RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Motor hingga kereta kelinci ramai lalu-lalang di jalan raya wilayah Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan. Tepatnya di sentra makanan dan minuman pujasera Waduk Sonorejo. Salah satu objek wisata yang digadang sebagai wisata desa. Jujugan baru warga Bojonegoro,Blora hingga Ngawi. Bahkan, Yogyakarta.
Eka Mellinia warga Kecamatan Sumberrejo mengaku pertama kali berkunjung ke Waduk Sonorejo. Kesan pertama bagus tapi masih ada sampah. "Tapi, enggak sebanyak tempat wisata lainnya. Bahkan, makanan dan minumannya cukup ekonomis terjangkau di kantong. Dekat waduk masih tergolong agak bersih," tutur dia.
Menurut dia, lokasi ini bisa jadi rekomendasi wisata lokal Kota Ledre ini. Meski tetap perlu perbaikan atau inovasi lainnya. Misal wahana air dari perahu dan bebek pancal bisa ditambah sepeda pancal air. "Apalagi kalau weekend mesti bisa makin banyak pengunjung," kata dia.
Kepala Desa (Kades) Sonorejo, Kecamatan Padangan Sundoko menyampaikan, wisata yang digadang sebagai ikon desa wisata ini sudah direncanakan atau mulai digarap sejak 2023. "Proposal masuk di desa 2020. Setelah saya menjabat di akhir 2019," kata dia saat ditemui di salah satu kafe Waduk Sonorejo, Sabtu (9/5) malam.
Baca Juga: Padangan Bojonegoro Jadi Pilihan Mengisi Liburan: Paket Wisata Kota Tua, Waduk, dan Pasar Seni
Dia menceritakan, awal mula viralnya Waduk Sonorejo karena naiknya unggahan tentang Pecel Pincuk Waduk Sonorejo. Banyak beredar di media sosial (medsos). "Pembangunan awal kami di TWS atau Taman Waduk Sonorejo, kemudian AWS atau Angkringan Waduk Sonorejo," kata dia.
Kemudian, lanjut dia, berencana membuat ikon dengan tajuk Pesona Sonorejo. Namun, aku dia, karena berdiri di lahan Solo Valley membuat bangunan masih semi permanen. Baik kafe atau warung setempat. "Karena masih PKS (perjanjian kerja sama) dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai)," bebernya.
Namun, Sundoko menambahkan, di sela PKS itu tetap bisa memaksimalkan potensi yang ada. Waduk Sonorejo terbuka untuk camping maupun outbond. "Kalau Sabtu-Minggu itu bisa ribuan pengunjung. Banyak dari Cepu, Blora karena jarak sekitar 4 KM. Ada juga dari Ngawi dan Yogyakarta," jelas dia.
Sunoko menambahkan, untuk memaksimalkan dan memberdayakan ekonomi warga sekitar, sewa tempat dibilang cukup ekonomis. Untuk bangunan dipatok Rp 1-Rp1,5 juta per bulan. Jika lapak atau penjual seperti pedagang pentol atau siomay dan lainnya ditarik sekitar Rp 3.000-5000 per hari. "Tidak ada sewa lahan," pungkas Sundoko. (yna/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana