Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sering Merasa Inkompeten Saat Bekerja? Sains dan Filsafat Ungkap Alasan Mengapa Kita Semua Sebenarnya Cuma Berpura-pura!

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 1 Juni 2026 | 18:16 WIB
IMPOSTER SYNDROME: Pahami tanda-tanda imposter syndrome.
IMPOSTER SYNDROME: Pahami tanda-tanda imposter syndrome.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di era modern ini, kita hidup dalam dunia spesialisasi di mana kita sangat bergantung pada pakar, mulai dari ahli parenting, penasihat keuangan, hingga dokter.

Namun ironisnya, dilansir dari laman Psychology Today, tingginya kebutuhan kita terhadap figur otoritas tersebut justru diiringi oleh krisis kepercayaan yang sama besarnya.

Fakta utamanya: disonansi ini berakar dari Imposter Syndrome (Sindrom Penipu) yang ada di dalam diri kita sendiri.

Karena kita diam-diam sadar bahwa kita sering kali "berpura-pura" mampu saat menjalani peran kedewasaan, kita pun curiga bahwa para ahli di luar sana juga hanya melakukan sandiwara yang sama.

Solusi dari krisis ini ternyata bukan dengan lari dari perasaan palsu tersebut, melainkan dengan menerima bahwa hidup memang sebuah "permainan peran" dan kamu hanya perlu memainkannya secara meyakinkan.

Masa Dewasa: Sekadar Permainan Anak-Anak yang Dilabeli 'Bisnis'

Kegelisahan tentang kepura-puraan ini sebenarnya bukan barang baru. Saat membaca ulang Pengakuan (Confessions), sebuah otobiografi intelektual karya Santo Agustinus yang ditulis 1500 tahun lalu, kita akan menemukan pandangan yang sangat relevan hingga hari ini.

Baca Juga: Fenomena 'Detachment Syndrome': Ketika Tubuh Hadir Tapi Pikiran Melayang Jauh

Sebagai uskup Katolik yang menjadi salah satu otoritas terkemuka di zamannya, Agustinus meneliti kehidupannya dan menemukan kesamaan unik antara aspirasi orang dewasa dengan permainan masa kanak-kanak.

Mengutip filsuf Romawi Seneca, "hiburan orang dewasa disebut bisnis", Agustinus menyoroti betapa miripnya pekerjaan serius orang dewasa dengan kesenangan anak-anak.

Anak-anak menganggap serius permainan mereka dan akan sangat marah jika kamu menginterupsi atau meremehkannya dengan berkata, "itu cuma permainan". Bagi mereka, ucapan itu bukan hanya tidak membantu, tapi juga sangat menyinggung.

Akar Imposter Syndrome: Gagal Mengakui Kepura-puraan

Filsuf Plotinus pernah menyinggung bahwa "Semua urusan manusia adalah permainan anak-anak". Tuntutan agar kita dihormati, didengarkan, dan dianggap serius di dunia profesional sebenarnya adalah indikator kuat bahwa kita sedang berakting.

Jauh di lubuk hati, kamu tahu bahwa kamu tidak tahu segalanya, dan kamu bukanlah figur otoritas absolut seperti yang kamu tampilkan kepada dunia.

Masalahnya muncul ketika kepura-puraan itu gagal berfungsi. Mengapa? Karena selama kamu menolak mengakui bahwa kamu hanya sedang bermain peran, kamu menutup kemungkinan untuk memainkannya dengan baik.

Baca Juga: Fenomena Imposter Syndrome pada Perempuan Profesional: Mengapa Merasa Tidak Cukup Meski Berprestasi?

Kamu menyimpan ketakutan rahasia bahwa suatu saat, semua orang akan mengetahui kedokmu. Kamu akhirnya terpaku pada kekuranganmu sendiri, lupa bahwa peran ideal yang kamu kejar itu pada dasarnya hanyalah sebuah fiksi.

Tambahan Fakta Psikologis: Dalam ilmu psikologi modern, kondisi ini sejalan dengan definisi resmi American Psychological Association (APA) terkait Imposter Phenomenon, di mana individu berprestasi merasa kewalahan oleh keraguan diri dan merasa seperti "penipu", meskipun ada bukti objektif atas kompetensi mereka.

Dari sinilah krisis otoritas merajalela. Karena kamu tidak bisa memercayai dirimu sendiri, kamu menjadi waspada terhadap orang lain.

Logikanya sederhana: "Jika aku saja tidak tahu apa yang sedang kulakukan dan hanya berpura-pura, bagaimana aku bisa yakin kalau para ahli di luar sana tidak berbuat hal yang sama?"

Solusi Eksistensialis: Pura-puralah Sampai Kamu Benar-Benar Menjadinya

Lalu, bagaimana kita memecahkan krisis kepercayaan ini? Para pemikir eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus menawarkan pendekatan yang sangat pragmatis: satu-satunya cara untuk menjadi sesuatu adalah dengan berpura-pura menjadi sesuatu itu.

Dalam karya fenomenalnya, Being and Nothingness, Sartre menegaskan bahwa kamu tidak akan pernah mencapai tujuanmu jika kamu tidak bertindak seolah-olah kamu sudah mencapainya.

Katakanlah kamu ingin menjadi penulis kelas dunia, tetapi kamu sadar kamu belum menghasilkan buku hebat apa pun.

sBaca Juga: Mom, Si Kecil Anak Tengah Sering Murung? Yuk, Waspadai Middle-Child Syndrome!

Sartre menyarankan: "Saya harus mulai dengan memainkan peran. Saya harus memperlakukan diri saya seolah-olah saya seorang penulis jika saya ingin menjadi seorang penulis. Saya harus menyisihkan waktu setiap hari untuk mengerjakan novel saya. Saya harus bersikap seperti penulis profesional, membaca hal-hal yang dibaca penulis... dan menemukan minat pada hal-hal yang menarik bagi penulis."

Sepanjang proses itu, kamu mungkin akan diserang kesadaran bahwa kamu hanyalah penipu yang mencoba menjadi sosok lain. Tidak masalah! Terimalah perasaan itu, tetapi jangan biarkan hal itu menghentikan sandiwaramu.

Pada akhirnya, kamu akan menyadari bahwa semua orang yang kamu kagumi juga sedang memainkan peran mereka masing-masing.

Tidak ada standar idealisme Platonis yang mutlak. Kita semua hanyalah seorang "penipu". Kuncinya adalah menyamar dengan elegan, lalu memainkan peranmu dengan tingkat penguasaan dan intensitas yang begitu tinggi, sehingga tanpa sadar, kamu telah menjadi persis seperti apa yang kamu pura-purakan. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#kedewasaan #filsuf #imposter syndrome #pakar #pura-pura