalaman sehari-hari, termasuk cara anak menerima pujian, menghadapi kesalahan, dan berinteraksi dengan orang tua.

Ketika dewasa, ketakutan tersebut sering muncul dalam bentuk yang lebih halus. Ada orang yang selalu menunda mengambil peluang baru, enggan mengungkapkan pendapat, atau memilih tetap berada di zona nyaman meski sebenarnya memiliki kemampuan untuk berkembang. Dari luar, perilaku ini mungkin terlihat seperti kurang percaya diri atau tidak berani mengambil risiko. Namun dalam banyak kasus, akar masalahnya jauh lebih kompleks.

Baca Juga: Ketakutan akan Penolakan Sering Kali Lebih Berpengaruh daripada yang Kita Sadari

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola asuh dapat memengaruhi cara anak memandang kegagalan, tantangan, dan kemampuan dirinya sendiri. Tanpa disadari, beberapa pola pengasuhan yang bertujuan baik justru dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih takut melakukan kesalahan.

1. Terlalu Sering Mengkritik Kesalahan Anak

Setiap anak membutuhkan bimbingan ketika melakukan kesalahan. Namun ketika kritik diberikan terlalu sering, terlalu keras, atau hanya berfokus pada kekurangan, anak dapat mulai mengaitkan kesalahan dengan rasa malu.

Lama-kelamaan mereka belajar bahwa melakukan sesuatu yang baru berarti membuka peluang untuk dikritik. Akibatnya, anak menjadi lebih berhati-hati dan cenderung menghindari situasi yang berpotensi membuatnya gagal.

Saat dewasa, pola ini dapat muncul dalam bentuk keraguan berlebihan sebelum mengambil keputusan atau mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan.

Baca Juga: Orang yang Terlihat Santai dan Tidak Ambisius Belum Tentu Tidak Punya Tujuan Hidup, Ini Penjelasan Psikologinya

2. Terlalu Menekankan Hasil daripada Proses

Banyak orang tua ingin memotivasi anak agar berprestasi. Namun ketika perhatian hanya diberikan pada hasil akhir, anak dapat belajar bahwa nilai dirinya ditentukan oleh keberhasilan semata.

Mereka merasa dihargai ketika berhasil dan merasa kurang berarti ketika gagal. Akibatnya, kegagalan bukan lagi bagian dari proses belajar, melainkan sesuatu yang harus dihindari.

Psikologi menyebut pola ini dapat membuat seseorang lebih takut mengambil tantangan karena fokusnya tertuju pada kemungkinan gagal, bukan pada kesempatan untuk berkembang.

3. Sering Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Perbandingan sering dilakukan dengan tujuan memotivasi. Sayangnya, dampaknya tidak selalu seperti yang diharapkan.

Ketika anak terus-menerus dibandingkan dengan saudara, teman, atau anak lain yang dianggap lebih baik, mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya selalu kurang dari orang lain.

Alih-alih termotivasi, sebagian anak justru menjadi takut mencoba karena khawatir hasilnya tidak cukup baik untuk memenuhi harapan yang ada.

Baca Juga: Kebiasaan Orang Jadul yang Dulu Dianggap Biasa, Ternyata Membantu Rumah Tetap Adem Saat Musim Kemarau

4. Tidak Memberi Kesempatan Anak Mengambil Keputusan Sendiri

Belajar mengambil keputusan merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis.

Ketika semua pilihan selalu ditentukan oleh orang tua, anak kehilangan kesempatan untuk melatih kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri. Mereka menjadi terbiasa bergantung pada arahan dan validasi dari luar.

Saat dewasa, kondisi ini dapat membuat seseorang lebih sulit mengambil keputusan penting karena takut salah atau takut menanggung konsekuensi dari pilihannya.

Baca Juga: 7 Sikap yang Membuat Calon Mertua Lebih Mudah Menaruh Kepercayaan kepada Anda

5. Menganggap Kesalahan sebagai Sesuatu yang Memalukan

Dalam beberapa keluarga, kesalahan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara.

Anak mungkin dimarahi, dipermalukan, atau dibuat merasa bersalah setiap kali melakukan kekeliruan. Akibatnya, mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa kesalahan adalah bukti ketidakmampuan.

Padahal psikologi perkembangan menegaskan bahwa kesalahan merupakan bagian alami dari proses belajar dan pertumbuhan.

Ketika anak tidak memiliki ruang untuk gagal, mereka juga kehilangan ruang untuk berkembang.

6. Terlalu Melindungi Anak dari Tantangan

Keinginan melindungi anak adalah hal yang wajar. Namun perlindungan yang berlebihan dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan.

Anak yang selalu dijauhkan dari risiko mungkin tidak pernah merasakan bagaimana bangkit setelah gagal, menyelesaikan masalah sendiri, atau menghadapi ketidakpastian.

Ketika dewasa, mereka bisa merasa kurang siap menghadapi tantangan karena tidak memiliki cukup pengalaman untuk membuktikan bahwa dirinya mampu melewati situasi sulit.

Baca Juga: Kebiasaan Mengecek Jam Berkali-Kali Saat Menunggu Seseorang Menurut Psikologi

7. Membuat Anak Merasa Diterima Hanya Saat Berprestasi

Salah satu kebutuhan paling mendasar bagi anak adalah merasa diterima dan dicintai tanpa syarat.

Ketika kasih sayang atau penghargaan lebih sering diberikan saat anak berhasil memenuhi harapan tertentu, mereka dapat menangkap pesan bahwa penerimaan harus diperoleh melalui pencapaian.

Akibatnya, kegagalan terasa bukan sekadar hasil yang tidak sesuai harapan, tetapi juga ancaman terhadap rasa diterima dan dihargai.

Pola ini sering terbawa hingga dewasa dalam bentuk perfeksionisme, ketakutan gagal, dan kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Baca Juga: Kepribadian Seseorang Ternyata Bisa Terlihat dari Jenis Mobil yang Disukainya

Tidak ada orang tua yang sempurna, dan tidak semua anak yang mengalami pola asuh tertentu akan tumbuh dengan ketakutan yang sama. Perkembangan manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari lingkungan, pengalaman hidup, hingga hubungan sosial yang dijalani sepanjang hidupnya.

Meski demikian, psikologi menunjukkan bahwa cara anak belajar memaknai kesalahan sejak dini dapat memengaruhi keberaniannya menghadapi tantangan di masa depan. Karena itu, membantu anak memahami bahwa gagal adalah bagian dari proses belajar mungkin menjadi salah satu bekal terpenting yang dapat diberikan orang tua. Bukan agar mereka selalu berhasil, melainkan agar mereka tetap berani mencoba ketika keberhasilan belum tentu datang pada percobaan pertama.

Editor : Hakam Alghivari
#takut gagal #anak #dewasa #ragu #pola asuh