Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Orang yang Terlalu Sering Bilang “Terserah” Biasanya Menyimpan Hal Ini, Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Jumat, 29 Mei 2026 | 20:30 WIB
Ilustrasi perempuan bahagia.
Ilustrasi perempuan bahagia.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kata “terserah” sering terdengar sederhana dalam percakapan sehari-hari. Namun dalam banyak situasi, jawaban ini ternyata tidak selalu berarti seseorang benar-benar bebas memilih atau tidak peduli terhadap keadaan.

Dalam psikologi, orang yang terlalu sering mengatakan “terserah” justru terkadang sedang menyimpan kelelahan emosional, rasa kecewa, atau kesulitan mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Fenomena ini cukup sering terjadi dalam hubungan pertemanan, keluarga, hingga percintaan. Ada orang yang memilih diam dan menjawab “terserah” bukan karena tidak punya pendapat, melainkan karena merasa lelah menjelaskan diri, takut memicu konflik, atau terbiasa mengalah demi menjaga suasana tetap tenang.

Baca Juga: Kenapa Seseorang Sering Membatalkan Rencana Mendadak? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi

Menariknya, kebiasaan ini juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang mulai kehilangan energi emosional dalam sebuah hubungan atau lingkungan sosial. Mereka perlahan merasa percuma menyampaikan keinginan karena merasa tidak benar-benar didengar, dipahami, atau dihargai.

Karena itu, psikologi melihat kata “terserah” bukan sekadar respons biasa. Dalam beberapa kondisi, jawaban ini justru bisa menjadi bentuk kelelahan mental yang tersembunyi.

Berikut beberapa hal yang sering disimpan oleh orang yang terlalu sering mengatakan “terserah” dalam kehidupan sehari-hari.

1. Lelah Menjelaskan Apa yang Dirasakan

Sebagian orang sebenarnya memiliki banyak hal yang ingin disampaikan. Namun karena terlalu sering merasa tidak dipahami, mereka akhirnya memilih berhenti menjelaskan.

Daripada harus mengulang pendapat atau berdebat panjang, mereka merasa lebih mudah mengatakan “terserah” dan mengikuti situasi yang ada.

Baca Juga: 7 Warna Kamar Tidur yang Dipercaya Bisa Membuat Tidur Lebih Cepat, Menurut Psikologi Warna

Dalam psikologi komunikasi, kondisi ini sering muncul ketika seseorang merasa emosinya tidak mendapatkan respons yang cukup dari lingkungan sekitar.

2. Takut Menimbulkan Konflik

Ada orang yang sangat tidak nyaman dengan pertengkaran atau suasana tegang. Karena itu, mereka lebih memilih mengalah dan menekan keinginannya sendiri demi menjaga hubungan tetap tenang.

Akibatnya, kata “terserah” menjadi cara aman untuk menghindari konflik, meski sebenarnya ada rasa tidak nyaman yang sedang dipendam.

Kebiasaan ini cukup umum terjadi pada orang yang terbiasa menjadi people pleaser atau terlalu memprioritaskan kenyamanan orang lain.

3. Merasa Pendapatnya Tidak Terlalu Didengar

Seseorang yang terlalu sering diabaikan dalam percakapan perlahan bisa kehilangan semangat untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.

Baca Juga: Kenapa Rumah yang Terlalu Penuh Membuat Pikiran Cepat Lelah? Ternyata Ada Penjelasan Psikologinya

Mereka mulai merasa bahwa apa pun yang dikatakan tidak akan terlalu mengubah keadaan. Akibatnya, jawaban seperti “terserah”, “bebas”, atau “ikut aja” menjadi respons yang paling sering muncul.

Padahal di balik sikap tersebut, ada rasa kecewa kecil yang terus menumpuk secara perlahan.

4. Kelelahan Mengambil Keputusan

Dalam kehidupan modern, otak manusia menerima begitu banyak pilihan dan tekanan setiap hari. Mulai dari pekerjaan, komunikasi, media sosial, hingga urusan pribadi dapat membuat seseorang mengalami kelelahan mental saat harus terus mengambil keputusan.

Karena itu, sebagian orang memilih mengatakan “terserah” bukan karena tidak peduli, tetapi karena pikirannya sudah terlalu lelah untuk memikirkan pilihan tambahan.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak membuat keputusan.

5. Menyembunyikan Rasa Kecewa

Kadang kata “terserah” sebenarnya bukan tanda pasrah, tetapi bentuk kekecewaan yang tidak diungkapkan secara langsung.

Seseorang mungkin merasa sedih, tidak dihargai, atau kecewa terhadap situasi tertentu, tetapi memilih menyembunyikannya agar tidak terlihat terlalu emosional.

Akibatnya, jawaban singkat seperti “terserah” menjadi bentuk perlindungan diri agar tidak perlu menjelaskan perasaan yang lebih dalam.

6. Terbiasa Mengalah dalam Hubungan

Orang yang terlalu sering mengalah biasanya mulai terbiasa mengikuti keputusan orang lain. Lama-kelamaan mereka kehilangan kebiasaan untuk menyampaikan apa yang sebenarnya diinginkan.

Mereka merasa lebih aman mengikuti pilihan orang lain dibanding harus memperjuangkan pendapat sendiri.

Padahal jika dilakukan terus-menerus, kondisi ini dapat membuat seseorang merasa lelah dan kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

7. Tidak Ingin Terlihat Merepotkan Orang Lain

Sebagian orang terlalu takut dianggap sulit, terlalu banyak maunya, atau merepotkan lingkungan sekitarnya. Karena itu, mereka lebih memilih mengatakan “terserah” agar terlihat mudah diajak bekerja sama.

Namun di balik sikap tersebut, sering kali ada kebutuhan emosional yang sebenarnya juga ingin didengar dan dihargai.

Psikologi menjelaskan bahwa kebutuhan untuk diterima secara sosial terkadang membuat seseorang menekan keinginannya sendiri terlalu lama.

Pada akhirnya, kata “terserah” tidak selalu berarti seseorang benar-benar tidak peduli. Dalam banyak kasus, jawaban tersebut justru bisa menjadi tanda kelelahan emosional, rasa kecewa, atau kebiasaan terlalu sering mengalah dalam hubungan sosial. Karena itu, memahami respons kecil seperti ini dapat membantu seseorang lebih peka terhadap kondisi emosional dirinya maupun orang lain. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #psikologi #kebiasaan #kepribadian #Terserah